Print This Post Email This Post

Di sekolah dasar dahulu kala, kita belajar bahwa wujud zat (states of matter) ada tiga, yaitu padat (solid), cair (liquid), dan gas. Zat padat memiliki sifat rigid, yaitu mempertahankan volume dan bentuknya seperti bebatuan dan es. Zat cair mempertahankan volumenya tapi bentuknya berubah-ubah sesuai dengan wadahnya. Air misalnya,  menyerupai bentuk gelas ketika di dalam gelas. Terakhir gas, baik volume dan bentuknya berubah-ubah sesuai dengan wadahnya. Udara di dalam balon misalnya, volumenya bertambah ketika balon membesar, begitu juga bentuknya.

Yang membedakan satu dengan yang lain adalah jarak antarmolekul penyusun zat tersebut.Pada zat padat, jarak antarmolekul penyusunnya sangat dekat (rapat) sehingga molekul-molekulnya tidak dapat bebas bepergian. Ini seperti sebuah orang-orang yang berdesakan di dalam lift sempit, mereka tidak dapat ke mana-mana kecuali berdiri di tempat. Kalau pun dapat bergerak, hanya sedikit. Jika sebagian orang tadi keluar dari lift, maka sebagian yang tinggal  merasa lega dan dapat bergerak relatif lebih leluasa. Ini analogi dengan zat cair, yang jarak antarmolekulnya relatif lebih besar daripada zat padat. Dengan demikian, sejumlah air dapat berubah-ubah bentuknya menyesuaikan wadah yang ditempatiny. Terakhir, jika jarak antarmolekul sangat jauh (renggang) sehingga molekul bebas bergerak, maka wujud zatnya adalah gas seperti udara. Dia tidak dapat mempertahankan bentuk dan volumenya.

perubahan_fase

Diagram temperatur-energi pada perubahan fase wujud zat. Perubahan fase selalu melibatkan panas, baik dilepas ataupun diterima, namun temperatur zat tidak berubah. Dalam gambar, kotak merah menunjukkan proses perubahan fase.

Zat juga dapat berubah wujud dari satu ke yang lain. Namanya perubahan fase zat (phase change). Wujud padat ke cair melewati proses pencairan (melting) seperti es mencair menjadi air — kebalikannya disebut pembekuan (freezing). Wujud cair ke gas melewati proses penguapan (vaporation) seperti air mendidih menjadi uap air — kebalikannya disebut pengembunan atau kondensasi (condensation). Wujud gas juga dapat menjadi padat lewat proses deposisi (deposition) — kebalikannya disebut penyubliman (sublimation) seperti pada kasus kapur barus.

Wujud zat dapat juga dibedakan berdasarkan interaksi antarmolekul penyuzun zat. Dalam klasifikasi ini, pada zat padat interaksi tarik-menarik antarmolekul membuat posisi molekul-molekul penyusunnya tetap dalam koordinat dimensi ruang. Pada zat cair, interaksi tarik-menarik antarmolekul relatif lebih lemah sehingga posisi molekul-molekulnya berubah-ubah meskipun tidak ekstrim. Sedangkan dalam gas, nyaris tidak terjadi interaksi antarmolekul gas sehingga mereka bebas bergerak ke sana ke mari sehingga membuat gas tidak dapat mempertahankan volume dan bentuknya.

Proses perubahan fase zat. Arah panah ke atas menunjukkan nilai entalpi yang semakin tinggi. Entalpi adalah konsep dalam termodinamika yang menunjukkan total energi dalam plus total energi dari tekanan dan volume zat.

Ada satu wujud tambahan berdasarkan interaksi antarmolekul penyusun, yaitu disebut plasma. Plasma adalah gas yang terionisasi (memiliki muatan listrik) dan biasanya memiliki temperatur yang tinggi. Interaksi ionik antar molekul-molekul bermuatan yang ada dalam plasma memberikan plasma sifat-sifat yang berbeda dari tiga wujud lain. Inilah yang menjadi alasan kenapa plasma disebut wujud zat keempat (the fourth state of matterial).

Di Bumi kita, plasma dapat ditemukan pada awan-awan bermuatan yang menghasilkan petir. Malah, sebagian orang mendeskripsikan petir itu sendiri adalah plasma. Kilatan terang-benderang yang kita saksikan dari petir adalah radiasi elektromagnetik (termasuk di dalamnya cahaya tampak, gelombang radio, dan sinar-X) yang dipancarkan oleh plasma. Selain itu, plasma pada petir membawa arus sampai 30.000 ampere dan memiliki temperatur sampai 28.000 kelvin. Plasma juga ada di dalam tabung televisi (bukan monitor datar seperti pada laptop) dan lampu neon.

Namun, sesungguhnya plasma lebih banyak terdapat di luar angkasa. Debu-debu kosmik yang menjadi cikal-bakal bintang berwujud plasma. Materi penyusun angin surya (solar wind), inti Matahari, bahkan planet Jupiter sebagian besar berwujud plasma. Karena banyaknya plasma mengisi ruang di luar angkasa, plasma menjadi salah satu kunci untuk mempelajari Alam Semesta kita. Dalam fisika, pengkajian plasma secara khusus dilakukan oleh cabang ilmu yang disebut fisika plasma (plasma physics).

