Jurnal Diklat Prajabatan di LPMP Jawa Timur

Bagi para PNS pasti pernah mengikuti diklat prajabatan — sering disingkat sebagai prajab atau LPJ. Itulah yang kami lakukan dua pekan terakhir hidup kami di LPMP Jawa Timur. Diklat tersebut kami ikuti sejak 2 Juni sampai 15 Juni kemarin dan merupakan gelombang kedua tahun ini. Gelombang pertama telah selesai sepekan sebelumnya.

Awalnya saya berniat untuk menulis dalam format diari selama diklat berlangsung. Karena jadwal diklat yang ketat dan miskinnya jadwal istirahat, saya hanya sanggup menulis diari pada 2 hari pertama. Karena itu tulisan saya ubah menjadi jurnal berita seperti yang Anda baca sekarang. Motivasi tulisan ini, selain memang menjaga semangat menulis saya, juga untuk berbagi informasi kepada siapa saja yang membutuhkan. Seperti biasa,tentu saja opini dalam tulisan ini adalah dari saya pribadi, narrow-opinion,  tidak mewakili sebagian atau sekelompok apa lagi seluruh peserta atau panitia diklat.

Peserta diklat adalah para tenaga pendidik dan kependidikan dari Universitas Airlangga (Surabaya), Institut Sepuluh Nopember (Surabaya), Universitas Negeri Surabaya (Surabaya), Universitas Jember (Jember), Universitas Brawijaya (Malang), Universitas Negeri Malang (Malang), Universitas Trunojoyo (Madura). Total peserta 72 orang dengan distribusi yang saya tidak ingat detil.

Himawan Bekti Bagyo
Himawan Bekti Bagyo

Tujuan diklat? Ah, tentu saja nilai-nilai luhur dan mulia dari seorang abdi masyarakat dan negara. No doubt about it. Para widyaiswara (pemberi materi) yang didatangkan saya pikir ahli di bidang masing-masing, walau ada tiga di antaranya saya pikir “out of date”. Yang paling saya senangi adalah pemateri Himawan Estu Bagyo yang memaparkan tentang Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI. Dibantu pengalaman praktisnya di dunia perhukuman dan tata pemerintahan, Himawan mampu menyihir para peserta yang rata-rata datang dengan mental “wah, ini diklat akan membosankan” dengan wawasan-wawasan yang sangat membakar semangat nasionalisme.

Memang benar, dari sekian banyak peserta yang saya tanya opini awal mereka tentang diklat ini, hanya satu yang tidak menjawab “wah, ini diklat akan membosankan”. Siapa sih yang tidak kenal dengan pameo “Negeri ini tidak butuh orang pintar, tapi butuh orang patuh”? Ini mungkin berasal dari sistem diklat prajabatan yang menghendaki pesertanya untuk menjadi manusia yang patuh ketimbang kritis. Apalagi di era Orde Baru di mana penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) menjadi suatu hal yang wajib di setiap jenjang pendidikan, apapun itu bentuk dan jenis pendidikannya — terakhir saya mengalami penataran P4 adalah saat masuk ITB tahun 1996, dua tahun kemudian penataran ini dihapuskan secara nasional.

Tapi ternyata, diklat prajabatan sekarang tidaklah seganas dulu. Menurut saya lebih manusiawi dan mencerdaskan. Buku diktat yang diberikan kepada kami, menurut saya, adalah buku yang berkualitas, baik dari segi bahasa maupun isi. Beberapa pemateri juga secara bijak sanggup memberikan materi yang seimbang: mengkritisi pemerintah tapi tetap konsisten menanamkan semangat kebangsaan. Seperti yang ditekankan oleh widyaiswara Edison Ginting di sesi terakhir diklat, “that every option has its consequence and problem lies in that consequence”. Menjadi PNS pun adalah pilihan dan konsekuensi-konsekuensinya harus dijalani, termasuk untuk setia dan taat kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara, dan Pemerintah Republik Indonesia.

Suasana kelas dalam sebuah materi kuliah.
Suasana rehat di kelas.

Pak Ginting, menurut saya, juga bertanggung jawab telah membangkitkan semangat enterpreneurship peserta. Terbukti, sekarang saya sedang berpikir untuk membuat usaha sendiri hahaha. Sebagai pemilik asli darah minang, sifat dagang saya terbakar mendengar ocehan beliau. Apalagi salah seorang kenalan baru telah berhasil menjadi enterpreneur jauh-jauh hari sebelum menjadi PNS. Paradoks memang, materi Pak Ginting yang seharusnya mendidihkan darah peserta untuk menjadi PNS yang memiliki sifat enterpreneurship, saya terima sebagai “seorang PNS harus dapat nyambi jadi enterpreneur” hahahaha.

