Takut

Menurut KBBI, takut adalah merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yg dianggap akan mendatangkan bencana. Takut juga memiliki asosiasi dengan takwa — tapi bukan takut jenis ini yang saya bahas.

“Kenapa kita merasa takut?”

Ada banyak sudut pandang yang dapat dipakai untuk menjawab pertanyaan tersebut. Salah satunya adalah kekhawatiran kalau-kalau sesuatu yang buruk terjadi hanya pada diri kita.

Jalan sendirian di malam yang sepi dan gelap, kita merasa takut. Kita khawatir jangan-jangan ada penjahat yang akan mencelakan kita.

Meloncati jurang membuat kita takut karena jika gagal sampai di seberang kita jatuh dan maut menunggu.

Tinggal sendirian di rumah tua, kita merasa takut. Kita khawatir jangan-jangan ada hantu yang nanti akan merebut raga kita.

Itulah sebabnya ketakutan kita berkurang, atau bahkan hilang, jika ada yang menamani. Karena kita berpikir kecelakaan yang akan menimpa akan dibagi bersama teman tersebut.

Dengan cara berpikir ini, acara jurit malam jika diselenggarakan dengan baik dan benar seharusnya tidak membuat kita takut. Kenapa? Karena dari awal kita sudah tahu bahwa panitia tidak akan menginginkan kita cedera yang hanya membuat mereka repot dan bahkan berurusan dengan polisi.

Logika yang sama berlaku juga ketika kita melihat polisi di jalan, alih-alih takut, seharusnya kita merasa tentram karena polisi bertugas menjaga keamanan kita. Atau, para pelajar tidak perlu takut menghadapi ujian karena gagal ujian tidak akan membuat mereka celaka.

Lalu, kenapa para koruptor tidak takut melakukan kejahatannya? Sesuai dengan logika tadi, dapat dipastikan mereka melakukannya tidak sendiri, tapi berkomplotan!

[fb-share]

 

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

One thought on “Takut”

  1. hahaha
    Keren juga penerapan logika ketakutan pada koruptor.
    Pesan yang begitu menarik untuk disampaikan.
    saya tunggu tulisan menarik berikutnya.^_^

Leave a Reply