Ramadan Itu Bulan Kemudahan

Sudah sepekan lebih satu hari kami berpuasa di Kota Minoh, Propinsi Osaka, Jepang. Puasa 1 Ramadan tahun ini ditetapkan mulai pada hari Minggu, 29 Juni. Tanggal 20 Juni adalah titik balik matahari musim panas (summer solstice) . Artinya, pekan pertama puasa Ramadan masih mengalami perbedaan ekstrim lama siang dan lama malam. Bayangkan, pada 1 Ramadan, waktu salat Subuh pukul 2.50am dan waktu salat Maghrib pukul 7.16pm – lama siang sekitar 16 jam!

Sudah sepekan lebih satu hari kami berpuasa di Kota Minoh, Propinsi Osaka, Jepang. Puasa 1 Ramadan tahun ini ditetapkan mulai pada hari Minggu, 29 Juni.  Tanggal 20 Juni adalah titik balik matahari musim panas (summer solstice) . Artinya, pekan pertama puasa Ramadan masih mengalami perbedaan ekstrim lama siang dan lama malam. Bayangkan, pada 1 Ramadan, waktu salat Subuh pukul 2.50am dan waktu salat Maghrib pukul 7.16pm – lama siang sekitar 16 jam!

Meskipun temperatur siang belum mencapai 35C, tapi kelembaban seharusnya sudah mulai naik yang menyebabkan gerah. Apalagi kalau cuaca mendung, menjelang hujan turun kegerahan menjadi-jadi.

Tapi, subahanallah, sepekan kami berpuasa di sini, cuaca sejuk, adem. Hampir tiap hari hujan, tapi kelembaban udara masih di tingkat yang tidak berdampak pada kegerahan tubuh.

Subhanallah.

Mungkin ini salah satu bentuk kemudahan yang diutarakan Allah pada ayat 185 surat Al-baqarah (2:185):

Kalimat pertama dari ayat ini, “sha-h-ru ra-ma-dhaa-na-lladzi … wa-l-fur-qaa-n” terkait dengan alasan kenapa kita berpuasa di bulan Ramadan. Alasannya adalah karena kita merayakan turunnya Al-quran (baca: Ramadan itu bulan Raya).

Kalimat kedua adalah “fa-ma-n sya-hi-da … fa-l-ya-shu-m-h” terkait dengan aturan puasa di bulan Ramadan, kapan berpuasa, dan bagaimana jika tidak dapat berpuasa. Aturan kapan berpuasa belum pernah saya tulis di sini, insya allah pada kesempatan berikutnya. Sedangkan aturan bagaimana jika tidak dapat berpuasa telah disinggung juga di artikel Ramadan itu bulan Raya. Intinya, ketidakcukupuan puasa di bulan Ramadan harus di bayar di bulan lain. Tidak ada opsi memberi makan fakir miskin seperti pada puasa-puasa umat sebelumnya.

Kalimat ketiga adalah “yu-rii-du lla-hu … bi-ku-mu l-‘u-s-ri” yang secara literal diterjemahkan sebagai “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

Dengan kata lain, Allah ingin kita mengalami yang mudah-mudah saja.

Tapi, kenapa Allah mengatakan dengan kalimat panjang ya? Seperti mengatakan “saya ingin kamu senang, saya tidak ingin kamu sedih.” Frase sebelum tanda baca koma kan sama saja dengan frase sesudahnya… Kenapa harus diulang?

Itu adalah salah satu gaya komunikasi Allah kepada manusia. Sama halnya dengan komunikasi antarmanusia, dalam beberapa kesempatan kita harus mengulangi satu kalimat sampai banyak kali supaya pesan kita dapat diterima pendengar. Misalnya saja saat meleraikan dua orang bertengkar, kita akan mengatakan “kalem, kalem,” atau “ sabar, sabar,” atau “berhenti, berhenti…” berkali-kali.

Kenapa? Karena secara naluriah kita berharap ada satu dari sekian perulangan kata-kata yang kita ucapkan akan didengar dan dituruti oleh dua orang yang sedang bertengkar tadi.

