“Antaratom”, Bukan “Antar Atom”

Seorang mahasiswa saya baru saja bertanya kepada saya, “Pak, yang benar itu ‘antaratom’ atau ‘antar atom’?”

“‘Antaratom’,” jawab saya. “Kenapa?” tanya saya penasaran.

Ternyata draf laporan tugas akhirnya dikritisi oleh seorang penguji karena dianggap salah menulis kata “antaratom”. Menurut sang penguji, yang benar adalah “antar atom” (dipisah).

Dalam kata “antaratom”, “antar” di sini adalah berperilaku seperti prefiks (awalan), artinya tidak sama dengan “antar” sebagai kata.

Sebagai kata, “antar” adalah kata kerja yang dapat berarti menemani, atau membawa. Sedangkan “antar-” adalah bentuk terikat yang berarti “dalam lingkungan atau hubungan yang satu dan yang lain” (buka Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan, cari kata dasar dalam KBBI “memuat” kata kunci “antar”).

Dalam penulisan, semua bentuk terikat ditulis bersambung (tidak dipisah) dengan kata dasarnya. Misalnya antarbangsa, artinya antara bangsa yang satu dan yang lain. Antaratom berarti antara satu atom dan atom yang lain — jika sistem itu terdiri dari dua atom, seperti molekul O2, antaratom berarti antara atom O pertama dan atom O kedua dalam molekul O2.

Cara penulisan bentuk terikat ini setara dengan prefiks seperti “ber-“, “ter-“, “me-” dan prefik lainnya. Prefiks “me-“, misalnya, ditulis secara bersambung dengan kata dasarnya, seperti “memilih”, “menangis” atau “menyapu”. Kita tentu tidak menulis “menyapu” dengan “me nyapu”.

Contoh lain dari bentuk terikat adalah “anti-” pada kata antipartikel atau antikorupsi. Selain sebagai bentuk terikat, kita juga punya “anti” sebagai partikel.

Saya memang bukan ahli bahasa, tapi saya selalu berusaha untuk peduli dengan kaedah bahasa. Pengalaman mengajarkan saya bahwa berbahasa dan cara berpikir itu paralel, berbahasa yang semrawut menunjukkan cara berpikir yang juga semrawut.

Selamat menunggu azan salat Asar, hehe… 🙂

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

Leave a Reply