Kenapa begitu? Mungkin ini karena badan sudah lelah. Badan segar saja riskan menerima salah informasi, apalagi lelah. Tidak ada memang program cuci otak, tapi otak sudah tercuci sendiri akibat jadwal diklat yang monoton, kaku, ketat, dan memang sangat, sangat membosankan. Semua peserta, satu demi satu, jatuh ke lembah “blo’on”, berperilaku seperti orang lupa akal lupa ingatan — pelesetan dari salah satu lirik Mars LPJ “lupa asal lupa jabatan, lupakan itu semuanya”. Banyak kejadian-kejadian aneh, tidak logis, tapi terjadi yang menjadi hiburan unik bagi kami. Setiap orang menjadi pelawak bagi yang lain. Kelompok lawak srimulat pun saya pikir kalah lucu dibanding para peserta diklat, terutama sepekan sebelum diklat berakhir. Malah paradigma saya tentang seorang dokter pun berubah: dokter ternyata juga manusia hahaha.

Suasana antri saat makan siang
Suasana antri saat makan siang.

Ada sebuah materi yang saya kurang puas, namanya “Manajemen Kepegawaian Negara” (MKN) yang disampaikan widyaiswara Sugito. Bapak Sugito ini sangat hapal nomor dan isi perundang-undangan yang terkait dengan kepegawaian negara. Ini membuat kami sangat terkesan, setiap bicara selalu disertai dengan dasar hukum sehingga kawan-kawan menyebutnya “Pak PP”. Materi MKN bercerita tentang kewajiban, hak, larangan PNS termasuk di dalamnya cara karir. Sayangnya, kami terlalu banyak menghabiskan waktu tentang hak cuti PNS sehingga waktu tidak cukup untuk membahas tip-tip berkarir (naik pangkat dan golongan). Sangat disayangkan, menurut saya.

Kelompok C1 setelah menjadi "role model" latihan baris-berbaris.
Kelompok C1 setelah menjadi "role model" latihan baris-berbaris.

Tidak diizinkannya peserta keluar dari arena diklat semakin membuat diklat terkesan mengerikan. Saya sendiri langsung membayangkan suasana seperti kamp konsentrasi, kawat-kawat listrik memagari sekeliling area, sekelompok anjing herder Jerman berpatroli rutin mengelilingi kamp, saat sesi besuk datang kita bertemu dengan keluarga yang menjenguk dengan sebuah tabir kaca antipeluru membatasi kita. Terpetik ide untuk meminta mahasiswa saya datang membawakan saya kue tar dengan kikir ditanamkan di dalam kue tar tersebut.

Tapi ternyata tidak seganas itu, beberapa peraturan masih dapat dikompromikan. Misalnya mengenai peraturan isolasi, untuk alasan yang syar’i, peserta boleh meninggalkan arena tapi tidak boleh lewat dari sekian jam (saya lupa berapa). Misalnya, ada satu peserta yang minta izin mulai dari pukul 5 pagi dan kembali pukul 1 siang untuk melaksanakan pernikahan dengan suami pilihannya. Saya katakan kepada dia, “perintah suami untuk malam pertama kalah dengan perintah negara untuk ikut diklat prajabatan.”

Pengorbanan memang telah diberikan, tidak hanya oleh peserta yang menikah itu, tapi oleh kami semua. Ada yang sedang hamil 8 bulan, ada yang baru saja menghamili istrinya, ada yang sedang ujian, ada yang gagal bertemu calon profesornya, kawan-kawan dokter tidak dapat praktik selama dua pekan penuh, saya sendiri juga kehilangan beasiswa mambusho yang saya tunggu-tunggu sejak tahun kemarin.  Jadi, jangan tanyakan soal nasionalisme kami hehehe.

Suasana senam pagi di jalan depan gedung LPMP Jawa Timur.
Suasana senam pagi di jalan depan gedung LPMP Jawa Timur.

By the way, isolasi telah membuat kami tidak hanya lupa akal lupa ingatan, tidak ingat jam dan hari, sebagian kami malah sudah lupa seperti apa itu kota Surabaya. Teman saya Qorib misalnya, dia malah khawatir jangan-jangan kendaraan sudah tidak pakai roda lagi, tapi melayang di atas udara seperti di film-film fiksi-sains. Dia juga khawatir, rumahnya disegel polisi karena tidak bayar cicilan. Lebih parah lagi, istrinya sudah lupa punya suami seperti dia.

