Kota Padang Tercinta, Sampai Kapan Engkau DiizinkanNya Bertahan?

Gempa di ranah kampung halaman 30 September 2009 sebesar 7,9 SR jelas merupakan berita duka bagi saya. Tidak perlu banyak alasan untuk menjelakan kenapa.

Lepas gempa, seperti biasa, bala bantuan datang. Terlepas dari kendala-kendala yang ada, saya sangat berterima kasih kepada tim relawan dan para donatur yang telah menyumbangkan apa saja yang bisa disumbangkan.

Gempa memang salah satu fenomena unik, dekat dengan kita tapi kita tidak pernah dapat memprediksinya. Saya pernah berujar, bisa saja kita tidak sempat menyaksikan matinya Matahari karena umat manusia sudah lebih dahulu musnah karena gempa. Ini terkait dengan pertanyaan: kalaulah dapat memilih, mana yang lebih suka, kiamat karena matinya Matahari atau kiamat karena guncangan Bumi?

Saya sepakat dengan tulisan di situs BMKGBerita ilmiah versus berita publik, tentang prediksi gempa“. BMKG menulis:

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika menyatakan bahwa isu akan terjadi gempa bumi dengan skala besar adalah isu belaka. Masyarakat diharapkan tidak percaya akan isu tersebut. Sampai saat ini, belum ada teknologi yang mampu mendeteksi kapan, di mana serta kekuatan gempa bumi akan terjadi.

Benar… saya sepakat; sepakat dalam konteks bahwa tidak pantas (inappropriate) memberitakan prediksi-prediksi gempa yang lebih besar akan terjadi yang akan meluluhlantakkan ranah Minang dan sekitarnya. Dan tidak perlu alasan panjang lebar untuk menjelaskan ketidakpantasan ini.

Prediksi Gempa

Namun, bagaimana dengan prediksi itu sendiri? Prediksi yang menyatakan bahwa akan ada gempa yang lebih dahsyat yang dapat menghilangkan kota Padang?

Saya memang pernah mendengar bahwa sudah ada riset yang memprediksi akan terjadi gempa yang sedemikian dahsyatnya sehingga kota Padang (dan beberapa kota lainnya) akan menghancurkan total kota Padang (dan beberapa kota lainnya di pesisir laut barat Sumatera). Koran online BBC News misalnya, menulis dalam artikel “Padang lives with quake stress

Gempa besar yang menghantam daerah Sumatera pada hari Rabu dan Kamis silam sudah diperkirakan oleh para ilmuwan.

Hanya saja mereka tidak mampu mengatakan dengan tepat di mana dan kapan goncangan akan terjadi, tapi pemahaman mereka terhadap apa yang memicu kejadian gempa ini telah bertambah sangat banyak.

Menurut artikel tersebut, pemahaman kita terhadap gempa berasal dari evolusi garis celah antarlempeng tektonik. ini terbukti pada 26 Desember 2004: gempa (dan kemudian diikuti tsunami) Desember 2004 terjadi akibat evolusi celah warna coklat kayu (lihat gambar). Kekuatan gempa saat itu terukur sampai dengan 9,3 Skala Richter (SR).

Gempa ini kemudian diikuti oleh gempa 8,7 SR pada Maret 2005 yang berasal dari evolusi celah warna kuning. Akibatnya, garis celah pada batas lempeng ini mengalami ketegangan (atau stres) yang sangat tinggi. Jadi, tidak heran terjadi lagi gempa, kali ini di daerah celah warna nila terung pada tahun 2007. Gempa ini tercatat berkekuatan 8,4 SR, dan diikuti oleh gempa-gempa susulan 7,9 SR dan 7,1 SR.

Sekarang, tinggal daerah celah warna orange (jingga) yang belum berevolusi. Tetangga atas dan bawah sudah, sehingga menyisakan ketegangan yang sangat besar pada daerah celah berwarna kuning. Celah ini panjangnya sekitar 300 km.

Dengarkan apa kata Prof. John McClowsky dari Universitas Ulster, Coleraine, Inggris.

Kami tahu banyak tentang gempa di daerah ini. Kami yakin bahwa daearh di bawah pulau Siberut yang terletak tepat di tengah-tengah celah ini (daerah berwarna kuning) belum bergeser semenjak gempa besar 200 tahun yang lalu. Gempa terakhir di daerah ini terjadi pada tahun 1797.

