Bahasa, oh Bahasa…

It’s been a while, yes,  a month ago I wrote my latest article in this blog. Banyak yang terjadi sehingga saya tidak sempat menulis. Saya jadi merenung, siklus ini terjadi secara berulang. Ada masa di mana saya dapat menulis banyak, tapi kemudian idle dalam waktu yang cukup lama. Mungkin memang idealnya “biarlah sedikit tapi rutin” daripada “rezeki ular, sekali dapat banyak kemudian puasa berpekan-pekan.”

Saya ingat, setelah menulis tentang Harry Pottter, saya sibuk dengan persiapan empat mahasiswa saya yang hendak maju sidang skripsi. Alhamdulillah semua lulus dengan nilai yang sangat baik, tapi yang lebih penting daripada itu mereka mengaku mendapat banyak pengalaman berharga selama bekerja dengan saya. Tentu saja banyak kekurangan sana-sini yang saya nilai wajar, karena dari awal memang kami tidak berniat untuk mencapai hasil yang sempurna melainkan proses yang sempurna.

Ada satu catatan kecil saya tentang mahasiswa saya ini. Saya temukan keempat mahasiswa bimbingan saya tersebut terkendala dalam penulisan laporan mereka. Karena saya mengikuti dari awal perkembangan pekerjaan mereka, saya dapat menilai bahwa mereka tidak mampu menuangkan seutuhnya apa yang mereka kerjakan ke dalam laporan. Ini tentu mengurangi bobot “narsis”, hehe, karena bagaimana pun laporan selain berperan sebagai karya tulis ilmiah juga sebagai alat promosi seberapa bagus kita bekerja.

Menulis laporan ilmiah adalah salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang sarjana, tidak peduli dari jurusan apapun. Kemampuan ini juga yang menjadi salah satu pembeda antara tingkat S1 dan tingkat D3. Artinya, apapun yang prestasi seorang mahasiswa selama kuliah, berapapun ipk mereka, kalau mau lulus maka harus mampu menulis laporan ilmiah dengan baik dan benar. That’s a deal and no bidding for that.

Bahasa. Masalahnya ada pada bahasa. Ini tidak hanya terjadi pada mahasiswa saya itu saja, tapi pada kita semua. Mungkin karena warga negara Indonesia, kita merasa sudah otomatis mampu berbahasa Indonesia. Padahal sebenarnya tidak harus, mau bukti? Berapa banyak di antara kita yang dapat nilai sempurna ketika ujian akhir di SD, SMP, SMA, sampai perguruan tinggi? Ada saja yang salah, ada saja yang terpeleset, padahal ujiannya objektif, hehe.

Kesalahan paling banyak saya temukan adalah penggunaan awalan “di”. Berkali-kali saya temukan kata “dimana”, “diatas”, “dibawah”, “disamping”… Padahal, “di” hanya disambung jika bertemu dengan kata kerja.

Kesalahan berikutnya yang saya temukan adalah kalimat yang tidak cukup syarat menjadi sebuah kalimat. Padahal, sebuah kalimat dalam laporan ilmiah, setidak-tidaknya, harus memiliki komponen subjek (S), predikat (P), dan objek (O). Akibatnya, kalimat yang mereka tulis sering tidak efektif dan bahkan hanya sekedar kumpulan kata-kata tanpa makna.

Kemudian, pemilihan kata. Dalam penulisan laporan ilmiah, sedapat mungkin kita memilih kata yang tidak memiliki makna ganda. Contohnya “temperatur” dan “suhu”, sebaiknya memilih “temperatur” karena “suhu” memiliki dua makna: temperatur dan guru. Begitu juga kata “dapat” dan “bisa”. Kata “bisa” memiliki dua makna, yaitu dapat dan racun dari mulut binatang (bisa ular, misalnya). Tentu saja pemilihan kata takbaku diharamkan dalam laporan ilmiah. Misalnya, “bikin” bukanlah kata baku, begitu juga dengan akhiran “-in” dalam “dibuatin”. Apaan ini?

Dan terakhir, beberapa kesalahan trivia seperti kata “antara” harus disandingkan dengan “dan”. Contoh: “interaksi antara elektron dan fonon”, bukan: “interaksi antara elektron dengan fonon”. Begitu juga kata “dengan” sebaiknya disanding dengan kata benda, bukan kata kerka. Contoh: “dengan menggunakan metode DFT” dapat diganti menjadi “dengan metode DFT” tanpa mengubah makna kalimat.

Namun, di atas semua ini, ada hal yang sangat membanggakan: mereka semua menulis dengan LaTeX! Hehehe.. sangat membanggakan. Mereka adalah pelopor pengguna LaTeX di Unair, khususnya di Fakultas Sains dan Teknologi.

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

4 thoughts on “Bahasa, oh Bahasa…”

Leave a Reply