<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Langit Malam Yang Gelap</title>
	<atom:link href="http://diary.febdian.net/2009/05/19/langit-malam-yang-gelap/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://diary.febdian.net/2009/05/19/langit-malam-yang-gelap/</link>
	<description>catatan pinggir seorang dosen fisika</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Jan 2012 10:42:07 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Sedikit tentang supernova &#171; fisika itu sunnatullah</title>
		<link>http://diary.febdian.net/2009/05/19/langit-malam-yang-gelap/comment-page-1/#comment-25964</link>
		<dc:creator>Sedikit tentang supernova &#171; fisika itu sunnatullah</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Oct 2011 04:20:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://diary.febdian.net/?p=362#comment-25964</guid>
		<description>[...] Ada kaitan antara jarak dan waktu dalam skala astronomi. Apa yang kita lihat sesungguhnya adalah masa lalu, karena cahaya butuh waktu bergera dari benda tersebut hingga sampai ke mata kita. Semakin jauh benda tersebut, maka ketika berhasil kita lihat, sesungguhnya kita melihat benda tersebut ketika masih muda. Jangan heran, ribuan bintang yang kita saksikan di malam hari besar kemungkinan sudah tidak di sana lagi, sebagian mungkin sudah mati dan sebagian lagi mungkin sudah berpindah ke tempat lain. (Baca: Langit malam yang gelap.) [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Ada kaitan antara jarak dan waktu dalam skala astronomi. Apa yang kita lihat sesungguhnya adalah masa lalu, karena cahaya butuh waktu bergera dari benda tersebut hingga sampai ke mata kita. Semakin jauh benda tersebut, maka ketika berhasil kita lihat, sesungguhnya kita melihat benda tersebut ketika masih muda. Jangan heran, ribuan bintang yang kita saksikan di malam hari besar kemungkinan sudah tidak di sana lagi, sebagian mungkin sudah mati dan sebagian lagi mungkin sudah berpindah ke tempat lain. (Baca: Langit malam yang gelap.) [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Febdian Rusydi</title>
		<link>http://diary.febdian.net/2009/05/19/langit-malam-yang-gelap/comment-page-1/#comment-23436</link>
		<dc:creator>Febdian Rusydi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 15:45:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://diary.febdian.net/?p=362#comment-23436</guid>
		<description>Sat,
1. Kalau yang dimaksud mati karena tidak punya ruh, ya mungkin memang bintang benda mati. Tapi, maksud &quot;mati&quot; dalam artikel ini, si bintang tidak lagi bercahaya -- seperti senter yang sudah mati karena baterainya habis.

2. Good thinking. Kalau kamu nanti lagi nyasar ke ruangan saya, di sana ada buku &lt;b&gt;Introduction to Cosmology&lt;/b&gt; karya Barbara Ryden. Buka bab 2 dan ikuti Persamaan (2.1) s.d. (2.3). Di sana, sangat singkat dan jelas, kamu dapat buktikan bahwa intensitas dalam kasus ini tidak bergantung $r$ dan langit malam seharusnya terang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sat,<br />
1. Kalau yang dimaksud mati karena tidak punya ruh, ya mungkin memang bintang benda mati. Tapi, maksud &#8220;mati&#8221; dalam artikel ini, si bintang tidak lagi bercahaya &#8212; seperti senter yang sudah mati karena baterainya habis.</p>
<p>2. Good thinking. Kalau kamu nanti lagi nyasar ke ruangan saya, di sana ada buku <b>Introduction to Cosmology</b> karya Barbara Ryden. Buka bab 2 dan ikuti Persamaan (2.1) s.d. (2.3). Di sana, sangat singkat dan jelas, kamu dapat buktikan bahwa intensitas dalam kasus ini tidak bergantung $r$ dan langit malam seharusnya terang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: satriyaji wibisono</title>
		<link>http://diary.febdian.net/2009/05/19/langit-malam-yang-gelap/comment-page-1/#comment-23432</link>
		<dc:creator>satriyaji wibisono</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 12:23:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://diary.febdian.net/?p=362#comment-23432</guid>
		<description>Pak setelah saya baca artikel ini ada beberapa pertanyaan yang muncul dibenak saya:
1. Terkadang saat cahayanya sampai, bintangnya sudah mati.
    kalimat ini maksudnya apa?apakah bintang itu bukannya benda  mati pak?
2. mengapa ketika mengukur intensitas cahaya yang diterima Bumi dari bintang-bintang tidak dipengaruhi jarak?padahal setahu saya semakin dekat jarak sumber cahaya terhadap pengamat maka intensitas yang diterima oleh pengamat itukan lebih besar dan juga sebaliknya. Bisakah diterangkan kesaya pak?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak setelah saya baca artikel ini ada beberapa pertanyaan yang muncul dibenak saya:<br />
1. Terkadang saat cahayanya sampai, bintangnya sudah mati.<br />
    kalimat ini maksudnya apa?apakah bintang itu bukannya benda  mati pak?<br />
2. mengapa ketika mengukur intensitas cahaya yang diterima Bumi dari bintang-bintang tidak dipengaruhi jarak?padahal setahu saya semakin dekat jarak sumber cahaya terhadap pengamat maka intensitas yang diterima oleh pengamat itukan lebih besar dan juga sebaliknya. Bisakah diterangkan kesaya pak?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