Begitu juga Allah berkomunikasi dengan manusia. Misalnya di surat Ar-rahman, Allah sampai mengulang “dan nikmat Allah mana lagi yang hendak kalian dustai” sampai 31 kali. Surat Ar-rahman diturunkan di pertengahan masa dakwah Rasulullah Muhammad SAW di kota Mekah. Kondisi saat kafir Quraish saat itu benar-benar sudah klimaks terkait sikap mereka pada dakwah Rasulullah SAW, sementara pada saat yang bersamaan mereka menikmati sejumlah kemudahan yang diberikan Allah kepada mereka. Oleh sebab itu ayat “dan nikmat Allah mana lagi yang hendak kalian dustai” diulang banyak kali oleh Allah supaya ada satu yang didengar dan direnungi oleh mereka.

Jadi, kalimat “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” adalah gaya bahasa Allah untuk meyakinkan kita bahwa berpuasa di bulan Ramadan itu bukanlah sesuatu yang sulit, bahkan mudah!

Pada puasa umat terdahulu, jumlah hari tidak lebih dari 10 hari berturut-turut. Inilah puasa yang dimaksud oleh ayat sebelumnya, 2:184. Jika tidak dapat berpuasa pada hari yang ditentukan itu, kita dapat menggantinya di lain hari atau dapat mengangginya dengan cara memberi makan orang miskin.

Sebelum ayat 185 ini turun, umat muslim wajib berpuasa sebagaimana puasa-puasa yang dijalankan oleh agama Yahudi dan Nasrani. Setelah ayant 185 turun, maka hanya puasa di bulan Ramadan yang wajib.

Tapi, puasa di bulan Ramadan adalah sebulan penuh! Alias tiga kali lebih lama dari pada puasa kaum sebelumnya. Bahkan, jika puasa kita tidak genap sebulan penuh, maka kita cuma punya satu opsi: bayar sejumlah puasa kita yang batal. Opsi kedua, memberi makan pada orang miskin, tidak ada lagi.

Bayangkan jika kita berada di zaman Rasulullah di saat ayat ini turun. Kalimat pertama kita dengar, kita akan mengangguk, karena ini adalah sebuah maklumat. Kalimat kedua kita dengar, kita akan terperanjat karena harus puasa sebulan penuh! Logika kita tentu akan berkata bahwa puasa di bulan Ramadan lebih sulit dibandingkan puasa-puasa umat sebelumnya.

Allah tahu kekagetan kita, Allah tahu kekhawatiran kita, maka Allah lanjutkan ke kalimat ketiga.

Lalu dibacakanlah kalimat ketiga, sebuah kalimat yang berisi janji Allah bahwa puasa di bulan Ramadan itu penuh kemudahan! Sebagai seorang muslim, tentu kita yakin dengan janji Allah. Kalimat ketiga ini adalah kalimat yang menyejukkan.

Selain bulan Raya, Ramadan adalah bulan dengan segala kemudahan berada di dalamnya. Kalimat Allah itu tidak hanya tentang kemudahan berpuasa, tapi lebih luas daripada itu. Termasuk di antaranya adalah kemudahan untuk berusaha, kemudahaan untuk beraktivitas normal, kemudahan untuk berdagang, dan yang paling penting adalah kemudahan untuk mempelajari Al-quran.

Kemudahan untuk berpuasa berarti kemudahaan bagi kita untuk mencapai keadaan taqwa. Karena tujuan puasa, sebagaimana disebut pada ayat 2:183, adalah untuk membuat kita bertaqwa. Dengan kata lain, puasa adalah latihan diri (mental dan fisik) untuk membuat kita bertaqwa. Puasa-puasa di luar bulan Ramadan juga melatih diri kita untuk mencapai taqwa, tapi pelatihan taqwa bulan Ramadan  lebih mudah!

Kemudahan untuk mempelajari Al-quran berarti kemudahan bagi kita untuk benar-benar menjadikan Al-quran sebagai panduan kita. Kalimat pertama dari 2:185 ini jelas mengatakan bahwa Al-quran itu sebagai panduan (hu-da) untuk semua manusia (muslim dan kafir).  Al-quran juga memberikan bukti-bukti kebenaran tentang dirinya sendiri (ba-yyi-naa-tin) sehingga tidak perlu barang lain untuk membuktikan kebenarannya. Al-quran juga sebagai pembeda antara yang benar dan yang salah (fu-r-qaa-ni). Tiga hal ini hanya dapat kita miliki jika Al-quran itu kita pelajari.

Oleh sebab itu, mari manfaatkan Ramadan ini untuk apa saja sesuai resolusi diri masing-masing!

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

1 thought on “Ramadan Itu Bulan Kemudahan”

Leave a Reply