Kecewa dan Alhamdulillah

Saya sering merasa kecewa. Berbagai macam alasannya, entah itu karena mendapat nilai buruk (saat menjadi pelajar/mahasiswa), entah itu karena sulit memahami sebuah bacaan, atau ditinggal pesawat. Rasanya semua kekecawaan berasal dari harapan kita yang tidak sesuai dengan kenyataan. Terakhir saya mengalami tanda-tanda kekecewaan, saya ulangi, tanda-tanda kekecewaan — ini untuk menunjukkan saya belum sepenuhnya kecewa — adalah saat serangkaian kerja keras saya tidak dihargai berkali-kali oleh seseorang. Boleh jadi orang tersebut telah menghargai tapi saya tidak dapat melihat cara dia menghargai – itulah sebabnya saya belum sepenuhnya kecewa.

Namun, tak dapat saya pungkiri bahwa tanda-tanda kekecawaan ini telah mengusik emosi saya. Ada keinginan untuk marah, untuk protes, ada perasaan tidak terima keadaan ini. Saya berusaha menekan keinginan dan perasaan tersebut. Saya ingat dulu saya cenderung bersikap frontal, bicara lantang dan to the point. Gaya ini sering membuat saya nyaman, karena saya dapat langsung mengetahui apa masalahnya, apa kesalahan saya, dan apa yang harusnya saya lakukan. Tapi, gaya seperti ini dekat dengan egois, karena saya mudah melupakan bagaimana perasaan orang-orang sekitar, baik yang terlibat maupun tidak terlibat dalam konflik.

Begitulah, saya mencoba melihat dari sisi lain dari rangkaian kejadian yang mengantarkan pada perasaan kekecewaan ini. Agama selalu menjadi kacamata terbaik menguraikan sebuah masalah. Dari berbagai jenis kacamata, hanya agama yang memperlihatkan kita, tida kanya pengetahuan (knowledge) tentang masalah itu, tapi juga hikmah dan kebijakan (wisdom) dari masalah itu. “Petiklah hikmah dari kejadian ini,” demikian untaian kalimat yang sering kita dengar.

Dan kacamata kali ini bernama Alhamdu lillah…

Beberapa hari yang lalu Ira memberikan sebuah taut video ilustrasi makna dari surat Al Ikhlas oleh Nouman Ali Khan kepada saya. Saya lihat dan rasanya tidak ada pengetahuan yang baru dalam video tersebut. Tapi video tersebut mengingatkan saya pada Allah adalah satu-satunya tempat bergantung sebagaimana pernah saya tulis dalam artikel Surat Al-ikhlas.

Namun, saya tertarik dengan ceramah-ceramah Nouman Ali Khan ini dan mulai menyimak ceramah-ceramah beliau. Saat mendengar kuliah audio beliau tentang ayat pertama (atau kedua bagi sebagian ahli tafsir) surat Al Fatiha,

Al-Quran-1-1

kemudian saya memutuskan untuk menulis artikel ini.

Allah mengajarkan kita, lewat ayat ini, untuk bersukur kepadaNya. Bersyukur itu adalah berterima kasih dan memuji, sebagaimana makna dari kata hamd. Dalam berbagai kesempatan kita dapat berterima kasih pada sesuatu, tapi tidak harus memujinya, begitu juga sebaliknya. Nabi Ibrahim a.s. berterima kasih kepada ayahnya, tapi beliau tidak memuji, malah mengkritisi ayahnya. Atau, kita memuji sebuah mobil bagus, tapi kita tidak lantas berterima kasih kepada mobil itu.

Alhamdu adalah memuji dan berterima kasih. Kepada siapa? Kepada Allah SWT – alhamdu lillah. Atas apa? Atas segala yang ada, atas segala yang telah, akan danakan terjadi, dan bahkan atas masalah-masalah yang dibebankanNya kepada kita. Ini adalah sikap seorang muslim.

Kecewa adalah salah satu bentuk masalah, menurut ajaran Islam, kita seharusnya menyukurinya. Penglihatan kita sempit, kecewa yang kita rasakan hanya terlihat sebagai bentuk ketidakadilan. Penglihatan Allah sempurna, meliputi masa lalu dan akan datang, meliputi dunia yang terlihat dan tidak terlihat. Skenarionya sempurna, menyingkronkan semua lini masa dan semua lintas dunia. Ini seperti seorang anak yang sakit lalu diberi obat oleh ibunya. Si anak hanya tahu bahwa obat itu pahit, dia tidak suka dan protes. Tapi begitu dia beranjak dewasa, dia sadar bahwa kepahitan itu untuk menyembuhkan sakitnya, seharusnya dia berterimakasih kepada ibunya dan bahkan memuji ibunya karena “tega” memberikan kepahitan untuk anaknya.

