Selamat Datang Hujan

Pernah dengar lagu Garbage berjudul “I’m only happy when it rains”? Lagu cukup lama, album pertama mereka yang dirilis akhir tahun 1995. Tentu saya tidak akan bicara tentang Garbage yang pernah menjadi grup musik favorit saya itu, melainkan tentang “I’m only happy when it rains”.

Tengah malam tadi di Surabaya hujan lebat mengguyur. Saking lebatnya, saya terbangun dari tidur. Beberapa hari silam juga hujan di sore hari, tapi hanya sekedar hujan numpang lewat. Musim kemarau yang panjang di Surabaya membuat hujan menjadi fenomena berharga bagi saya. Ingin rasanya berlari ke jalanan sambil menari-nari dan bernyanyi di bawah hujan seperti dalam film Singing in the Rain (1953).

permasalahan

Cuaca saya rasakan sangat panas memang, setelah mudik dari lebaran 3 pekan silam. Malah, menurut saya lebih panas daripada tahun lalu. Dan, ini ternyata di-iya-kan oleh beberapa rekan yang sudah bertahun-tahun di Surabaya. Beberapa media lokal menurunkan berita seputar tingginya temperatur di Surabaya. Kenapa ya?

Mungkin yang pertama kali kita pikirkan, dan sepertinya masuk akal, adalah jauh-dekatnya jarak Matahari dengan Bumi: semakin dekat, maka semakin panas. Memang, orbit Bumi yang elips memungkinkan Bumi berada pada titik terjauh (aphelion) dua kali setahun dan titik terdekat (perihelion) juga dua kali setahun. Jadi ditenggarai, karena memasuki masa perihelion, maka temperatur Surabaya dan sekitarnya meningkat. Menurut blog berita surabaya.detik.com, titik perihelion di Surabaya terjadi pada 20 Oktober 2008 sehingga berdampak pada cuaca di Surabaya.

apakah benar demikian?

Sepertinya tidak. Jarak Matahari – Bumi tidak signifikan mempengaruhi iklam dan cuaca (termasuk temperatur) di Bumi. Titik apheliun berjarak sekitar 1,52 x 1011 meter dan titik perihelium berjarak sekitar 1,47  x 1011 meter. Jarak rata-rata adalah 1,5 x 1011 meter atau lebih dikenal sebagai

\varepsilon = \sqrt{1 - \left(\frac{b}{a}\right)^2}\;.

Elips pada lintasan orbit planet
Gambar 1: Elips pada lintasan orbit planet

Faktor a dan b berturut-turut adalah jarak aphelium dan perihelium seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Jika ε = 0, maka disebut lingkaran (artinya a = b); semakin besar ε, semakin gepeng elipsnya.

Untuk Bumi, a ~ 1,50 × 1011 dan b ~ 1,49 × 1011$ sehingga kita dapatkan nilai ekstentris orbit bumi adalah ? ~ 0,0167. Nyaris 0! Jadi, orbit Bumi masih dapat dikatakan bulat, artinya jarak Bumi – Matahari setiap saat dapat dikatakan konstan.

Ini memberikan kesimpulan bahwa jarak Bumi – Matahari tidak signifikan terhadap temperatur di Bumi. Namun, jika kita pertimbangkan berapa lama suatu daerah menerima cahaya Matahari, baru keadaan menjadi berbeda. Empat musim yang dialami oleh negara-negara yang terletak jauh dari khatulistiwa  terjadi karena adanya perbedaan waktu antara siang dan malam (lebih jauh lagi, perbedaan ini disebabkan oleh poros Bumi yang condong 23,45 derajat dari bidang normal orbitnya).

jawabannya adalah…

Jadi, kenapa temperatur kota Surabaya dan beberapa kota lainnya di Indonesia (dan mungkin juga di negara lain) meningkat akhir-akhir ini? Jawabannya mungkin sama dengan kejadian pada pertengahan tahun 2003 yang lalu: gelombang panas yang mendera Eropa, atau disebut 2003 European Heat Wave (berita terkait di news.bbc.co.uk dan newscientist.com). Koran online npr.org melaporkan bahwa sebuah studi yang dipublis di majalah Nature (sayang, saya tidak dapatkan informasi edisi dan tahunnya) menunjukkan keterkaitan pemanasan global dengan gelombang panas yang diderita Eropa pada tahun 2003 tersebut. Berikut cuplikan berita dari npr.org tersebut.

A new study in the journal Nature finds that global warming probably contributed to Europe’s killer heat wave of 2003. Some experts say the evidence from such studies could potentially be used in court against utilities and other companies that emit carbon dioxide into the atmosphere. NPR’s Richard Harris reports.

Sepertinya segala sesuatu yang berdampak pada perubahan drastis cuaca dan iklim memang berujung pada pemanasan global. Dan, kita semua tahu bahwa pemanasan global by default pasti terjadi dan aktivitas manusia berperan untuk mempercepat pemanasan global itu terjadi.

