Surat Al-Ikhlas

Surat Al-Ikhlas adalah surat favorit saya. Paling sering saya baca dalam salat. Inilah surat yang pertama kali saya hapal karena surat ini sering sekali saya dengar setiap kali ikut salat maghrib berjamaah di masjid semasa kecil dulu. Surat ini menjadi andalan saya kalau tiba-tiba disuruh membaca potongan surat pendek dalam acara Didikan Subuh yang diadakan Taman Pendidikan Al-Quran kompleks rumah kami setiap hari Minggu.

Saya tidak tahu nama surat itu Al-Ikhlas. Kebanyakan Al-Quran di zaman saya kecil tidak menyertakan nama surat dalam bahasa Indonesia, apa lagi Al-Quran yang saya punya saat itu cuma bagian juz 30 saja (Juz ‘Amma). Ketika saya punya Al-Quran dengan terjemahan, saya heran “kok nama suratnya Al-Ikhlas, ga ada satupun kata “ikhlas” dalam surat itu.”

Sebab surat ini turun (Asbabun nuzul) adalah jawaban dari pertanyaan berkenaan dengan sifat-sifat Allah yang disembah umat Islam. Ternyata, Allah itu Esa, tempat bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada yang menyetarai-Nya. Surat ini “memurnikan” keesaan Allah yang sempat diselewengkan oleh sejumlah golongan, bahwa Allah itu berbilang, bahwa Allah itu punya keluarga/bangsa, bahwa ada yang mewarisi ketuhanan Allah di Bumi, dan bahwa ada tuhan-tuhan lain yang setara dengan Allah.

Jadi, mana ikhlasnya?

Sebelum itu, ikhlas itu apa sih?

Ikhlas dari bahasa Arab yang dialihkan ke bahasa Indonesia dengan makna “bersih hati, tulus hati” (KBBI daring). Ikhlas adalah kata sifat, dalam konteks Islam ini adalah sifat terakhir, atau “ultimate quality”, seorang muslim untuk mendapatkan cinta Allah. Dan, cinta Allah itu perkara terakhir, atau “ultimiate goal”, setiap muslim. Bukan pahala dan bukan sorga. Wajar jika Rabi’ah Al- Adawiyah, seorang sufi perempuan dari kota Bahsrah (Irak), pernah berucap,

Oh Tuhan,
jika aku menyembahmu karena takut akan api neraka,
maka bakarlah aku di dalamnya.
Dan jika aku menyembahmu karena berharap surga,
maka campakanlah aku dari sana;
Tapi jika aku menyembahmu karena Engkau semata,
maka janganlah engkau sembunyikan keindahan-Mu yang abadi.

Tidak ada tingkat yang lebih tinggi di mata Allah selain tingkat mencintai Allah. Kalau Allah sudah cinta kepada seseorang, seseorang itu pasti jadi sakti mandraguna di dunia ini! Mungkin seperti para wali di tanah Jawa, atau para aulia dan orang-orang karomah yang pernah kita tahu. Apakah semua kita bisa jadi sakti seperti mereka? Bisa, asal Allah cinta kita. Allah cinta kita jika kita cinta Dia. Dan, untuk mencintainya, kita harus ikhlas!

Ikhlas dalam beramal, ikhlas dalam beribadah, ikhlas dalam bekerja, ikhlas dalam segala aspek kehidupan.

Ikhlas bukan berarti kita tidak boleh mengharapkan pahala. Ikhlas bukan berarti kita menolak gaji atau upah dari profesi kita. Ikhlas juga tidak menafikan bentuk-bentuk perjanjian dan kontrak yang dibuat dua pihak atau lebih.

Ikhlas tidak berarti kita membatalkan apa yang telah menjadi hak kita dan juga tidak berarti kita menambah apa yang telah menjadi kewajiban kita.

Dalam beribadah, bentuk keikhalasan mudah terlihat. Apakah kita salat karena ingin dianggap saleh? Apakah kita berzakat karena ingin dipuji? Apakah kita semangat tarawih hanya ketika berjamaah? Jika masih ada riya, maka tidak akan pernah kita ikhlas dalam ibadah.

