Pembahasan Listerik oleh (Mantan) Reporter

JP_091114_DahlanIskan_a

Tapi, mengapa memperbaikinya perlu waktu lebih dari satu bulan? Membuat kehebohan di Jakarta tidak segera reda? Mengapa orang Jakarta tidak sesabar orang-orang di luar Jawa yang listriknya sudah bertahun-tahun mati terus? Mengapa di luar Jawa tidak heboh? (Yang luar Jawa ini sebenarnya heboh juga. Tapi, karena letaknya jauh dari Jakarta, maka hebohnya tidak sampai ke telinga pusat kekuasaan. Seperti menguap ditelan gelombang laut Jawa).

(Dahlan Iskan dalam “Perbaikan Gardu Listrik nan Lama”, Jawa Pos 14 November 2009) – tulisan lengkap dapat Anda unduh di akhir artikel ini.

Haha… Setelah sekian lama saya membaca tulisan beliau, hari ini saya tidak tahan untuk tidak berkomentar. Lugas, cerdas, dan jenaka. Tiga kata itu cara saya menggambarkan beliau.

Tulisan tentang petaka pemadaman listrik di Jakarta ini seharusnya keluar dari salah satu karyawan PLN, atau dari seorang yang kerjanya tidak jauh dari PLN. Saya tidak tahu apakah sudah ada orang yang saya maksud menulis di koran atau di blog. Tapi, apa yang ditulis Bung Dahlan sangat layak diacungkan jempol.

Mampu membuat orang mengerti tentang topik yang bukan bidangnya adalah syarat mutlak seorang penulis (dan juga guru). Bung Dahlan memilikinya dan saya juga ingin memiliki kemampuan seperti dia!

Saya tidak kenal Dahlan Iskan sebelumnya. Saya baru tahu beliau setelah pindah ke kota Surabaya dan tanpa sadar menjadi pembaca koran harian Jawa Pos. Bagaimana tidak, setiap kantor yang saya kunjungi, setiap ruangan yang saya singgahi, di sana tergeletak koran harian Jawa Pos. Pelan tapi pasti dan tak disadari, jadilah saya pembaca setia koran ini.

Seingat saya, catatan Dahlan Iskan pertama yang mencuri hati saya adalah tentang pengalaman transplantasi hatinya yang Alhamdulillah sukses. Tidak banyak memang pasien cangkok hati yang setangguh Dahlan Iskan. Cak Nur dan Angky Camaro adalah dua tokoh yang dalam satu sisi tidak seberuntung Dahlan Iskan. Mungkin ini memang skenario Allah bagi Bung Dahlan untuk terus berkarya lewat tulisan-tulisannya yang lugas, cerdas, dan jenaka.

Coba perhatikan, catatan beliau tentang menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2,

Rasanya, hanya empat menteri ini yang menarik untuk diulas. Selebihnya tentu harus dilihat dulu dalam waktu 100 hari ke depan. Kalaupun tidak mau menunggu, juga tidak apa-apa. Siapa yang mau peduli dengan nama Agung Laksono, atau Linda siapa itu, atau siapa pun yang menjadi menteri daerah tertinggal.

(Catatan Dahlan Iskan: Cermati Empat Menteri dalam 100 Hari Pertama, Jawa Pos 22 Oktober 2009)

Haha… bagaimana, Anda paham kan maksud saya dengan lugas, cerdas, dan jenaka?

Unduh

Catatan Dahlan Iskan: Perbaikan Gardu Listrik nan Lama (format JPG) halaman depan dan sambungan.

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

Leave a Reply