Mahapengasih dan Mahapenyayang

Artikel sebelumnya telah menguraikan bagaimana alhamduli lillahi rabbil ‘aalamin adalah pilihan sikap seorang muslim di setiap kondisi. Bersyukur hendaknya menjadi respon pertama kita terhadap kondisi kita, apapun itu, terlepas dari kita paham atau tidak kenapa kondisi kita seperti itu.

Dari struktur bahasa, alhamduli lillahi rabbil ‘aalamin menunjukkan posisi siapa yang Tuhan dan siapa yang hamba. Tuhan adalah pemilik rasa syukur, sedangkan hamba adalah yang membutuhkan rasa syukur tersebut. Untuk menjadi hamba, kita terlebih dahulu harus bersyukur. Kita bersyukur kepada Allah, Tuhan semesta alam yang memiliki sifat yang disebut pada ayat kedua surat Al-Fatiha,

Al-Quran-1-2

Sebagai Tuhan di alam semesta ini, Allah mendeklarasikan dua sifat utamanya, yaitu arrahmaani dan arrahiimi. Keduanya menunjukkan sifat kasih-sayang Allah. Karena keistimewannya, dua sifat ini diperkenalkan di pembuka Al Quran… lebih jauh lagi, dua sifat ini juga ada dalam kalimat Basmallah, sebuah kalimat yang seharusnya menjadi awal dari segala sesuatu perbuatan kita.

Dalam bahasa Indonesia, arrahmaani diterjemahkan sebagai Mahapengasih dan arrahiimi sebagai Mahapenyayang. Jika kita rujuk pada KBBI, kasih adalah perasaan sayang, sedangkan sayang adalah kasih – dua kata yang merujuk pada satu rasa yang sama: kasih-sayang. Mari kita lihat arti teknis dari dua kata ini.

Arrahmaani adalah seseorang yang sangat murah hati saat ini. Sangat pengasih berarti rasa pemaafnya tidak dapat kita bayangkan, luar biasa. Kita dapat katakan “si A ini orangnya murah hati,” tapi pada saat itu si A boleh jadi sedang kesal dan tidak bermurah hati. Tapi, jika kita katakan “si A ini arrahmaan”, artinya si A itu sangat murah hatif” dan sifat murah hatinya diberikan saat itu juga! Itulah Allah… Dia adalah Mahapemurah-hati dan kepemurahanNya diberikan saat itu juga kepada hambaNya.

Arrahiimi adalah seseorang yang selalu sangat murah hati baik dulu maupun nanti di masa akan datang. Jika kita butuh kemurahan hati Allah sekarang, maka arrahmaani memberikannya. Jika kita butuh kemurahan hati Allah nanti, maka arrahiimi memberikannya. Artinya, Allah tidak pernah sekalipun meninggalkan kita meskipun kita berkali-kali meninggalkanNya kita berkali-kali tidak bersyukur kepadaNya. Beda dengan seorang tuan yang bisa saja menjual budaknya karena si budak terlalu sering berbuat salah. Atau seorang penggembala sapi menyemblih sapinya karena tidak lagi dapat menghasilkan susu. Tidak, Allah tidak pernah seperti itu meskipun Dia berhak (ingat, posisiNya adalah Tuhan sedangkan kita hamba dan tugas seorang hamba adalah menurut apa kata Tuhannya). Ini disebabkan karena Dia arrahmaan dan arrahiim.

Allah melarang kita berdusta, tapi ketika kita berdusta Allah tidak langsung memotong lidah kita. Allah melarang kita mencuri, tapi ketika kita mencuri Allah tidak langsung memotong tangan kita. Allah melarang kita bermaksiat, tapi ketika kita bermaksiat Allah tidak menandai kening kita sehingga membuat kita malu. Kita berkesempatan untuk berdusta lagi, berkesempatan untuk mencuri lagi, berkesempatan untuk bermaksiat lagi, semua karena Allah arrahmaan dan arrahiim.

Tidak terbayangkannya rasa kasih-sayang Allah kepada kita memposisikan diri kita untuk bersyukur kepadanya – arrahmaan dan arrahiim membuat kita kembali pada ayat sebelumnya, alhamdu lillahi rabbil ‘aalamin…

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

One thought on “Mahapengasih dan Mahapenyayang”

Leave a Reply