Kami tahu seberapa cepat lempengan menyatu sehingga kami dapat menghitung seberapa besar ketegangan terakumulasi di sana; dan kami tahu dari perhitungan-perhitungan itu bahwa jumlah ketegangan yang ada di sana sekarang telah melebih ketegangan saat gempa 200 tahun yang lalu terjadi.

Pertanyaannya: Apakah gempa 7,6 SR 7,9 SR Rabu pekan lalu (dan gempa-gempa susulan sesudahnya) telah melepaskan sejumlah ketegangan pada daerah celah berwarna kuning ini?

Perhitungan dan analisis harus dilakukan lagi, namun sejumlah ahli yang mengenal betul daerah ini mencurigai bahwa gempa 7,6 SR belum berdampak apa-apa pada tingkat ketegangan daerah celah berwarna kuning — artinya akan dan harus terjadi gempa yang lebih besar lagi, mungkin di atas 8 SR, untuk membuat ketegangan pada celah kembali “normal”.

Melihat lokasi celah pada laut dangkal dan berjarak kurang dari 40 KM dari pantai Padang, maka gempa berkekuatan 8,5 SR dari celah ini dapat mengakibatkan tsunami setinggi 5 meter dan menghantam kota Padang 30 menit setelah gempa.

Kota Padang Tercinta, sampai kapankah sesungguhnya engkau diizinkanNya untuk bertahan?

Numerologi Gempa

Ada lagi yang menjadi perhatian saya. Seorang mahasiswa saya mengabarkan bahwa dia mendengar gempa di Padang terkait dengan ayat Al Quran. Gempa yang terjadi pada pukul 17:16 WIB (dan benar kalau merujuk pada situs BMKG). Ini terkait dengan surat ke-17 (yaitu Al Isra) ayat 16 yang artinya,

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

Dari terjemahan ayat tersebut, sepertinya memang begitulah yang terjadi. Orang-orang di kota Padang telah durhaka, mereka hidup mewah tapi tidak taat kepada Allah. Tapi, apakah kota Padang (dan juga Pariaman) telah benar-benar hancur sehancur-hancurnya?

Atau, bagaimana jika angka 17:16 WIB diganti dengan 5:16pm, maka berarti ini surat Al Maidah ayat 16 yang artinya,

Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

Atau, karena memakai jam Singapur, maka kejadiannya terjadi pada 18:16, berarti surat Al Kahfi ayat 16 yang artinya,

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.

Dan tentu banyak lagi yang bisa ditanyakan sehubung dengan angka ini. Kita dapat lakukan gutak-gatuk angka (numerologi) dan mencocok-cocokkan dengan ayat-ayat dan surat-surat Al Quran yang kita rasa memang pas dan memberi penjelasan.

Mungkin, dengan teknik ini, kita dapat mencari jawaban atas pertanyaan para ilmuwan di atas akan waktu dan kekuatan gempa yang dapat terjadi di daerah celah berwarna kuning…

Di dalam Al Quran memang banyak angka-angka. Ada orang yang khusus mempelajari angka-angka dalam Al Quran. Sepanjang yang saya tahu, angka 9 adalah angka favorit dalam Al Quran karena sering disebut. Beberapa di antaranya Al Kahfi ayat 18

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)

dan An Naml ayat 27

Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.

Dan tentu, yang mungkin paling terkenal adalah Al Mudatsir:

[27] Tahukan kamu apakah neraka Saqar itu. [28] Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. [29] Neraka Saqar adalah pembakar kulit manusia. [30] Dan di atasnya ada sembilan belas malaikat penjaga. [31] Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orng-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia

Begitulah…

Dapat jadi memang, pukul 17:16 terkait dengan Al Quran. Tapi, menurut saya, ini bukanlah cara yang beradab untuk menerjemahkan Al Quran. Wallahualam.

Akhir kata, saya pinta doa dari Anda para pembaca supaya kami para korban diberi kekuatan, kesabaran, dan ketabahan untuk menempuh ujian ini.

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

4 thoughts on “Kota Padang Tercinta, Sampai Kapan Engkau DiizinkanNya Bertahan?”

  1. Semoga Warga Indonesia dan Padang dan sekitarnya pada umumnya di berikan ketabahan atas musibah yang melanda daerah tersebut. Semoga kita bisa bangkit menjadi masyarakat yang lebih maju, madani. amin….

Leave a Reply