Review Film Harry Potter 6

Semalam saya dan istri nonton film Harry Potter and The Half-Blood Prince di bioskop dekat rumah. Yah, terpaksa nonton karena sudah terlanjur menonton lima seri sebelumnya. Hitung-hitung menjadi kelompok penonton yang “duluan” nonton Harry Potter mengingat di Indonesia baru dirilis di bioskop per tanggal 17 Juli. Hehehe…

Durasi filmya sekitar 2 jam  30 menitan, lama waktu yang pantas untuk tiket seharga Rp 20.000,00; tapi belum sebanding dengan Lord of  The Ring: The Return of the King yang sampai 3 jam lebih, wuih! Artikel berikut ini adalah opini dan review pribadi saya tentang film ini.

Filmnya sendiri tidak menekankan pada aspek teknologi animasi atau sebangsanya — saya rasa film ini sudah memakai teknologi yang standar — melainkan pada plot ceritanya. Penulis skrip film harus kerja ekstra untuk menyelaraskan plot cerita di film dengan di buku. Bagaimana pun tiga film sebelumnya (The Order of the Phoenix, Goblet of Fire, dan Prisoner of Azkaban) sudah mengalami perubahan plot yang prinsip. Misalnya, yang saya ingat sekarang, bagaimana peran house-elf Dobby yang hilang pada film keempat dan kelima.  Bukan karena Dobby adalah salah satu karakter idola saya (selain Severus Snape, Luna Lovegood dan Ron Wisley tentunya), tapi penting sekali untuk memberi warna aksi heroid Dobby pada seri terakhir, The Deathly Hallow (bagi yang sudah membaca tentu mengerti apa yang saya maksud).

Untuk The Half-blood Prince sendiri, plot tentang  “pangeran berdarah campuran” sudah dekat dengan apa yang ada di buku. Sisanya, saya kurang ingat karena baca bukunya sudah beberapa tahun silam.

Film didominasi latar gelap — mungkin sesuai dengan salah satu tagline-nya “the dark lord revealed”. Ini tentu menambah semangat tidur bagi Anda yang merasa bosan karena kurangnya aksi-aksi mendebarkan — tidak sebanyak film kelima yang aksi-aksinya layak dihargai dengan tiket Rp 20.000,00. Meskipun gelap, jangan berpikir bawa lampu atau senter karena tentu ini akan merusak suasana. Jangankan lampu senter, cahaya dari layar selpon saja sudah merusak suasana. Ini yang saya rasakan karena orang yang duduk di sebelah saya sering sekali mengotak-atik selponnya (entah sms atau apa), menyilaukan dan menganggu. Huh!

Bukunya sendiri, menurut saya, adalah prolog untuk mengakhiri cerita Harry Potter pada buku ketujuh. Kita dibawa berkeliling untuk berkenalan lebih jauh dengan Tom Riddle yang kemudian mengubah namanya menjadi Lord Voldermort. Kita diperlihatkan sebuah dilema anak berbakat yang terbuang dan kemudian memilih memakai bakatnya untuk menjadi penjahat. (Jadi ingat Michael Jackson yang masa kecilnya tidak berbahagia akhirnya setelah dewasa tetap ingin jadi anak-anak dan akhirnya meninggal dengan banyak meninggalkan perangai anak-anak.) Versi film kurang sukses memperkenalkan kita kepada Tuan You-know-who. Apa karena keterbatasan waktu ya?

Ada satu hal yang menjadi catatan menarik bagi saya. Film berhasil menunjukkan dua sisi kontras pada waktu yang bersamaan: saat banyak siswa yang sedang mabuk asmara, tertawa dan pesta, ada satu orang yang  tidak sempat melewatkan masa-masa indah itu. Bukan Hermione, bukan Harry, apa lagi Ron, melainkan Draco Malfoy. Misi takmungkin yang diberikan kepadanya, yaitu membunuh Dumbledore, dianggapnya sebagai sebuah penghormatan pada dirinya, bukan karena keheroikannya tapi memang karena kebodohannya. Kita semua tahu, Voldemort tahu Draco tidak mampu melakukan itu, tapi justru Voldemort ingin Draco mati sebagai hukuman atas ketololan ayah Draco yang berakibat fatal pada Voldemort.