Apakah ada wujud zat kelima (the fifth state of material)? Jawabannya mungkin ada dan mungkin berwujud butiran (granular) seperti butiran-butiran pasir yang jatuh dari sela-sela tangan kita. Ini adalah fakta terbaru yang dipublikasi oleh Heinrich Jaeger (University of Chicago) di majalah Nature edisi 25 Juni 2009.

Proses pembentukan butiran-butiran pasir terjadi karena ketidakstabilan gaya atomik yang menarik bijih-bijih pasir sehingga membentuk butiran — ini berbeda dengan teori lama yang mengatakan bahwa  butiran pasir terbentuk setelah terjadi tumbukan antarbijih pasir. Proses ini mirip pada air yang juga membentuk butiran ketika jatuh (seperti pada air hujan), hanya saja pada butiran pasir melibatkan gaya tarik-menarik antarmolekul 100.000 kali lebih kuat.

Selain itu, Jaeger mendapatkan apa yang disebut “daerah tegangan-permukaan-ultrarendah” (ultralow-surface-tension regime), sebuah kondisi baru dalam ranah sains yang menentukan dinamika wujud butiran. Ini membuat wujud butiran memiliki sifat-sifat yang berbeda dari keempat wujud zat yang ada.

Misalnya saja, butiran pasir memiliki sifat zat padat dan zat cair pada waktu yang bersamaan. Saat berjalan di pantai, tubuh kita ditopang oleh pasir pantai — sifat pasir sebagai zat padat. Kita dapat genggam pasir namun kemudian pasir itu dapat lolos dan jatuh dari sela-sela jari kita — sifat pasir sebagai zat cair. Contoh lain dapat kita lihat ketika sebuah benda jatuh ke atas pasir, menghasilkan fenomena seperti benda dijatuhkan ke atas air (lihat video). Dalam kasus-kasus lain, butiran pasir dapat berperilaku seperti padat, cair, gas, bahkan di antaranya.

Dikutip dari Wired Science, riset tentang wujud butiran ini dapat menguntungkan pihak industri. Banyak produk jadi dan makanan melewati fase butiran. Selama ini pihak industri hanya menggunakan metode trial-and-error untuk menangani proses mereka sehingga tingkat kegagalannya tinggi. Keuntungan dari riset butiran pasir ini juga dapat dinikmati oleh riset berteknologi tinggi seperti eksplorasi Mars dan Bulan oleh robot-robot NASA. Perubahan kondisi sedikit saja, seperti temperatur, kelembaban, kondisi permukaan dapat menyebabkan kerusakan fatal.

“Fisikawan kaya akan perkakas untuk berurusan dengan zat padat, cair, dan gas. Tapi, kita tidak punya sebuah petunjuk kapan kategori klasik itu (padat-cair-gas) tidak dapat dipakai,” ujar Jaeger.

Sebenarnya, masih ada satu wujud zat lagi yang telah dikenal sebelum ini, yaitu kondensasi Bose-Einstein (Bose-Einstein condentation). Wujud zat ini adalah gas yang didinginkan menuju 0 kelvin (nol kelvin = absolute zero). Pada keadaan ini, zat memiliki sifat-sifat unik yang tidak dimiliki oleh wujud lainnya. Sebagian orang mengatakan bahwa kondensasi Bose-Einstein inilah yang merupakan wujud zat kelima. Jika demikian, maka kita punya enam wujud zat. Wah, jangan-jangan nanti ada juga wujud ketujuh, kedelapan, dan seterusnya? Semakin banyak hapalan untuk anak sekolah, hehehe.

Print This Post Email This Post
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
10 Responses
  1. Ira Rusydi says:

    Jadi ilmu transparansi dan opacity tadi langsung diterapkan di gambar diagram temperatur – energi ya, Da? Haha, setelah berbulan-bulan cari tahu, ternyata caranya gampang banget :p

  2. Ira Rusydi says:

    Artikel yang menarik … Sifat unik dari wujud zat keenam, kondensasi Bose-Einstein, itu apa aja, da? Trus, sudah dimanfaatkan dalam industri atau kehidupan sehari-hari?

  3. Hehe… jangan membuka aib begitu. Setiap orang kan ada kelemahan, makanya ada pasangan untuk melengkapi apa yang lemah.

    Nanti Uda tulis lagi soal kondensasi Bose-Einstein. Tapi jangan ribut kayak kemarin, masak nulis artikel ini butuh dua hari?

  4. Taufiq says:

    Uda Buyung,
    Daku pernah mendengar ada fasa yang disebut2 sebagai ‘dense phase’, sebenarnya apakah definisinya? Dan apakah contoh dalam kehidupan sehari2? Terimakasih

    Adik Taufiq yang sedang gundah di kota J

  5. Uda TF,

    Dinda Buyung ternyata juga tidak familiar dengan istilah itu. Setelah cek sebentar lewat google, “dense phase” malah bahasanya kaum kapitalis jurusan instrumentasi dan kontrol. Nah lho! Ada juga sich dipakai di dunia molekul (baca: http://www.physorg.com/news157226016.html ). Sepertinya “dense phase” ini terkait dengan tekanan…

    Semoga gundah Uda TF di kota Jkt dapat terobati.

