10 Alasan Saya Mencintai Ira (bagian 1)

ira_wedding2Seorang isteri adalah pakaian bagi suaminya, begitu juga sebaliknya. Seorang isteri menjadi penyempurna ibadah suaminya, begitu juga sebaliknya. Dalam kalimat, seorang isteri adalah subjek, seperti suaminya, bukan objek. Seorang isteri adalah pejuang bersama suaminya, meskipun dapat menjadi fitnah, yang tanpanya sang suami seperti pendekar tanpa jurus. Dan daftar ini dapat terus dilanjutkan untuk menggambarkan bagaimana kerennya para isteri.

Sebuah hadits menceritakan, seorang pemuda bertanya siapakah yang harus dihormatinya. “Ibumu,” jawab Rasulullah. “Siapa lagi ya Rasul,” “Ibumu.” “Siapa lagi ya Rasul,” “Ibumu”. “Siapa lagi ya Rasul,” “kemudian Bapakmu.” Rasulullah menjawab tiga kali untuk ibu dan kemudian baru bapak (dan itupun cuma satu kali). Ini bukan berarti si bapak punya tiga isteri sehingga si anak harus menghormati masing-masing ibunya baru bapaknya. Jumlah tiga menunjukkan betapa tingginya kedudukan sang ibu (isteri kita) daripada bapak (kita!)

Tulisan ini saya dedikasikan untuk Ira, isteri saya, sebagai bagian dari kado ulang tahunnya dan persiapan untuk kado ulang tahun pernikahan kami – inilah konsep “menjamak kado”. Ini adalah sebuah kompilasi perasaan dan pemikiran, sepuluh alasan kenapa Uda mencintaimu. Tentu saja masih banyak alasan lain, cuma biar judulnya keren, cukup dibatasi sampai 10 saja. Angka 10 kan identik dengan sempurna.

Pertama, karena Ira adalah isteri saya, hehe. Ini jelas dong, tak dapat disanggah lagi. Sebenarnya, cinta dulu baru nikah, atau nikah dulu baru cinta sih? Bagi saya ini sejenis dengan pertanyaan duluan mana ayam atau telur? Ada orang yang jatuh cinta dulu baru nikah, ada juga sebaliknya. Dalam hadits, Rasulullah menyebutkan empat hal yang menjadi pertimbangan orang menikah, yaitu rupa, harga, garis keturunan, dan agama. Tidak ada cinta di sana. Bukan berarti menikah tanpa cinta haram, tentu saja ini akan lebihbaik. Yang jelas, saya menikah dulu baru pacaran he he he…

Kedua, karena Ira pintar, cantik, sehat, dan semua alasan fisik lainnya. Isteri saya mampu melayani hasrat diskusi saya yang memang tinggi sampai berjam-jam. Ingatan sejarahnya kuat, kadang kejadian yang saya rasa tidak perlu pun dia ternyata mengingatnya.

Tidak lupa, sembari diskusi saya disuguhi kopi dan goreng-gorengan ringan lainnya.  Mungkin memang kelebihan perempuan, dapat bekerja sambil terus bicara. Saya tidak mampu melakukan multitasking jika sudah melibatkan mulut. Kelemahan ini dimanfaatkan betul oleh isteri saya kalau lagi iseng ingin menganggu. Karena tahu saya pasti akan menjawab setiap sapaan dan pertanyaannya, sering dia mengajak saya bicara ketika saya sedang dalam konsentrasi tinggi, misalnya sedang membaca koran. Walhasil, setelah puluhan menit berlalu, satu paragraf pun belum mampu saya pahami…

Perkenalan pertama kami pun melibatkan persamaan Schroedinger. Sebuah kenangan yang tak terlupakan… Sudah pasti akan menjadi bahan cerita untuk anak-cucu nanti, hehehe.

Saya mungkin tidak terlalu pintar, tidak terlalu ganteng, dan tidak terlalu sehat (tapi bukan penyakitan!!!). Karena itu, semoga Allah memberikan anak-keturunan yang lebih baik daripada saya. Perbaikan keturunan, kata orang ^^

Ketiga, jenaka dan ceria. Hari-hari bersama Ira tidak pernah menjemukan. Setiap saat ada saja kejadian lucu yang diciptakannya, sengaja atau tidak. Suatu saat, ban luar sepeda motor kami sudah semakin tipis. Artinya, harus diganti kalau tidak mau menyesal belakangan. Ira sangat tertarik dengan hal-hal beginian, setelah melakukan perenungan yang dalam dia berkata, “daripada diganti, apa ga sebaiknya ban itu dibalik saja Da.” Maksudnya, kulit dalam dipelintir keluar, sehingga yang dalam menjadi di luar dan sebaliknya. “Nanti, kita minta tukang pahat mengukir kulitnya biar jadi baru lagi.”

Saya terpana, mahasiswa saya yang kebetulan hadir di antara kami terdiam…

Nantikan kelanjutannya! He he he…

Technorati Tags: ,

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

6 thoughts on “10 Alasan Saya Mencintai Ira (bagian 1)”

  1. wah tulisan yang menarik Bang….sarat pengalaman,
    Istri adalah partner suami dalam berjuang agar lebih baik lagi, saling melengkapi dan menguatkan. Dan Disamping orang-orang yang “besar” terdapat wanita (istri) yang hebat 🙂

    kelihatannya tentang pertemuan dengan Istri Bang Febdian dan hubungannya dengan persamaan schrodinger menarik juga kalau dipost di blognya, 🙂

    Salam

  2. Nice post……Bang
    Tapi kalo kisah tentang pertemuan yang melibatkan Persamaan Schroedinger itu lebih di perjelas lagi (apalagi kalo dibuatin posting sendiri) bakalan lebih seru tuch Bang Feb……
    Secara…. Q paling ogah-ogahan kalo udah ketemu ama yang namanya pers.Schroedinger, kali aja dengan postingan Bang Feb bisa memacu untuk menyenangi Pers.Schroedinger…(sambil berharap kejadian yang serupa terjadi juga ma Q….. wkwkwkwk)

    😉

  3. soal ban dalam jadi ban luar sbnrnya itu ide yg brilian, bhasa kerennya ‘out of the box’ jd perlu di kembangkan ide2 semacam itu pk,..spt einstein yg diragukan saat teori relativitas umumnya tidak blm dpt di buktikan(jd inget mata kuliah sej fis yg di bawakan pk feb dulu nih,..hihi)

  4. Alasan ke-Empat dan selanjutnya mana nich……..
    Kan awal mau ngasih 10 alasan………..

    Trus kisah si Schroedingernya juga lum muncul……

  5. …kalo bang buyung has “10 reason to love mbak ira” so mungkin aku have only one reason to love mbak icha 🙂

Leave a Reply