Usulan lain sistem evaluasi mahasiswa

Semester ganjil lalu saya mengajar matakuliah fisika modern. Matakuliah ini memang fisikais sekali, bersama-sama dengan mekanika, elektrodinamika, fisika kuantum, statistika mekanik, dan fisika inti. Secara gamblang saya katakan enam matakuliah ini adalah “jawara” matakuliah jurusan fisika di mana pun di dunia ini (mungkin nama matakuliahnya tidak persis sama, misalnya statistika mekanik dapat memakai nama fisika statistik).

Namun, kalau boleh memilih, fisika modern saya pandang sebagai avant garde (gerbang depan) dari semua matakuliah lainnya. Alasan sederhana: pada fisika modern inilah mahasiswa diperkenalkan “cara pandang modern” tentang fenomena fisika, yaitu relativistik dan probabilistik (mekanika kuantum). Matakuliah fisika modern umumnya diberikan pada tahun kedua semester pertama dalam kurikulum fisika. Saya meyakini bahwa mahasiswa yang tidak paham fisika modern akan mengalami kesulitan pada kuliah-kuliah lainnya.

Namun, saya khawatir banyak peserta kuliah yang belum mengerti betapa pentingnya fisika modern ini. Hasil ujian akhir dari bagian yang saya ajar, yaitu pengenalan mekanika kuantum (Persamaan Schroedinger),  tidak memuaskan saya. Walaupun ada 8 dari total 70 peserta yang memberikan jawaban sangat memuaskan dan dua saya katakan sempurna. Ini cukup menghibur saya, dan berharap 60 peserta lainnya tidak benar-benar blank tentang fisika modern (mungkin sedang sial ketika ujian).

Kalau saya ditanya tentang nilai yang pantas untuk mahasiswa, saya maunya semua mahasiswa fisika harus mendapat minimal nilai B untuk matakuliah fisika modern ini. Nilai B dalam artian yang sesungguhnya: bahwa pemahamannya setara dengan nilai B untuk sistem penilaian yang berlaku. Untuk mewujudkan itu, mahasiswa tetap wajib  mengambil kuliah formal sekali seumur hidup, tapi dizinkan untuk mengikuti evaluasi (ujian) setiap saat. Dengan kata lain, meskipun kuliah formal diberikan pada semester ganjil, tapi evaluasinya terjadwal baik pada semester ganjil ataupun genap — ini dapat menjadi solusi alternatif selain mengadakan kuliah formal di kedua semester (yang jelas memakan sumber daya waktu, biaya, dan tenaga yang lebih besar). Keuntungan sumber daya juga dirasakan oleh mahasiswa, misalnya dia tidak perlu meng-KRS-kan matakuliah fisika modern sehingga tidak perlu khawatir dengan “jadwal bentrok”.

Bila perlu, evaluasi tersebut satu kali pada semester ganjil dan dua kali di semester genap. Ini mungkin mirip dengan ide yang ditulis oleh Pak Hermawan dalam blognya Tentang Sistem Penilaian. Segala bentuk administrasi (kartu rencana studi, presensi perkuliahan, dan lain-lain) seharusnya dapat dirancang untuk mendukung sistem ini. Jangan sampai urusan administrasi terlalu kaku sehingga malah menjadi halangan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Sistem evaluasi berulang ini dapat diterapkan di semua matakuliah di jurusan apapun, meskipun akan lebih bijak jika hanya dilakukan untuk matakuliah-matakuliah tertentu yang dianggap fundamental (matakuliah apa saja yang dianggap fundamental adalah urusan berikutnya). Dengan demikian, kita dapat memberikan nilai baik kepada mahasiswa tanpa harus menurunkan kualitas.

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

2 thoughts on “Usulan lain sistem evaluasi mahasiswa”

  1. Setuju……….. Enam mata kuliah tuch emang T.O.P B.G.T dech di jurusan Fisika, tapi kalo boleh nambah Bang, Fisika Zat Padat juga boleh dimasukin tuch. Bahkan di kampus saya, temen-temen suka memberi “panggilan” untuk mata kuliah yang kita anggap sebagai “pembunuh berdarah dingin” kuliah tu PKI (fisika Padat, Kuantum, Inti). hehehehe

    Tentang evaluasi yang diusulin saya setuju banget, soale saya termasuk mahasiswa yang tidak puas kalo nempuh 6 kuliah itu hanya sekali (gak pernah lulus dalam satu kali tempuh, alias pasti ngulang!!!!) kalo evaluasi yang diajuin Bang Feb bisa diterapin, kan enak Bang, saya tidak perlu kuliah lagi, cukup ikut ujiannya ntar pas akhir semester, cukup efisien dan nggak menyita waktu untuk kuliah yang lain….

  2. Setuju Banget.
    keenam mata kuliah itu bener-bener TOP abizzzzzz wez…
    Kenapa gak dari dulu sebelum “dalem” menempuh kuliah itu, sistem evaluasi mahasiswa seperti ini diusulkan. Sehingga saat “dalem” menempuh keenam mata kuliah tersebut, sistem ini telah diterapkan.

    Pasti asyik tuch.. ^_^

Leave a Reply