Internet memang solusi, sebagian dari peserta langganan telekom flash seperti saya atau punya blackbarry. Tapi, yang sering dibuka bukan jawapos.com atau bbc.co.uk, melainkan facebook, hahaha. Yah, ini sedikit didramitisir karena ada yang tetap setia membuka blog-blog berita seperti saya (hehe), tapi pada umumnya kami memilih untuk tidur ketika punya waktu luang daripada berselancar internet.

Suasana apel pagi dipimpin perwakilan senat.
Suasana apel pagi dipimpin perwakilan senat.

Mengenai tempat diklat sendiri, menurut saya rada ironis. Sementara kami dijejali nilai-nilai luhur dan mulia sebagai abdi masyarakat dan negara, saya beberapa kali mengamati perilaku pegawai LPMP yang sangat kontradiktif. Saya melihat beberapa kali pegawai setempat merokok di dalam perpustakaan yang ber-ac — perpustakaan itu letaknya tepat di sebelah kelas diklat. Saya juga melihat beberapa pedagang kaki lima menjual baju dan jam tangan di dalam kompleks LPMP. Apa-apaan ini, kompleks negara kok ada pedagang kaki lima? Siapa yang mengizinkan mereka masuk? Untuk bisa menggelar tikar di sana, tentu mereka bayar tempat, kepada siapa mereka bayar? Dan terakhir, saat kami minta panitia untuk foto-foto bersama, fotografer yang dikirim sangat tidak profesionalisme. Mulai dari penampilan yang tidak menjanjikan, kemampuan menata orang yang sangat miskin (kami terpaksa harus mengatur diri sendiri dan itu sangat susah), kemampuan teknis fotografi (seperti pencahayaan) sampai kamera yang dibawanya… ampun dech! Kagak pake tripod pula! Setelah itu, foto dijual Rp 10.000 untuk ukuran R10. Sangat mengecewakan.

Kelompok C1 melirik kamera di salah satu apel pagi.
Kelompok C1 melirik kamera di salah satu apel pagi.

Tapi, dibalik semua itu, ada satu hal yang membuat saya tidak pernah menyesal ikut diklat prajabatan: berkenalan dengan orang-orang hebat di bidang masing-masing! Pengorbanan mereka ikut prajabatan sudah cukup bagi saya untuk menilai bahwa mereka pun ingin mengabdikan ilmu mereka untuk kemajuan bangsa. Hebat! Setiap individu itu unik dan saya berkesempatan untuk menyaksikan kebenaran teori itu selama diklat kemarin. Mungkin yang paling berkesan dalam otak saya adalah keahlian Bang Erry, seorang dokter anastesi, yang dapat memotivasi orang-orang disekelilingnya untuk memberikan yang terbaik: setiap kelompok yang ada Bang Erry, selalu menghasilkan sesuatu yang luar biasa!

Terduduk di antara dua tong sampah. Ini adalah foto favorit yang saya ambil saat kegiatan latihan baris-berbaris.
Terduduk di antara dua tong sampah. Foto ini saya ambil saat kegiatan baris-berbaris dan adalah foto favorit yang saya ambil selama diklat.

Kondisi sependeritaan dan seperjuangan untuk bertahan melawan kebosanan diklat telah membuat para perserta cair dan hangat, saling menyemangati dan mengingati. Keakraban ini menjadi dasar utama untuk melangkah ke sesuatu yang lebih besar dan dahsyat. Saya tidak dapat membayangkan betapa hebatnya karya yang akan mereka hasilkan jika mereka lanjutkan keakraban itu menjadi sebuah kerjasama raksasa antaruniversitas. Saya memimpikan itu dan berharap dapat menjadi bagian dari kerjasama mereka — menjadi pengganjal meja juga sebuah posisi yang penting.

Jurnal ini tidak lengkap, meskipun hanya dua pekan, kisah yang ditoreh lebih dalam daripada sejarah menghilangnya dinosaurus atau rantai yang putus dalam evolusi Darwin. Saya harapkan kawan-kawan peserta diklat prajabatan di LPMP Jawa Timur, baik gelombang 1 maupun gelombang  2, dapat menambahkan dalam blog masing-masing atau memberi komentar untuk tulisan ini.

