Kebijakan Riset di Cina Membuat Tidak Inovatif, Kalau di Kita?

Sambil menunggu akses Internet aktif kembali di kantor, saya membaca majalah Physics World edisi Desember 2010 (Volume 23 No. 12). Seperti biasa, Physics World menghadirkan banyak berita tentang perkembangan riset terkini dengan bahasa popular. Berita utama mereka tentang membaca DNA lebih cepat dengan bantuan lembaran dua dimensi graphene dan tentang apa saja yang kita ketahui bagaimana serangga dapat menempel di mana saja (kaki adesif). Namun bukan itu yang membuat saya termenung.

Ada dua artikel yang menarik perhatian saya, pertama adalah  Ministry defends ‘wasteful’ research, dalam kolom “News & Analysis”. Artikel ini mengulas tentang reaksi pemerintah Cina atas editorial di majalah Science, edisi 3 November 2010, yang melibatkan Yigong Shi dan Yi Rao, dekan fakultas Life Sciences dari Universitas Beijing dan Universitas Peking, berturut-turut. Shi dan Rao menyatakan bahwa riset di negara mereka membuang sumber daya, korupsi semangat, dan masih miskin inovasi. “Masalah-masalah yang merajalela dalam pembiayaan riset – beberapa di antaranya disebabkan oleh sistem dan sejumlah budaya lainnya – telah memperlambat laju potensi inovasi Cina,” tulis mereka . “Sudah menjadi rahasia umum bahwa melakukan riset yang bagus tidaklah sepenting merayu birokrat dan ahli favorit mereka.”

Artikel ini direspons oleh pemerintah Cina.  Perdana Menteri Cina, Wen Jiabao, meminta kementerian sains dan teknologi mengubah kebijakan sains yang dianut oleh negara tersebut. Tentu saja menteri yang bersangkutan membela diri, mengatakan bahwa sistem pembiayaan riset yang mereka lakukan telah mengikuti prosedur-prosedur berstandar internasional.

Artikel ini juga direspons oleh Scoot Chang dari Universitas Alberta, Kanada. Chang mengatakan bahwa pihak-pihak pemberi dana di Cina sering membuat aturan ketat tentang berapa bagian dari jumlah dana riset yang boleh diambil sebagai honor. Padahal, kemampuan sebuah grup riset untuk mengangkat seorang ilmuwan muda berbakat yang dibutuhkan grup tersebut adalah bagian paling penting untuk menyukseskan program riset tersebut.

Setidaknya ada dua hal yang dapat kita bahas dari kejadian ini. Pertama, otoritas pemerintah Cina, tidak tanggung-tanggung perdana menteri langsung, merespons positif kritikan tulisan. Pemerintah kita mungkin dapat menganalisis kejadian ini lebih detil, mempelajarinya, dan membuat langkah-langkah radikal untuk memperbaiki kondisi riset di tanah air.

Sepertinya semua orang setuju bahwa riset di sebuah negara menjadi tolak-ukur kemajuan negara tersebut. Berbicara kemajuan berarti berbicara banyak aspek: finansial, sosial, budaya, sanins, teknologi, edukasi, dan lain-lain. Salah satu ciri negara maju adalah perhatian pemerintah yang besar (dan nyata) pada riset. Di negara kita juga banyak masalah terkait pendanaan riset, dan kalau mau melebar dengan hasil riset itu sendiri. Sudah banyak kritikan yang dilayangkan oleh para pelaku riset atau orang-orang terkait, baik melalu media massa ataupun dalam rapat-rapat. Saya yakin ada respons dari pemerintah, tapi yang saya belum yakin bentuk responsnya itu benar-benar telah menyelesaikan akar permasalahan. Jangan tanya bukti kepada saya Smile

Kedua, yang paling penting, adalah respons Chang bahwa “kemampuan sebuah grup riset untuk mengangkat seorang ilmuwan muda berbakat yang dibutuhkan grup tersebut adalah bagian paling penting untuk menyukseskan program riset tersebut.” Saya setuju dengan Chang. Program riset tidak hanya mencapai tujuan riset tersebut, tapi juga mengkader para ilmuwan-ilmuwan muda. Kaderisasi, di mana pun, adalah satu-satunya jawaban atas masalah sustainability. Sepanjang pengetahuan saya, hibah-hibah riset oleh negara kita belum ada yang menyentuh aspek kaderisasi ini. Rasanya kaderisasi hanya lewat CPNS.

Artikel kedua Inside Penrose’s universe, sebuah ulasan buku Cycles of Time: An Extraordinary New View of the Universe karya terbaru fisikawan-matematikan Roger Penrose. Sedikit tentang ide Penrose ini sudah pernah ditulis di kompas.com. Mungkin akan saya bahas lagi nanti secara khusus… karena ternyata akses Internet di PC kerja saya sudah aktif hehehe Hot smile

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

4 thoughts on “Kebijakan Riset di Cina Membuat Tidak Inovatif, Kalau di Kita?”

  1. Jempol unt pemerintah Cina… Apalagi respon dari Chang.
    BTw kapan ya,, pemerintaah qt peduli dg riset2 yang ada di Indonesia?
    sptnya,,, pemerintah lebih tertarik dg pertandingan garuda VS philipin….

  2. saya setuju kalau banyaknya aliran dana untuk riset menjadi tolok ukur kemauan suatu bangsa untuk maju, saya juga tidak pesimis kita bisa melakukannya. masih banyak anak-anak muda yang punya visi sama dan ingin maju bersama membangun negeri ini. saya yakin anak muda Indonesia tidak kalah dengan anak muda dari luar sana. yang terpenting menurut saya mulai dari lingkungan terkecil kita dulu, keluarga, teman mari mulai untuk menciptakan suasana ingin maju, memang harus diakui kalau di kita publikasi hasil riset banyak tapi….yang dipublikasikan ke kancah dunia masih itungan jari, padahal tolok ukur lainnya untuk melihat perkembangan suatu negara adalah “banyak publikasi yang direcord di mancanegara” , ini tanda tanya besar, kenapa bisa begitu? tidak bisa dipungkiri, bukan cuma pemerintah dan kebijakannya tapi juga diri kita sendiri sudahkah kita melakukan sesuatu untuk memajukan wilayah yang terkecil (keluarga, lingkungan tempat tinggal kita)?? semua pihak harus ambil bagian.
    Menurut saya, sangat menarik membahas isu-isu seperti ini. saya ingin infokan juga, saat ini ada forum diskusi yang difasilitasi oleh UNESCO yang membahas isu science, technology, innovation dan kebijakannya. Menarik jika opini-opini kita semua dapat tersalurkan di forum resmi seperti itu. ini link nya http://stepan.org/sti
    Terimakasih, 🙂

  3. Memang regulasi pemerintah berdampak signifikan pada kemajuan riset dan teknologi.

    Dari kacamata pemerintah, sepertinya, tentu ujung segalanya adalah ekonomi, karena ekonomi adalah parameter terukur dan kasat mata untuk sebuah kesejahteraan rakyat.

    Ingin mandiri, maka regulasi cenderung memajukan/mengembangkan sains dan tekonologi. Tapi butuh waktu yang tentu tidak sebentar. Ingin cepat terlihat kaya, maka beli/impor saja hasil riset dan teknologi. Tapi kemudian banyak hutang. Hehe…

    Terma kasih tautnya, menarik 🙂

Leave a Reply