  6. Gea says:

    Yung,

    Kok ya kebetulan, saya juga baru baca paper Nature ttg Granular Material tsb. Kamu juga sdh baca bagian “News and Views”-nya? Eksperimen ini tergolong edan, karena salah satu tahapnya adalah men-jatuh-bebas-kan sebuah high-speed camera berharga 80000 USD.

    Ralat: penyebutan Granular Material sebagai “wujud zat kelima” itu bukan hal baru. Di dunia industri, fisika material granular ini pun sudah lama pula diteliti, contohnya untuk optimasi sebuah “silo” (penyimpan pasir atau gabah beras).

  7. Wah, terima kasih atas ralatnya Ge… Bagi saya sendiri memang baru, hehe, selama ini cuma tahu sampai kondensasi Bose-Einstein saja. Fisika material granular sendiri adalah barang baru bagi saya… mungkin karena tidak begitu dekat dengan dunia material ya.

    Saya terus terang belum baca artikel lengkapnya yang di Nature (cuma abstrak yang ada di taut yang saya berikan di atas). Berita tentang riset butiran pasir itu sendiri saya dapatkan dari http://www.wired.com . Hehehe… masih nunggu orang yang berbaik hati mau upload di rapidshare nich ^^

    Kalau boleh tahu, kenapa yang dijatuhkan adalah kamera? Apakah karena ingin sekalian merekam apa yang terjadi ketika tumbukan terjadi?

  8. Gea says:

    Yung,

    Kamera dijatuhkan agar dapat mengikuti butir-butir pasit yang sedang jatuh bebas. Ini diperlukan karena dinamika butir pasir (dari terlepas-lepas, kemudian menggumpal, lalu membentuk klaster) peru diikuti sepenuhnya, sepanjang proses jatuh bebas tsb. Kamera berjenis “high-speed” diperlukan, karena skala waktu dari dinamika pasir ini jauh lebih cepat daripada eksperimen “normal”, misalnya eksperimen menggumpalnya air saat jatuh (seperti ilustrasi Buyung di atas, yaitu waktu air hujan turun, atau seperti waktu air menetes dari ujung keran).

    Data dari kamera high-speed itu saja belum cukup untuk mencapai kesimpulan yang mereka terbitkan di artikel tsb. Kamera hanya mampu menangkap fenomena penggumpalan yang ukurannya mesoskopik/mikroskopik. Sebagai pendukung, lalu para peneliti ybs menggunakan AFM untuk mengukur fenomena nanoskopik dari masing-masing butir pasir. Data dari AFM (yang menunjukkan sifat nanoskopik) kemudian dikorelasikan dengan data dari kamera (yang menunjukkan sifat mikroskopik). Hasil korelasinya tsb lalu memberi petunjuk, apa sebenarnya mekanisme nanoskopik mana saja (gaya van der Waals, gaya elektrostatik, dlsb.) yang memicu fenomena mikroskopik yang diamati (penggumpalan dan “tegangan permukaan ultra rendah”).

    BTW, sedikit2 ilmu ttg Material Granular itu saya peroleh justru dari istri, yg ternyata dalam studi Teknik Mekanika-nya (ini istilah yang lebih tepat, daripada istilah Teknik Mesin) banyak bersentuhan dg fisika dan aplikasi dari bidang tsb.

    Sementara itu, sebetulnya ada pula materi lain (selain material granular) yang juga diklaim sebagai “wujud zat kelima”. Hal ini adalah yg disebut sebagai “Soft Matter”, contohnya adalah busa di atas kopi, atau buih di atas ombak laut.
    Saya pikir akan menarik juga buat Buyung, karena banyak hal (terutama di aplikasi biologi, kimia, dlsb) yang masih sulit dimodelkan secara matematika di sana.
    Contoh studinya bisa ditengok di jurnal berikut:
    http://www.rsc.org/Publishing/Journals/sm/index.asp
    Sedangkan contoh tulisan populernya adalah dlm wujud buku berikut:
    “Universal Foam: Exploring the Science of Nature’s Most Mysterious Substance”
    http://www.amazon.com/Universal-Foam-Exploring-Mysterious-Substance/dp/038572070X/ref=sr_1_22?ie=UTF8&s=books&qid=1246347528&sr=1-22

  9. Wow, terima kasih banyak komentarnya Ge.

    Saya terkesan dengan buih di atas kopi (karena memang saya penggemar berat kopi). Thanks banget… saya akan selusuri itu taut-tautnya.

  10. [...] ini adalah suplemen dari artikel Wujud Zat Kelima, membahas sedikit detil tentang konsep perubahan fase. Cocok untuk siswa SMA dan sederajat, [...]

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>