Mari kita tutup jurnal ini, dengan Mars LPG (jangan dibaca: eL Pi Ji)

Sungguh,
aku bercita-cita, menjadi seorang pegawai
berdiri tegak penuh wibawa, tunaikan tugas yang mulia

Kini aku sedang ditempa
di dalam diklat prajabatan
lupa asal lupa jabatan,
lupakan itu semuanya

Aku tahan sakit-sakit untuk mencapai yang baik
Aku tahan menderita walaupun aku ditempa
Gembira-gembira selamanya…

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

10 thoughts on “Jurnal Diklat Prajabatan di LPMP Jawa Timur”

  1. hayo bayar royalti… dua foto dipasang (muka-belakang lagi ;p)… hehehehe ;D
    tapi keren kok da tulisannya… bagus… bagus…

  2. ha ha ha saya baru nemu nih situs pak feb, ikut pra jab segitunya amat, bukannya sekedar kewajiban doang jadi pe en es, bagus deh pak, kalau bapak jadi semangat, kalo gitu ayo usir amerika dari indonesia, nasionalisasi aset publik, habisi kapitalisme, putuskan hubungan luar negeri dengan amerika dan sekutunya, lho???

  3. asalamu’alaikum
    sy bkn psrta diklat LPMP angkt bpk febdian tpi sy sngt tertarik & sng mencari tahu ttg prajabatan soalnya alhamdulilah SK CPNS sy baru sj kluar,sy dri unibraw. LPMP tu kpanjanganya apa? n lokasinya dmn?info t’akhir tmn sy prajabnya mlh 3 minggu,he…
    ok,sukses slalu n smoga cpt nular ke sy ya….amin
    wassalam

  4. Waalaikumsalam warahmatullah, Mbak Heni

    LPMP itu singkatan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, punya Diknas. Untuk Jawa Timur, situsnya ada di http://www.lpmp-jatim.org/ .

    Saat prajabatan kemarin, banyak kawan-kawan dari Unibraw yang ikut, seru hehe.

    Semoga cepat dipanggil prajab untuk CPNS angkatan Mbak Heni!

  5. cuma sayang… diklat bisa (80% TERBUKTI) menjadi ajang perselingkuhan. ga da msalah klu yang belum bkluarga, tpi yang dah pnya istri/suami/anak???? bisa berabe. alangkah baiknya pelaksanaan diklat di tinjau ulang, jangan sampai terjadi kesan diklat menjadi ajang perusak rumah tangga. klu aku punya usul:
    1. penyelenggaraan diklat di daerah/kota masing sj, biar ga ada rasa “kesepian” dari peserta yg bisa memancing perselingkuhan
    2. kalaupun point 1 d atas ga memungkinkan dan harus dilaksanakan di luar daerah, mohon sekiranya antara peserta cowok dan cewek tidak satu angkatan.
    3. klu smua point d atas ga memungkinkan…ya gmana caranyalah kebijakan dari yang berwenang ngurusi masalah diklat ini untuk mencegah permasalahan ini.
    4. Klu ga ada jalan lain dan harus spt skrg, ya….siap-siaplah diklat di cap sebagai arena perusak rumah tangga.

    Aku bukan peserta diklat, tpi aku adalah “korban” dari diklat, tpi syukurlah, rumah tngga kami masih ada harapan untuk dipertahankan

  6. assalamu’alaikum
    trs trg sy mrasa tertarik baca artikel bpk ttg diklat prajab ini, krn sy barusan mengalaminya sendiri di tmpt yg sama pula, jadi bnr2 seperti mengenang masa yg barusan berlalu. tp syg ada 1 yg blm disebutkan, gebrakan2 maut sblm makan yg bisa menjebolkan sepatu, he5. Bravo LPMP JATIM 2011 !!!!

  7. Salam LPJ !! Saya peserta diklat LPJ di Prigen-Trawas, angkatan 397 A. Senang sekali bisa membaca jurnal LPJ dari angkatan dan tempat yang berbeda. Bagi saya LPJ adalah sebuah pengalaman pembelajaran yang berbeda, memotivasi dan benar2 mampu membakar semangat nasionalisme saya. Berada di antara teman2 seperjuangan, dari berbagai daerah, dengan berbagai macam latar belakang profesi dan pengalaman yang berbeda, sungguh membuka cakrawala berpikir, mengasah kemampuan beradaptasi dan menumbuhkan pengertian yang mendalam pada keberagaman.. BRAVO DIKLAT PRAJABATAN !!

Leave a Reply