Alhamdu lillah adalah sikap kita sebagai muslim menyikapi masalah. Inilah sikap yang seharusnya saya ambil, ini pulalah sikap yang saya pilih sekarang. Semoga Allah memudahkan saya, dan kita semua, untuk istiqamah dalam sikap ini, amiiin.


Misi tulisan ini berakhir di sini. Tapi, tidak ada salahnya saya tuntaskan apa yang saya pelajari dari ceramah Naoman Ali Khan.

Jika kita rujuk pada struktur bahasa yang digunakan, ayat ini berarti “segala syukur hanya milik Allah”. Jadi, kita tidak berkata “saya bersyukur kepada Allah,” melainkan kita harusnya berkata “segala syukur kepunyaan Allah.” Struktur bahasa seperti ini mengindikasikan bahwa yang bersukur itu tidak hanya kita, tapi semua ciptaannya. “Saya bersyukur kepada Allah” hanya menunjukkan saya dan hanya saya yang bersyukur, sedangkan bebatuan, gunung-gunung, pepohonan, dan lain sebagainya tidak turut bersukur. Alhamdu lillah mengungkapkan bahwa setiap saat, semua tempat, segala sesuatu bersukur kepada Allah, terlepas apakah kita bersyukur atau tidak. Mengucapkan Alhamdu lillah memasukkan kita pada golongan makhluk-makhluk Allah yang bersukur tadi.

Allah memperkenalkan diriNya kepada kita lewat Alhamdu lillah, bahwa segala syukur hanyalah kepunyaanNya dan semua makhluknya bersyukur kepadaNya.

Berikutnya Allah memperkenalkan dirinya sebagai rab, yaitu Tuhan. Dan tidak tanggung-tanggung, Dia adalah Tuhan bagi semesta alam raya ini, rabbil ‘aalamin. Karena Allah mengatakan dirinya tuan, maka otomatis kita adalah hamba sahayaNya. Tuhan dan hamba adalah pasangan yang harus ada, seperti siang dan malam, atau tinggi dan rendah. Hamba sahaya sepadan dengan budak, tugas budak jelas, yaitu mengikuti apa perintah tuannya. Dengan demikian tugas hamba sahaya adalah mengikuti apa perintah Tuhannya.

Hamba sahaya bukan pelayan. Pelayan, yaitu yang melayani, hanya mengikuti perintah yang dilayaninya sesuai dengan kontrak kerjanya. Dengan kata lain, pelayan seperti pegawai perkantoran, mereka jadi pegawai pada waktu tertentu. Lepas dari jam kerjanya, dia bebas dari tugas pelayanannya, dia dapat melakukan sesuatu lepas dari pekerjaannya.

Namun, budak tidak demikian. Status budak tidak kenal waktu, siang dan malam budak adalah budak. Siang dan malam budak harus ikuti apa kata tuannya. Begitu juga dengan hamba sahaya, siang dan malam hamba sahaya adalah hamba sahaya, dia harus ikuti apa kata Tuhannya.

Alhamdu lillahi rabbil ‘aalamin mengikrarkan status siapa yang Tuhan dan siapa yang hamba. Allah adalah Tuhan, Tuhan bagi jagad raya ini, dan kita adalah hambaNya.

Lantas apa beda tuan-budak dengan Tuhan-hamba? Dalam sejarah peradaban manusia, hubungan tuan-budak tidak bagus. Umumnya, tidak ada orang yang suka rela menjadi budak. Budak selalu dieksploitasi di luar batas kewajaran dan oleh sebab itu mereka tidak suka berterima kasih dan/atau memuji tuannya. Ini bertolak belakang dengan Tuhan-hamba. Kita bersyukur kepadaNya, kita ingin masuk pada kelompok makhlukNya yang bersyukur, dan dengan sendirinya kita pula ingin menjadi hambaNya.

Artikel selanjutnya insyaAllah kita bahas tentang ayat kedua surat Al Fatiha 🙂

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

1 thought on “Kecewa dan Alhamdulillah”

Leave a Reply