Yang sulit dilihat adalah ikhlas dalam pekerjaan duniawi. Pekerjaan duniawi dalam Islam tetap dinilai ibadah asal memang diniatkan dengan benar. Tapi seberapa sih dari kita yang rutin berniat ibadah setiap kali hendak berangkat sekolah, atau kerja? Di sekolah, seberapa banyak siswa yang belajar karena ingin mendapatkan cinta Allah? Di kantor, seberapa banyak di antara kita yang bekerja karena ingin mendapatkan cinta Allah?

Kita belajar, tapi masih gelisah, karena tidak juga mengerti apa yang dibaca atau karena takut tidak lulus ujian. Para peneliti gelisah, khawatir risetnya tidak diakui dan dicampakkan. Para pekerja gelisah, harus memuaskan atasan dan klien pada waktu bersamaan.

Kita gelisah, karena kita masih saja lebih bergantung kepada makhluk-makhluk lain. Kita gelisah karena masih butuh pengakuan eksistensi diri dari mahkluk-makhluk lain. Kita gelisah karena tidak terima dengan apa yang telah diputuskan Allah. Itu semua bertanda kita tidak ikhlas dalam perbuatan kita.

Dan surat Al-Ikhlas mengajarkan kita cara untuk ikhlas. Pertama, ikhlaskan dulu bahwa Allah itu Ahad. Ahad dalam bahasa Arab artinya tidak hanya sekedar Esa, tapi lebih daripada itu. Ahad itu kata yang unik dalam bahasa Arab, tidak dipakai sebagai kata sifat atau untuk mendeskripsikan seseorang atau sesuatu, kecuali merujuk kepada Allah. Ini konsep yang sulit di zaman Rasul dulu, karena masyarat di Makkah mengerti betul apa itu Ahad dan konsekuensinya. Tapi sepertinya, entah karena tidak paham bahasa Arab atau karena sudah banyak pengetahuan tambahan, mudah bagi kita menerima konsep keesaan Allah.

Kedua adalah ikhlas bahwa Allahlah satu-satunya tempat bergantung. Nah, langkah kedua ini yang sering menjadi batu ganjalan buat kebanyakan kita. Kegelisahan yang saya ungkapkan tadi datang karena kita belum ikhlas kepada Allah satu-satunya tempat bergantung. Kita masih saja mencari gantungan-gantungan lain, yang kita rasa lebih nyata bentuk dan rupanya, lebih terasa kehadiran dan manfaatnya.

“Bergantung” itu artinya tidak hanya sekedar bersangkut saja, tapi juga berkait. Apapun itu harus terkait dengan Allah!

Seorang istri yang bekerja mengurus rumah dan anak, tiba-tiba berbuat sedikit kesalahan. Sang suami, yang baru pulang kantor di sore hari dalam keadaan capek, marah-marah. “Ini apa-apaan, kok rumah berantakan. Memang Ibu ngapain aja sih seharian?” Sang istri wajar tersinggung dan boleh membantah. Tapi, jika sang istri ikhlas, dia akan tersenyum karena dia tahu dia mengurus rumah dan anak karena Allah. Sang istri ikhlas, Allah pasti cinta. Dan Allah pasti melindungi hamba yang dicintai-Nya. Amat mudah bagi Allah membisikkan kelembutan kepada hati suami sehingga alih-alih marah, suami jadi bersalah dan minta maaf Smile

Mahasiswa A melakukan riset dan berusaha menjelaskan pekerjaannya kepada pembimbingnya. Tapi sulit bagi dia meyakinkan sang pembimbing walau sudah segala cara dilakukan. Ketika penjelasan diberikan oleh mahasiswa B, dengan bahasa dan analisis yang sama persis dengan A, pembimbing akhirnya menerima.  Ini yang sedang saya alami sekarang, dan saya adalah si A, hehe. Ini membuat saya tersentak dan mempertanyakan kualitas diri saya dihadapan Allah…

Mudah bagi kita berucap “tergantung Allah”. Tapi, apakah hati kita benar-benar menggantungkannya kepada Allah?

Osaka, 9 Ramadhan 1433

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

2 thoughts on “Surat Al-Ikhlas”

Leave a Reply