Bali itu Bukan Denpasar Saja

Saya dan Lukman di ruang kerja Lukman
Saya dan Lukman di ruang kerja Lukman.

Inilah pengalaman terkini dari perjalanan hidupku yang sudah 30 tahun lebih sedikit ini. Adalah niat untuk bertemu sahabat lama, Lukman Nulhakim, membawaku ke Pulau Bali. Berdasarkan informasi seorang yang terpecaya, butuh sekitar 10 jam dari Surabaya sampai ke Bali. Jadi berangkat selepas Maghrib, maka kira-kira sampai sekitar subuh. Saya ajak sang informan tadi, yang tak lain adalah mantan mahasiswa saya yang baru saja diwisuda Sabtu 18 April yang lalu, untuk ke Bali bersama saya. Namanya Taufik Akbar, mantan finalis cak-ning 2007.

Kami beli tiket bis malam Gunung Harta yang berangkat Minggu malam (19 April). Lukman menawarkan diri untuk menjemput saya di pelabuhan penyebarangan. Wow, tentu saja ini menarik. Saya katakan ke Lukman, kemungkinan saya akan menyebarang sekitar pukul 5 pagi hari — tentu saja angka ini muncul sesuai dengan bisikan sang informan.

Maka berangkatlah bis malam tersebut. Lancar. Bisnya menurut saya juga nyaman. Hanya saja saya saja yang kurang enak badan, karena empat hari sebelumnya saya kurang tidur sehingga kecapean.

Selama di bis kebanyakan saya tidur, harapannya saya dapat memulihkan tenaga selama di bis. Tengah malam saya terjaga, saya perhatikan cara jalan bis aneh. Maju mundur dan maju mundur, seakan-akan sedang parkir. Saya perhatikan sekeliling, ternyata bis sedang parkir di atas kapal penyebarangan. Lihat jam tangan, waktu menunjukkan pukul 1 dini hari.

Waduh, ini saatnya saya menelepon Lukman. Tapi, masih pukul 1am euy, takutnya menganggu. Lagian saya sudah meyakinkan Lukman kalau saya akan menyeberang sekitar pukul 5 subuh hari.

Saya bangunkan Taufik untuk berdiskusi apa yang harus dilakukan. Kesimpulan diskusi, mungkin karena efek sedang mengantuk, kita putuskan nanti setelah sampai di seberang. Siapa tahu lama penyeberangan bisa 4 jam, karena harus menunggu atau apalah yang terjadi, gitu. Sementara, saya sms Lukman untuk memberi tahu perkembangan. Tidak ada balasan dari Lukman, saya indikasikan memang dia lagi terlelap.

Pukul 2.15am, bis sudah turun dari kapal. Waduh, kok cepat amat sih. Sesuai petunjuk Lukman, kami seharusnya turun di pelabuhan. Tapi, badan saya masih kurang enak, ingus juga menyumbat hidung. Lihat ke luar jendela, pelabuhan itu sepi dan memberi kesan menyeramkan.

Akhirnya kami putuskan tetap di bis dan berhenti di terminal saja. Pikir saya, tujuan akhir bis ini pasti terminal di kota Denpasar. Jadi, minta tolong saja Lukman jemput di Denpasar. Paling-paling kondisi ini mirip Tanjung Periuk – Ciputat.

Taufik melanjutkan tidurnya, saya juga. Beberapa kali terjaga dan melihat jam. Tigapuluh menit berlalu, satu jam berlalu, dua jam berlalu… kok belum sampai juga ke Denpasar. Padahal jalan sepi dan bis melaju cepat. Saat itu datang telepon dari Lukman menanyakan di mana saya berada. Saya sampaikan keputusan kami tadi. “Gila, Pelabuhan – Denpasar itu sama dengan Bandung – Cirebon!” teriak Lukman. Belakangan saya tahu, jarak dua tempat ini sekitar 127 km.

Masya Allah!

Sempat terpikir untuk berhenti di terminal terdekat. Taufik memberanikan diri untuk bertanya ke kondektur, “berhentikan kami di terminal bis terdekat karena kami mau balik ke terminal Ubung.” Kata kondektur “terminal Ubung sebentar lagi, itu di depan kita.” Taufik bingung…

Ternyata saya salah dengar dari Lukman. Terminal Ubung itu adalah terminal di Denpasar, bukan terminal yang seharusnya kami tuju.

Taufik berbangga diri telah menyasarkan dosennya sendiri.
Taufik berbangga diri telah menyasarkan dosennya sendiri. Foto ini diambil dari Bis Damar jurusan Denpasar - Gilimanuk.

