Era baru febdian.net

Semenjak menikah 11 November 2007 yang silam, hanya satu kali saya menulis di blog saya sendiri. Semenjak itu febdian.net idle, saya tenggelam dengan aktivitas baru. Tentu saja saya ketinggalan banyak sekali tentang dunia blog dan teknologinya. Drupal yang saya pakai untuk situs utama febdian.net sudah ketinggalan zaman, spam di mana-mana, dan begitu juga dengan subdomain diary.febdian.net. Pada akhirnya, febdian.net kehilangan banyak pelanggan.

Saya ingin segera kembali menghidupkan febdian.net. Menulis dan bercerita tidak lagi hanya sebuah hobi yang menyenangkan, namun juga memberikan kepuasan dan kebahagiaan. Pekerjaan baru sebagai seorang dosen Fisika memberikan saya banyak pengalaman-pengalaman baru yang saya pikir layak untuk ditulis dan didiskusikan. So, I have to start blogging right away and it is the time!

Untuk menyesuaikan diri dengan teknologi terbaru blogging dan tidak terlalu ambil pusing dengan permasalahan teknis yang sudah ada, saya putuskan memulai secara revolusi era baru febdian.net. Konsep febdian.net yang semula “berbagi menulis dengan teman-teman” saya ganti murni sebagai sebuah “catatan pinggir seorang dosen fisika”. Memanfaatkan resource yang ada, saya memilih diary.febdian.net untuk menjadi situs blog saya. “Fisika dan sains” tetap menjadi menu utama, dengan tambahan menu “pendidikan” dan “pengalaman profesi”. Pemakaian Bahasa Indonesia yang baik dan benar juga tetap diperhatikan.

Tulisan-tulisan saya di febdian.net yang lama secara pelan-pelan akan dipindahkan ke sini. Tulisan yang lain serta komentar-komentar saya tinggalkan di http://febdian.net/drupal (untuk sementara saya off-kan dulu) yang segera akan saya set “read-only”.

Lalu, kemana halaman utama febdian.net? Rencana ke depan, halaman utama akan menjadi situs keluarga saya, konsep dan perangkatnya sedang dipikirkan. Situs-situs lain juga akan dikembangkan, seperti situs middle-earth.febdian.net yang ternyata cukup banyak dikunjungi oleh para Tolkien-mania di Indonesia dan juga situs e-learning course.febdian.net untuk para mahasiswa saya. Sementara istri saya sudah mulai menulis diira.febdian.net.

Terima kasih khusus kepada Henhen yang sudah banyak saya repotkan perihal teknis dan tetek-bengek febdian.net.

At the end, knowledge and information is for everybody, so let’s share it!

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

31 thoughts on “Era baru febdian.net”

  1. assalamu’alaikum wr. wb. mohon saran dan bantuan mengenai metode mr ( makhmud rudiyanto ) : metode untuk menghentikan / menundukkan / mengatasi melubernya luapan lumpur lapindo, gunung berapi dan fenomena semacamnya. terima kasih. wasaalamu’alaikum wr. wb.

  2. Bung Febdian, sudah lama saya mengikuti blog anda. Artikel2nya sangat menarik. Kebetulan juga saya lulusan fisika juga, tepatnya geofisika.

  3. Tugas akhir saya dulu tentang pemetaan akuifer (resevoir)air bawah-tanah di wilayah kampus saya, UI Depok.

    Saya org geofisika tapi sangat-sangat tertarik sekali dengan perkembangan bidang fisika murni, material dan nuklir. Sampai sempat suka sekali dengan mata kuliah pendahuluan mekanika kuantum. Penjelasan dosenku sangat lugas dan fisis banget. Aku ancungi jempol buat beliau karena memaparkan hampir seluruh persamaan matematis fisika quantum dengan penjelasan logis.

    Ketertarikan saya semakin besar semenjak saya bergabung di perusahaan pengembang software pendidikan Indonesia,PT Pesona Edukasi. Saya sebagai skript writer di sini.

    Makin banyak hal tentang fisika yg saya semakin paham karena tiap hari kerjaannya browsing untuk mencari bahan dan referensi teori-teori yg dperlukan.

    Sebetulnya, ada hal yg saya ingin tanyakan seputar teori Relativitas, terutama tentang paradoks kembar. Apakah saya bisa menyakannya di sini?

    Wassalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh…

  4. Ada sebuah riset yang mungkin Bung Taufik sangat tertarik, yaitu menangkap partikel neutrino yang berasal dari bumi (geo-neutrino). Selama ini, kita bergantung pada foton untuk mengetahui isi perut bumi. Tapi ada kendala utama, yaitu foton sangat mudah berinteraksi dengan materi sehingga informasi yang dibawa foton itu sedikit banyak sudah terdistorsi. Nah, neutrino nyaris tidak berinteraksi dengan materi sehingga kalau dapat kita tangkap maka kita akan menerima informasi perut Bumi dengan utuh.

    Motivasi riset ini adalah untuk benar-benar mendapat “peta” perut Bumi yang valid — mungkin terkait membuat model pergerakan magma kali ya, biar bisa memprediksi gempa, hehe.

  5. Wah informasi yg bagus sekali. Terima ksh atas infonya. Oh, ya Paradoks kembar… Saya masih terperangkap dgn paradoks tsb. Klo tdk salah begini, A dan B adlh saudara kembar (yg pasti umurnya sama). Ketika A terbang meninggalkan bumi dan pulang dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya maka A dikatakan lebih muda daripada B ketika ia sampai di bumi. Yg membingungkan saya adalah mengapa tidak terjadi sebaliknya, yaitu B lebih muda daripada A?? Bukankah A melihat B juga bergerak relatif tehadapnya dengan kecepatan yg sama??

    Memang saya mendapatkan jawaban yg pernah saya baca dari beberapa sumber menjelaskan penyebabnya karena pesawat B bukan merupakan kerangka acuan inersia. Yg membingungkan saya adalah darimana kedua pengamat (A dan B)tahu bahwa kerangka acuan B lah yg merupakan kerangka acuan inersia? Sedangkan faktanya, dua2nya saling melihat bahwa masing2 dirinyalah yg ditinggalkan oleh saudara kembarnya?

    Pertanyaan kedua (hehehe jadi panjang neh)..

    Bagaimana jika situasi di atas diganti dengan situasi di dalam Lab. Anggap saja bhwa dapat diciptakan alat pemutar dengan keceptan rotasi tinggi (mendekati kecapatan cahaya)di dalam lab yg dapat memutar saudara kembar A. Sedangkan B mengamati di luar alat tersebut. Pertanyaannya adalah apakah kejadiannya juga persis sprti di atas (bahwa A lebih muda darpd B)?

    Pertanyaan ke-3
    Apakah mungkin suatu benda dapat di percepat sama dengan kecepatan cahaya? Apa implikasinya? Apakah benda tsb akan menghilang jika hal tsb dapat terjadi karena ukurannya semakin kecil ketika kecepatan ditambah?

    Pertanyaan-4
    Pada situasi bagaimana suatu benda bermassa dapat menjadi energi sesuai E=Mc2 (klo gk salah namanya anihilasi, maaf klo salah hehehe)? Apakah benda tsb harus dipercepat dulu sampai dengan kecepatan cahaya agar hal tsb dapat terjadi?

    Maaf Bung Febdian klo pertanyaannya banyak…maklum. Pertanyaan terpendam..

  6. Pertanyaan 1 dan 2

    Mengenai paradoks si kembar (the twin paradox), memang benar jawaban si buku: karena yang menjadi kerangka acuan diam (rest-frame) adalah di Bumi. Dari mana A dan B tahu? Dari perjanjian mereka, yang mana yang rest-frame yang mana yang co-moving frame.

    Yang jelas, apapun pilihan rest-frame kita, nilai kelajuan cahaya tidak berubah (invariant). Dengan demikian, apapun pilihan rest-frame kita, rasio perbandingan kelajuan si orang terhadap cahaya tidak akan berubah.

    Kesimpulannya: siapa yang bergerak dengan kelajuan mendekati cahaya (disebut kasus relativistik), maka rest-frame melihat dia mengalami dilatasi waktu dan kontraksi panjang (berlaku untuk pertanyaan no. 2).

    Pertanyaan 3

    Hanya mereka yang tidak memiliki massa yang dapat bergerak dengan kelajuan cahaya. Massa adalah objek relativitas, dia berubah seiring berubahnya kelajuan sebuah benda. Massa benda yang sedang bergerak secara relativistik disebut “massa efektif”, sedangkan massa benda yang sedang diam (atau bergerak non-relativistik) disebut “massa diam” $m_0$. Hubungannya adalah

    $m = \gamma\, m_0$

    di mana [tex]\gamma[\text] adalah koefisien relativistik, nilainya 1 untuk kasus nonrelativistik dan besar dari 1 untuk relativistik.

