Ramadan Itu Bulan Raya

Yang raya tidak hanya jalan saja, yang raya tidak hanya hari saja, tapi bulan pun ada yang raya. Dalam Islam, bulan raya adalah bulan Ramadan, bulan ke-9 tahun Hijriah.

Raya berarti besar, sepadan dengan akbar, tapi tentu bukan padanan Mahabesar atau Al-akbar.

Kenapa Ramadan itu bulan raya?

Jawabannya sekaligus menjawab pertanyaan saya sewaktu kecil dulu, “kenapa kita disuruh banyak membaca Al-quran di bulan Ramadan?”

Kalau kita mendengar kata “Ramadan”, mungkin yang terpetik di benak kita adalah puasa, menahan lapar dan haus, menunggu waktu berbuka, menahan kantuk saat sahur, atau salat tarawih.

Tapi, apa sih yang diingatkan Allah kepada kita tentang “Ramadan”? Apakah puasa, berbuka, atau salat tarawih tadi?

Kalau kita tengok Al-quran, hanya ada satu ayat yang membahas puasa di bulan Ramadan, yaitu surat Al-baqarah ayat 185. Ayat ini dimulai dengan “syahru ra madhaa nalladziii…” ini sering dibaca para penceramah di bulan Ramadan. Biasanya dimulai dari tiga sebelumnya, ayat 183 yang dimulai dengan “yaa ayyu halladzi na a manuu kutiba ‘alaikumusshiaamu…”

Hanya saja, puasa yang dijelaskan pada ayat 183 ini tidak merujuk pada puasa yang kita lakukan pada bulan Ramadan. Puasa di luar Ramadan ini juga disuruh untuk kaum Yahudi. Lama berpuasa juga tidak 30 hari seperti puasa Ramadan. Jika kita tidak berpuasa karena halangan yang dibenarkan, ada dua opsi untuk menembusnya: puasa di lain hari, atau bayar fidyah.

Sedangkan puasa di bulan Ramadan, yang diuraikan pada ayat 185, lamanya 30 hari dan jika tidak berpuasa karena halangan yang dibenarkan maka cuma ada satu opsi untuk menembusnya, yaitu puasa di lain hari.

Ayat 185 ini berada pada bagian kedua surat Al-baqarah. Al-baqarah dapat dibagi ke dalam dua bagian, bagian pertama (awal-awal surat) yang banyak terkait dengan bangsa yahudi dan bagian kedua yang banyak terkait dengan umat Islam.

Di bagian pertama Al-baqarah ini, Allah menjelaskan bagaimana nabi Adam a.s. menjadi makhluk pilihan dari sekian banyak makhluk ciptaan Allah. Mulai dari proses penciptaan sampai diturunkan ke Bumi membawa sejumlah misi, Allah telah mengistimewakan nabi Adam a.s. dan anak-anaknya.

Dan di antara anak-anak Adam a.s., Allah memilih bangsa Yahudi. Namun kemudian Allah murka kepada bangsa Yahudi dan mencabut banyak kenikmatan yang telah diberikan kepada mereka.

Ada juga sejumlah kisah interaksi bangsa Yahudi dengan umat Islam di zaman Rasulullah, yang menjadi peralihan bagian satu ke bagian dua surat Al-baqarah. Dimulai dari kisah jengkelnya bangsa Yahudi di Madinah kepada kaum muslimin karena Allah memindahkan kiblat dari Masjidil Aqsa ke Ka’bah di Masjidil Haram (ayat 143).

Jadi, sebelum itu kiblat kita ke arah Masjidil Aqsa, di Jerusalem. Jerussalem itu dulu ibu kota bangsa Yahudi. Ibarat negara, ibu kota adalah salah satu simbol kedaulatan negara. Jadi dulu kita mengakui “kedaulatan” bangsa Yahudi dengan Jerusalem sebagai ibukota. Namun kemudian Allah mencabut kedaulatan itu dan memberikan kaum muslimin ibu kota sendiri, Mekkah.

Sebelum pemindahan kiblat, sejumlah pemindahan “kedaulatan” telah dilakukan Allah dari bangsa Yahudi ke kaum muslimin. Tepat sebelum ayat tentang pemindahan kiblat, Allah mengungkapkan kebohongan bangsa Yahudi yang tidak mau mengakui kenabian Rasulullah, padahal mereka mengetahui persis kebenaran beliau.

Alasan utama mereka menolak kenabian Rasulullah adalah karena nabi Muhammad SAW tidak berasal dari garis keturunan Ishaq.

Mereka membanggakan diri sebagai anak-anak Israel. Israel adalah nama istimewa dari Allah untuk nabi Ya’qub a.s. Padahal, ketika nabi Ya’qub sekarat dan bertanya kepada anak-anak kandungnya yang berjumlah 12 orang itu,

“Apa yang kalian sembah sepeninggalanku?”

Anak-anaknya menjawab,

“Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami adalah kaum muslim (hanya tunduk patuh kepada-Nya)”.  (Al-baqarah ayat 133)

Jadi, Allah mencabut “kedaulatan” bangsa Yahudi yang selama ini mengklaim dirinya sebagai garis sah keturunan para Nabi, karena nenek-moyang mereka justru mengakui kemuliaan nabi Ismail dan mereka mengatakan bahwa mereka muslim.

Kembali ke “ibukota” baru kaum muslimin.

Pemindahan kiblat ini dapat dimaknai sebagai pembentukan “negara” baru, negara kaum muslimin. Apa sih yang membedakan negara baru ini dengan negara sebelumnya?

Bukan salat… karena salat diperintahkan untuk umat terdahulu.

Juga bukan puasa, karena puasa pun telah diperintahkan untuk umat terdahulu (Al-baqarah ayat 183 tadi).

Yang baru adalah kitab-nya… yaitu Al-quran.

Dan Al-quran pertama kali diturunkan di bulan Ramadan.

Itulah sebabnya ayat 185 itu, meski dibuka dengan kata-kata “selama bulan Ramadan…” dilanjutkan dengan “… yaitu bulan yang saat itu Al-quran diturunkan…”

Setelah itu ayat 185 ini bercerita tentang fungsi Al-quran, yaitu sebagai petunjuk bagi umat manusia, sebagai penjelasan mengenai petunjuk-petunjuk itu, dan sebagai pembeda mana yang benar dan mana yang salah.

Itu yang membuat Ramadan itu bulan raya. Yang namanya “raya”, maka sudah sepantasnya kita bersikap riang dan gembira… Bagaimana tidak gembira, karena pada bulan ini Allah menurunkan Al-quran kepada kita.

Tidak usahlah kita mengupas kesaktian, kedigjayaan dan keistimewaan Al-quran… karena ini adalah sebuah keniscayaan. Inilah kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan Allah memerintahkan kita untuk merayakan turunnya Al-quran ini dengan berpuasa sebulan penuh.

Jadi, Allah mengingatkan kita kepada Al-quran setiap kali memasuki bulan Ramadan. Allah ingin kita kembali kepada Al-quran, yang pasti akan menuntun kita, memberi petunjuk kita, memberi penjelasan kepada kita tentang petunjuk-petunjuknya, dan pada akhirnya memberikan kemampuan kepada kita untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Jika kita sudah dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, maka sudah pasti kehidupan kita aman dunia dan akhirat.

Itulah sebabnya kita dianjurkan membaca Al-quran, bila perlu mengkhatamkannya, selama bulan Ramadan.

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

2 thoughts on “Ramadan Itu Bulan Raya”

Leave a Reply