Bicara aktivitas manusia, tentu asap knalpot kendaraan kita berkontribusi, termasuk kepulan asap rokok dan kentut yang kita keluarkan. Tapi, sepertinya kontribusi terbesar diberikan oleh industri-industri besar yang menghasilkan sekian kubik polusi (udara, air, suara, … ada lagi yang dapat dipolusikan?) setiap detik! Wajar, para ahli dalam majalah Nature tersebut “memancing” para pembaca untuk menuntut industri-industri yang menghasilkan polusi itu.

Adakah LSM yang berminat untuk menjadikan studi ilmiah ini sebagai bahan untuk menuntut Industri-industri yang keterlaluan di Indonesia?

Anyway… hujan tadi malam rasanya menghapus panas yang nyaris setahun di Surabaya ini. Senang sekali ada hujan, apa lagi malam-malam. Udara pagi terasa bersih, segar, dan sejuk. Saya sempatkan joging seusai shalat subuh, segarnya masih terasa sampai sore hari ini saat saya mengetik tulisan ini. Mudah-mudahan hujan lagi nanti atau besok malam, asal jangan sampai banjir. Makanya, ada doa yang diajarkan rasulullah untuk hari hujan ini:

Ya Allah, cukupkanlah bagi kami hujan ini, dan jangan jadikan hujan ini sebagai bencana…

Welcome back rain, in Surabaya…

Kesimpulan Tulisan
  • Panas di kota Surabaya akhir-akhir ini tidak terkait dengan posisi Matahari terhadap Bumi seperti yang disebut-sebut oleh beberapa media massa di Indonesia.
  • Sangat besar kemungkinan panas tersebut terkait dengan pemanasan global, terkait riset-riset ilmiah yang telah dilakukan.
  • Bicara pemanasan global berarti bicara tentang aktivitas manusia, karena by default pemanasan global pasti terjadi dan aktivitas manusia mempercepatnya.
  • Hujan menyegarkan, harus disyukuri, dan jangan lupa berdoa 🙂

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

5 thoughts on “Selamat Datang Hujan”

  1. dari ujan.. nyambung ke matahari.. nyambung ke pemanasan global. analysisnya bisa nyambung kemana2 ya uda…? 😀

  2. Berbicara tentang Global warming mengingatkan saya pada isu yang sedang hangat-hangatnya merebak sekarang ini. Isu tersebut mengaitkan antara vegetarian dengan global warming yang disebabkan oleh efek rumah kaca.

    Ternyata, ada hubungan antara efek rumah kaca dengan industri peternakan. Industri peternakan adalah penyumbang gas rumah kaca terbesar.

    Pemicu terbentuknya gas rumah kaca bisa secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, jika kita melihat betapa besarnya pembakaran bahan bakar untuk lampu, penghangat ruangan, mesin pemotong, mesin pendingin untuk menyimpan daging. Polusinya dapat menghasilkan gas rumah kaca. Kemudian, ada banyak lahan hutan yang habis digunduli untuk pembangunan lahan peternakan sehingga mempertipis lahan hutan sebagai penyedia oksigen. Adapun pemicu langsungnya berupa kotoran ternak sendiri. Ternyata gas metana yang dilepaskan melalui kotorannya 23 kali lebih buruk dari CO2, ini merupakan polutan gas rumah kaca yang signifikan. Selain itu, Limbah berupa kotoran ternak mengandung senyawa NO (Nitrogen Oksida) yang berbahaya 300kali lipat dibandingkan CO2. Di Amerika Serikat saja, hewan ternak menghasilkan tidak kurang lebih 39,5 ton kotoran perdetik!!!!

    Dengan kondisi seperti ini, manusia dihimbau untuk lebih baik menjadi vegetarian sehingga memperkecil pertumbuhan industri peternakan. Para peternak jauh lebih diuntungkan jika beralih ke pekerbunan.

    Anyway,…Kondisi seperti ini bagaikan pukulan berat bagi saya karena saya penggemar berat daging kambing ….oh tidak…

  3. Hahaha… sumber masalah kan jelas: ambisi bisnis manusia untuk menghasilkan hewan potong sebanyak mungkin untuk memperkecil biaya operasional supaya laba terus meningkat.

  4. Mas tulisannya menarik…btw iseng2 aja nih…pernah denger soal vertical density stratification nggak mas? apakah benar perkiraan saya bahwa yang dimaksud vertical density stratification itu benar2 pemisahan dua fluida yang berbeda density secara vertical? apa ini mungkin mas, sebab sepemahaman saya density separation seharusnya horizontal? penjelasan secara fisikanya bagaimana ya? terima kasih sebelumnya…

    Salam

    Andi

Leave a Reply