    Jadi, semakin kita percepat sebuah partikel bermassa, semakin besar massanya, sehingga semakin sukar untuk dipercepat (ingat, massa ~ kecenderungan untuk lembam/malas bergerak).

    Pertanyaan 4
    $E = m\, c^2$ adalah energi total yang dikandung sebuah partikel bermassa efektif m; jadi di dalamnya sudah ada energi kinetik (K) dan energi diam partikel,

    $m\, c^2 = K + m_0\, c^2\;.$

    Jadi, semua benda memiliki energi sebesar itu. Untuk kasus nonrelativistik, dapat dibuktikan nantinya bahwa

    $K = \frac{1}{2}\: m_0\, v^2\;.$

    Proses anihilasi adalah reaksi antara partikel dan antipartikelnya sehingga menghasilkan radiasi elektromagnetik (cahaya). Misalnya elektron dan positron bertemu, maka menghasilkan cahaya. Lawannya adalah proses kreasi, di mana seberkas cahaya berenergi tinggi berubah menjadi elektron dan positron.

    Semoga bermanfaat.

  7. Terima kasih atas penjelasan anda yg cukup jelas. Gerak relativitas menurut TRK membuat konsekuensi perubahan parameter(seperti waktu, panjang, dan massa) yg tadinya dipikir oleh orang adalah mutlak ternyata sebaliknya.

    Konsep time dilation bisa saya mengerti karena ada eksperimen yg menjelaskannya, seperti peluruhan pi meson menjadi muon (klo gk salah, harap koreksi klo salah). Di situ terlihat adanya perbedaan waktu paruh jika ditinjau dari frame yg berbeda. Namun, saya belum mendapatkan informasi mengenai perubahan 2 parameter yg lain, yaitu panjang dan massa. Bagaimana perubahan kedua hal tersebut dapat diamati oleh pengamat pada rest frame mengingat kecepatan relativitik sangat tinggi?

    Terima kasih atas kesediaan Bung Febdian untuk menjawabnya.

    Wassalam

  8. Misalkan kita yang sedang bergerak dengan kelajuan relativistik, sementara ada orang di Bumi diam. Jika kita ambil diri kita sebagai rest-frame, maka tentu kita melihat orang di Bumi yang bergerak relativistik. Jadi, kita melihat orang tersebut mengalami dilatasi waktu dan kontraksi panjang.

  9. Lalu, bagaimanakah cara membuktikan bahwa ada kontraksi panjang dan penambahan massa secara eksperimental jika benda bergerak dengan kecepatan relativistik?

  10. Membuktikan secara matematis sih pasti bisa… tapi membuktikan secara eksperimental itu yang sulit. Belum ada teknologi yang memungkinkan kita berkenderaan dengan kelajuan cahaya… hehehe.

  11. Ass Wr Wb

    Waduh ternyata pengantin baru tho….dari wajah kalian…cocok satu sama lain

    Oh ya dimana alamat tempat mengajarnya dik

    Wassalam wr wb

    arief Prabowo

  12. Halo Bang Arif, hahaha… wajah cocok itu bagaimana maksudnya?

    Kampus saya di Unair kampus C, Mulyorejo, dekat mall Galaxy, sekitar 10 menit dari ITS. Kapan mau ngumpul-ngumpul lagi nich?

  13. Assalamu’alaikum..

    Syukurlah websitenya sudah online lagi. Sudah sejak satu setengah tahun lalu bookmark website sampeyan ini dan memang kemudian sejak setahun lalu vakum, pasca merit πŸ™‚

    Perkenalkan, nama saya Arif, wong Mojokerto tinggal di Bali. Sama sekali tidak mengerti dan sempat benci Fisika waktu sekolah, namun menjadi sangat senang membaca artikel2 sampeyan mengenai fisika dan universe ini πŸ™‚

    Syukron..

