Oi, Jangan Lupa Harga Bahan Makanan Naik Terus!

Akhirnya datang juga akhir dari kejuaraan dunia sepak bola itu… Sebuah tontonan yang paling banyak ditonton umat manusia seantero jagad raya.

Kejuaraan dunia sepak bola, atau biasa disebut Piala Dunia (world cup), memang memiliki dampak yang luar biasa pada segala aspek kehidupan manusia. Sebutlah ekonomi, sosial, budaya, komunikasi, teknologi, bahkan politik dan agama! Negara-negara yang tampil di Piala Dunia pasti terangkat harkat dan martabatnya, meskipun mungkin negeri mereka bukan termasuk negara maju. Piala Dunia juga mengindikasikan kondisi dalam negeri mereka: bahwa yang tampil biasanya dari negara yang teratur dan terorganisir.

Saya tidak punya data kuantitatif memang, tapi itu yang saya selidiki (lewat Internet tentunya) seperti Korea utara, Korea Selatan, dan sejumlah negara di Afrika  seperti Ghana dan Nigeria. Pemerintahan mereka, walau mungkin tidak bersih-bersih amat, tapi memiliki program ekonomi dan pendidikan yang jelas.

Jumlah penduduk juga tidak menentukan. Siapa yang mengatakan jumlah penduduk yang besar akan melahirkan pesebakbola yang tangguh? Brazil dan Indonesia dapat dijadikan perbandingan. Begitu juga sebaliknya, Uruguay dan Brunei Darussalam dapat dijadikan perbandingan.

Begitulah… selama sebulan, bahkan lebih, berita Piala Dunia selalu menjadi topik utama di semua media. Saya pribadi memilih situs berita BBC sebagai rujukan — soalnya fifa.com lambat sekali diakses lewat telkomsel flash.

Kita membaca tentang Perancis dan Italia yang kena karma, tentang Inggris yang tidak punya mental juara, tentang Argentina yang miskin taktik, tentang Jerman yang antiklimaks, tentang Ghana yang fantastis, dan tentang-tentang yang lainnya. Saya sendiri menikmati sebulan terakhir ini, rileks, dan sungguh menghibur.

Menghibur? Sungguh… terutama karena saya tidak punya tim khusus yang saya jagokan. Dulu sich punya, Argentina (zamannya Diego Maradonna sampai Gabriel Batistuta) dan Jerman (zamannya Rudi Voller sampai Jurgen Klinsmann). Namun kemudian saya putuskan tidak lagi memiliki tim jagoan, karena sangat menanggu kenikmatan saya menonton sepakbola. Jika menang senang, jika kalah sedih… padahal yang main bukan saya dan bukan negara saya, kalaupun menang tidak ada dampak finansial buat saya, hehe.

Akhirnya saya menyukai sepakbola, bukan tim sepakbola. Bagi saya tidak masalah siapa yang menang, selama permainannya seru dan menghibur.

Menghibur… ya, itu kata kuncinya. Saking menghiburnya, Piala Dunia telah menenggelamkan banyak berita-berita lain yang tidak menghibur. Berita Gaza yang sempat panas sebelum Piala Dunia dimulai hilang. Begitu juga berita tentang harga-harga bahan makanan di dalam negeri yang terus meroket.

Saya sadar baru hari Rabu malam kemarin, saat membaca koran Republika sambil menunggu pertandingan Jerman vs. Spanyol. Sudah dua tahun belakangan ini saya memang tidak pernah lagi baca koran edisi cetak, selalu merujuk pada koran online. Sungguh berita yang mengagetkan. Saya sempatkan untuk mencari berita terkait di situs Republika.co.id, dan memang ada beberapa berita terkait tentang hal ini.

Menjaga harga bahan makanan, menurut saya, adalah tugas paling penting bagi pemerintah, di samping menjaga keamanan dan ketentraman penduduknya.

Akhir-akhir ini kita direpotkan oleh kasus-kasus korupsi dan politik yang tidak pernah ada penyelesaiannya. Sebut saja kasus Bank Century, kasus Susno Djuadi, kasus Gayus, dan yang teranyar adalah kasus rekening para perwira. Tapi, mana kasus harga bahan makanan yang makin menggila itu?

Pemerintah harus berbuat sesuatu tentang hal ini. Saya percaya, mereka pasti sedang berbuat sesuatu… tapi jangan terlalu lama dong!

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

Leave a Reply