Kami sampai di terminal Ubung pukul 5.30am WIB. Sempat ribut dengan Taufik karena masalah jam. Ternyata Bali memakai WITA. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan dengan bis kecil yang sesak dan tentu saja tidak nyaman. Bis itu ngeterm lebih dari 2 jam di terminal tersebut. Akhirnya setelah menempuh hampir empat jam, menahan pipis pada 3 jam terakhir, menahan kantuk dan bersabar dengan supir yang merokok, kami sampai di Gilimanuk (kota tempat pelabuhan penyeberangan berada) dan bertemu Lukman.

Alhamdulillah.

Di terminal Gilimanuk kami sadari telah diperas oleh kondektur. Ongkos Denpasar-Gilimanuk seharusnya Rp 18.500,00, tertera jelas di papan pengumuman terminal tersebut. Tapi, kami ditagih Rp 25.000,00 per orang. Ga ikhlas, ga ikhlas!!! Selamat sih selamat, tapi tetap ga ikhlas!!!!!!

By the way, itulah karena berpikir Denpasar itu adalah kota satu-satunya di Bali. Padahal Bali itu pulau dengan beberapa kota tersebar di sepanjang pantainya. Lain kali, saya akan dengarkan nasihat istri saya sebelum bepergian. Dari pengalaman sebelumnya, istri saya sudah memergoki saya kalau saya lemah dalam geografi.

Selanjutnya, setelah bertemu Lukman, segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Buat rekan-rekan TF96, kalau mau liburan ke Gilimanuk saja, tempat kerja si Lukman. Banyak tempat rekreasi di sini!

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

9 thoughts on “Bali itu Bukan Denpasar Saja”

  1. Assalamu’alikum wr wb
    fun and unforgettable journey pak!

    (pak, sebenernya saya mau bilang kalo pas baca diaryY pak feb saya ketawa sampai terpingkal-pingkal tp saya gak jd ngomong cz takut dimarahin gara2 ngetawain dosen pembimbing saya sendiri yg kesasar,,,,)

    jadinya saya cuma tanya masalah ikhlas gak ikhlas itu…
    memangY d karcis tidak tertera biaya yg harus dibayarkan?
    emg c kondekturY nakalan krn menarik ongkos diatas ongkos standart, tp kn udah terlanjur terjadi kasihan pak klo pak feb g ikhlas ntar rejekinya g lancar…

    semoga pulang dengan selamat y pak!
    welcome to surabaya

    wasalamu’alikum wr wb

  2. Hehe, karena saya sudah tahu kamu ingin terpingkal-pingkal, itu sudah alasan cukup untuk memarahimu sepulang saya nanti, hee hee hee.

    Ga, ga pakai sistem karcis. Naik, duduk, trus nanti disamperin kondektur untuk ditagih.

    Yah, ga ikhlas tanda iman masih lemah. Harusnya saya tulis “masih belum ikhlas”, bukan “ga ikhlas”.

    Gimana hamiltonianmu?

  3. hahahahahahahahahahahah

    Kayaknya Pak feb wajib cerita di lab neh. pasti ceritanya kalau di bukukan lebih dari 1000 halaman. mengalaman yang asyik. tapi oleh2nya ga lupa kan?

  4. Gus, loe tadi kami telepon tapi kagak nyahut-nyahut.

    Iya, gue dah bilang gitu ke Lukman apa dia masih ingat sama Pak Haryono kembaran tuanya…. Tapi dia suka merendah orangnya, padahal manager juga kayak elu.

  5. Enggar,

    Apa cerita dan foto-foto kami nanti ga cukup jadi oleh-oleh? Hehehe…. Kamu apa ga perhatikan bagaimana peran finalis cak-ning itu dalam kisah perjalanan ini? Sekarang dia malah asik tidur-tiduran sama baca koran.

  6. Uda Bubuy,
    Bangga rasanya hati adik dengan prestasikawan sepenamaan ‘Taufik’ menyasarkan dosennya…hahaha. Prinsipnya kalau tidak bisa menyesatkan konsepnya, ya sasarkan saja dosennya…hahaha.

  7. Cool 🙂 Pasti jadi pengalaman yang mengesankan dan ngga terlupakan.. Jadi ingat, dulu kami ada acara akhir tahun di SMA, naik bis bareng2 dari Bandung ke Bali (Denpasar)… Dua puluh sembilan jam… Badan rasanya kaku semua.. Terus langsung sakit radang tenggorokan.. ha ha ha…

Leave a Reply