  14. Haha… hatur nuhun Cak Arif. Di Bali kerja di mana? Jangan-jangan dosen fisika juga hahaha…

    Karena masih sibuk dengan kesibukan perkuliahan, pemindahan artikel dari alamat lama ke yang baru masih tersendat…

  15. assalamu’alaikum, uda…
    boleh gabung gak..?
    saya mahasiswa kimia universitas negeri padang. saya tertarik dengan kimia fisika, tapi saya mempunyai pengalaman buruk dengan fisika.
    mohon bantuannya uda…

  16. Assalaamu’alaikum Yung…

    Apa kabarnya? Senang bisa ketemu lagi, walau cuma lewat websitemu πŸ™‚

    Membaca deskripsimu di http://diary.febdian.net/tentang-febdian-rusydi/, terutama pada bagian “Kedua orang tua saya guru, nenek-kakek saya juga guru, menurut teori DNA menurunkan bakat guru kepada saya”, jadi tergelitik buat ngajak diskusi, hitung2 sebagai obat kangen.

    Bagaimana menentukannya, bahwa bakatmu menjadi guru itu adalah dari DNA, dan bukan dari lingkungan (teori Nature vs. Nurture)? Tentunya lingkungan ortu dan kakek-nenek (Nurture) punya pengaruh tak kalah signifikan daripada DNA-mu (Nature), hehehe.

    Salaam,
    Gea

  17. Waalaikumsalam warahmatullah,

    Kabar baik, Ge. Dikau sendiri gimana? Anak tentu sudah besar. Kangen juga, sudah lama tidak bersua.

    Haha, that’s a very accurate question. Kalimat itu terinspirasi saat saya mengajarkan tentang rekayasa genetik untuk guru SD di universitas terbuka. Di buku panduan yang saya pakai, dibuat oleh Diknas, DNA mempengaruhi, tidak hanya rupa, tapi juga perilaku.

    Saya tidak tahu bagaimana cara menentukannya. Tapi, secara observasi dari pengalaman pribadi, saya merasa “suasana guru” hanya terdapat di keluarga inti saya saja (kedua orang tua, sementara kakek-nenek yang guru sangat jarang bertemu). Tetangga rata-rata adalah pedagang dan pegawai pemda. Waktu kuliah juga, bukan di sekolah pendidikan guru, hehe.

    Tentu saja observasi ini belum tentu valid untuk banyak kasus.

    Menurutmu sendiri bagaimana?

    Ohya, akses ke Nature saya sudah habis akhir tahun lalu euy. Mau memperpanjang tapi ga ada duit lagi hahaha. Sementara universitas tidak berlangganan. Jadi nanti, kalau ga keberatan, saya ganggu Gea lagi ya ^^(you know what I mean πŸ˜‰ ).

  18. segini banyak tulisan isinya fisika mulu…..
    fisika ya fisika, tapi jangan lupa maen dota…
    ayohh bermain lagiii…….
    πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

  19. Assalamualaikum…
    pak Feb ni mahasiswa UNAIR kampus C yang pernah diajar oleh bapak.
    boleh bergabung kan?

    bapak akhir2 ini kemana kok tidak kelihatan di kampus??
    kemarin mahasiswa OSI semester 1 pada tanya

    terima kasih
    Wassalam….

  20. Waalaikumsalam warahmatullah,

    Itu karena saya sedang di Bandung. Tapi saya sudah ada di kampus sejak pekan lalu lhoo hehe. Erix dan Farid sudah ketemu saya soal itu.

  21. wah baru tahu kalau mas Febdian punya website.bagus websitenya mas,………smg bisa jadi sumber pencarahan.

  22. Amin… tapi kalau baca tulisan saya ini langsung dari internet, pasti tercerahkan lho Mas Gandhi. Karena pasti buka internet pakai layar monitor dan layar monitor itu memancarkan cahaya… maka tercerahkanlah sejumlah daerah di sekitar monitor itu πŸ˜€

  23. Ass. Wr. Wb.
    Salam kenal pak Febdian. Senang mengikuti artikel-artikel anda. Banyak sekali yang ingin saya discuss kan dengan anda. Oke ini saja dulu. Menurut Allan Guth dari MIT, universe berasal dari ledakan yang disebutnya teori inflantionary. Misalkan universe berukuran sebesar uang logam, kemudian kun fayakun…., dalam waktu sekejap mata universe sudah berukuran sebesar galaksi bima sakti. Ini jelas-jelas melanggar relativitas. Bagaimana penjelasannya? Satu lagi, sudah adakah buku terjemahan ilmiah anda yang diterbitkan? Trims…

Leave a Reply