Menelaah Ranking Universitas Asia versi QS

Sejumlah kalangan akademis di Indonesia sedang heboh, sebagian senang sebagian menggerutu, terkait dirilisnya Asian University Ranking oleh QS lewat situsnya http://www.topuniversities.com. Untuk di dalam negeri, sampai tiga halaman pertama laman tersebut, ranking universitas diberikan oleh tabel berikut ini.

Ranking Universitas Klasifikasi Skor
50 Universitas Indonesia (UI) XL|FC 67.80
80 Universitas Gadjah Mada (UGM) XL|FC 54.40
86 Universitas Airlangga (UA) L|FC 52.10
98 Institut Teknologi Bandung (ITB) L|CO 47.60
128 Universitas Padjadjaran (Unpad) XL|FO 41.10
134 Institut Pertanian Bogor (IPB) L|FO 40.70

Tentu saja tabel di atas dirancang untuk dapat dipahami dengan mudah oleh para pembaca. Bahwasanya ranking menunjukkan kualitas, semakin kecil ranking berarti semakin berkualitas. Kualitas tersebut dikuantifikasi dalam bentuk skor. Artinya, di dalam negeri, QS meranking Universitas Indonesia sebagai universitas paling berkualitas dengan skor 67.80.

Namun, apakah ini berarti Universitas Indonesia lebih baik daripada Institut Teknologi Bandung? Jika kita lihat kolom klasifikasi, ternyata dua universitas ini berbeda jenis menurut QS. Klasifikasi pertama menunjukkan jumlah mahasiswa: L (large) berkisar antara 12.000 dan 30.000 orang: XL (extra large) berarti lebih dari 30.000 orang. Klasifikasi kedua menunjukkan jumlah fakultas: FC (fully comprehensive) menunjukkan jumlah fakultas yang lengkap, termasuk kedokteran; CO (comprehensive) melingkupi lima area fakultas, FO (focused) menunjukkan jumlah area fakultas lebih daripada dua. Jika kurang daripada dua fakultas, dikategorikan SP (Spesialis). Meskipun jumlah mahasiswa dan fakultas berkontribusi pada skor akhir, namun tidak layak membandingkan dua universitas atau lebih yang berbeda klasifikasinya.

Proses perangkingan

Namun ternyata, tidak hanya klasifikasi saja yang harus diperhatikan untuk menginterpretasikan dengan benar ranking universitas tersebut. Sejumlah hal lain juga harus dipertimbangkan, seperti pihak pembuat ranking dan metodologi yang dipakai.

Dalam laman “About QS” disebutkan bahwa QS adalah jaringan karir dan pendidikan global bagi para profesional yang ambisius yang mencari pengembangan baik personal maupun profesional. QS mengorganisir sejumlah acara pendidikan bisnis terbesar di dunia, seperti QS World MBA Tour, QS World Executive MBA Tour, dan lain-lain. QS juga melayani konseling untuk para klien terkait pendidikan tinggi. QS menyebutkan bahwa ambisi mereka adalah untuk menjadi perusahaan media, pengelola acara dan perangkat lunak terkemuka di dunia di bidang pendidikan tinggi. Pada alinea terakhir disebutkan semacam penafian (disclaimer) bahwa QS adalah tempat pertemuan on-line dan off-line paling terpercaya bagi pada kandidat, sekolah, dan bisnis untuk menentukan keputusan-keputusan terkait karir dan pendidikan.

Saya mengilustrasikan QS ini seperti lembaga konseling pendidikan tinggi, yang melayani klien yang ingin melanjutkan sekolah atau karir. Kita biasanya datang ke lembaga konseling untuk mendapatkan informasi “universitas apa sih yang keren,” atau “universitas apa yang cocok buat saya.” Sang konselor biasanya akan memberikan data profil universitas yang dia punya dari katalognya untuk menjawab pertanyaan kita.

Untuk meningkatkan akuntabilitas jasa konseling, konselor dapat membuat ranking universitas yang mereka buat sendiri berdasarkan sejumlah kriteria dan klasifikasi tertentu. Kita tentu saja dapat bertanya, “siapa konseling itu? Bagaimana reputasinya sehingga layak meranking universitas?” Siapapun dapat membuat ranking, dengan tingkat akurasi tertentu, dengan sebuah ilmu yang disebut Statistik.

Pihak konseling dapat mengirim kuisioner ke universitas-universitas yang diharapkan berpartisipasi. Sejumlah pertanyaan dapat diisi pihak universitas yang disurvei, sebagian lagi dicari sendiri oleh pihak konseling seperti penilaian juri (peer review). Setelah itu, dipandu dengan sejumlah metode dalam statistik, pihak konseling mulai mengkuantifikasi kuisoner tadi menjadi skor dan pada akhirnya jadilah “ranking universitas”.

Begitulah prinsip dasar bagaimana universitas diranking oleh sebuah lembaga. QS sendiri memaparkan metodologi rankingnya dalam laman mereka dan dapat diakses oleh umum. Memang kemudian boleh menjadi pertanyaan, tentang akurasi metode yang dipakai, tentang akurasi hasil yang didapat, dan tentu juga tidak kalah penting tentang kualitas si petugas yang meranking. Ini adalah hal yang biasa dalam dunia statistik.

Ranking Asia vs. Ranking dunia

Nah, sekarang mari kita kembali kepada ranking yang dibuat oleh QS. Jika kita klik masing-masing universitas di dalam ranking itu, kita akan dibawa ke laman tentang universitas terkait. Di salah satu menu di laman tersebut ada informasi tentang ranking universitas itu di dunia. Ada sejumlah penilaian di sana yang saya sarikan dalam tabel berikut.