Tapi, meskipun bodoh, Draco masih menyimpan sifat baik. Mungkin karena masih anak-anak seperti yang dikatakan ibunya kepada Snape di awal cerita. Film berhasil memperlihatkan bagaimana Draco merasa bersalah telah mencoba dua kali mencelakai Dumbledore, dan sesungguhnya mengharapkan Dumbledore untuk menolongnya.

Sisi baik Draco (atau juga bisa didebat sebagai sisi lemah atau bodohnya) terlihat juga saat berhadapan satu-satu dengan Dumbledore dan Draco berkesempatan besar langsung membunuh Dumbledore, Draco memilih untuk menurunkan tongkatnya. Jika saja para death-eater lainnya tidak datang, mungkin saja jalan cerita sudah berbeda. Dumbledore akhirnya mati di tangan Snape.

Bicara tentang kematian Dumbledore mengingatkan saya pada beberapa tahun silam ketika buku keenam baru saja dirilis. Banyak pro-kontra tentang kematian Dumbledore yang dianggap orang banyak ketidakwajaran. Saya ingat, salah satu situs yang mengulas dengan sangat apik ketidakwajaran kematian Dumbledore adalah www.dumbledoreisnotdead.com. Sang penulis betul-betul teliti dan berhasil menelanjangi kecerobohan alur dan aturan cerita yang dibuat J.K. Rowlings. Hebat! Situs itu sendiri akhirnya berubah nama menjadi www.beyondhogwarts.com setelah buku ketujuh keluar dan mengkorfimasi Dumbledore benar-benar mati. Sayangnya, Rowlings sampai saat ini membiarkan “kekeliruan” alur dan aturan cerita tersebut. Yah, menurut saya itulah perbedaan mendasar antara Rowlings dan Tolkien (menurut saya, untuk novel fantasi modern, belum ada yang sesempurna Tolkien).

Kembali ke film, keberhasilan kekontrasan ini ditambah dominasi gelap sepanjang film, saat Dumbledore mati semua penonton diam. Napas mereka pun seperti terhenti. Sangat berbeda dengan kondisi sebelumnya yang mana tawa dan kekeh terdengar bersahut-sahutan merespons aksi-aksi Ron yang lucu dan konyol.

Akhir kata, untuk sebuah film yang diangkat dari novel, saya beri nilai 6,5/10. Maaf, ini akumulasi dari penyimpangan dari Buku yang terlalu jauh yang sudah dimulai oleh tiga film sebelumnya). Untuk film itu sendiri, terlepas dari novel dan seri-serinya, saya beri 7,5/10. Kekontrasan yang saya ulas tadi memberi kontribusi besar pada penilaian saya ini. Untuk akting para pemain film, saya beri nilai 9/10, hehe, karena menurut saya mereka seperti sudah menjadi seperti tokoh novel sesungguhnya. Apa karena sudah terlalu lama main film yang sama ya?

Oke, selamat menonton!

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

5 thoughts on “Review Film Harry Potter 6”

  1. huah…..
    pak feb udah nonton,jd penasaran pgn nonton jg!!!
    tp antreY puanjang bgtz y….

  2. hmmm….
    sy setuju bgt ne pak…
    memang dari film2 sebelumnya ada beberapa yang g diangkat kfilm mngkn karna kterbatasan wktu…

    menurut sy wajar sekali jika Dobby g muncul pada film ini. krna pada seri ini menekankan pada sisi romantis dan komedi cz ini da tahun k enam….

    untuk nilaix sy jg sependapat sama p.feb…

Leave a Reply