Univ. Arts & Humanities Natural Sciences Eng. & IT Social Sciences Live Sciences Overalls Ranking Skor
UI 172 280 203 95 141 236 42.90
UGM 178 294 251 131 153 321 35.25
UA 301-350 N/A N/A 224 301-350 451-500 22.60
ITB N/A 212 93 207 247 401-450 28.60
Unpad N/A N/A N/A 301-350 N/A N/A N/A
IPB N/A 351-400 N/A 301-350 N/A 501-550 18.16

Tabel ini menyajikan informasi lebih daripada tabel pertama. Misalnya, untuk bidang Arts & Humanities (Seni dan Sastra), ranking UI di atas UGM. Sementara ITB, Unpad, dan IPB tidak dapat diranking (not available) karena sesuatu dan lain hal. Di bidang Natural Sciences (ke-MIPA-an) dan Engineering & IT (Rekayasa dan Teknologi Informasi), rangking ITB lebih baik daripada UI dan UGM.

Ada nilai kisaran, seperti peringkat UA di bidang Life Sciences 301-350. Itu berarti ada sekitar 50 universitas yang memiliki skor yang mirip dengan UA, dan karena terkait dengan metode statistik yang dipakai, QS tidak dapat meranking dengan tepat ke-50 universitas tersebut. Sehingga dipakai teknik “rentang”.

Bagaimana dengan Overall Ranking”? Overall Ranking menyatakan ranking universitas tersebut di dunia, menurut versi QS. QS menempatkan UI sebagai universitas terbaik di Indonesia, diikuti oleh UGM, ITB, UA, dan IPB. Sementara Unpad tidak memiliki ranking karena QS tidak memiliki informasi yang cukup.

Lalu, mengapa ranking di dunia berbeda dengan di Asia? QS memberi jawaban.

Ada empat hal yang memberikan perbedaan antara ranking dunia dan ranking Asia.  Pertama adalah data bibliometrik, yaitu jumlah publikasi per orang dan jumlah kutipan (citation) per publikasi. Untuk ranking dunia, QS fokus pada institusi terkemuka di negara masing-masing tetapi memiliki sebuah fokus global.  Sementara, untuk ranking Asia, definisi ini diubah menjadi “fokus pada negaranya masing-masing”. Sebagai konsekuensinya, publikasi berbahasa lokal pun dihitung untuk ranking Asia.

Kedua adalan internasionalisasi. Parameter ini diakui sangat rumit oleh QS. Mereka menambahkan sejumlah faktor pada ranking Asia yang tidak ada di ranking dunia. Misalnya, mereka mempertimbangkan faktor pertukaran staf dan mahasiswa antaruniversitas lintas Negara untuk ranking Asia tapi tidak untuk ranking dunia.

Ketiga adalah pembobotan. Untuk universitas yang kurang terkenal, bobot indikator penilaian juri (peer review) dikecilkan dan bobot indikator bibliometrik dibesarkan.

Dan keempat adalah dampak dan efek, yang mana QS mempertimbangkan respon dan tambahan data dari universitas dan pihak ketiga. Hal ini tidak dipertimbangkan pada ranking dunia.

Banyak hal yang dapat kita pelajari dari perankingan ini. Pro dan kontra boleh saja terjadi. Namun yang harus digarisbawahi adalah pertanyaan untuk diri sendiri, “apakah saya memang layak berada pada peringkat tersebut dibandingkan universitas yang lain?”

Saya rasa, pertanyaan seperti itu memang harus kita layangkan kepada diri sendiri. Selain menghindari rasa senang yang berlebihan sehingga akhirnya merusak diri sendiri, juga memberi pemikiran anti-kemapanan. Kita kemudian berpikir, misalnya, “apa benar saya ranking segitu, sementara pelayanan kemahasiswaan di tempat saya masih seperti ini?” – walau pertanyaan tersebut dapat dibalik, “saya yang seperti ini saja dapat ranking ini, berarti yang di bawah saya lebih …” Tapi, tentu bukan jenis pertanyaan terakhir yang saya maksud.

Begitulah. Saya percaya para sivitas akademika Indonesia tetap memiliki sikap kritis yang konstruktif untuk menyikapi segala sesuatu, termasuk ranking universitas Asia versi QS ini.

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

7 thoughts on “Menelaah Ranking Universitas Asia versi QS”

  1. Hmm… mantabs prajurit…. saya sangat terkesan dengan 2-3 alenia terakhir… dan yang sangat saya garis bawahi adalah semangat “anti-kemapanan” he he he.. memang sangat betul itu, tidak masalah kitamau bertanya dengan gaya ertanyaan seperti apa, tapi yang jauh lebih penting adalah sikap kita… Sukses buat prajuritku yang satu ini… (kayak pengemban sapta marga saja hihihihi… padahal kita “hanya” tri dharma qiqiqiqi…) Ok saya tunggu tulisan2 mu yang ain prajurit..

  2. Perangkingan oleh website2 oleh LSM atau lembaga luar negeri , tidak begitu valid.

    Mereka memberikan bobot yang sangat besar pada ilmu yang dipublikas di web universitas masing2. Dilain pihak hal tsb tidak mewakili kualitas pengajaran dan kualitas output dari universitas tersebut. Sehingga universitas klo kepengin tinggi rangkingnya tinggal meningkatkan SEO saja 🙂

    Mungkin mereka menggunakan standarisasi spt itu krn mereka tdk punya dana utk mengecek satu persatu univeristas di dunia. Sehingga menggunakan metode paling mudah.

Leave a Reply