Sang Ar-rahman: (1/3) Intro

Hari Minggu, 19 September 2014 yang lalu, saya mendapat kehormatan menyampaikan tadarus Al-quran di majelis silaturahim Muslim Indonesia di Osaka. Saya mengkaji surat Ar-rahman ayat 1–4. Tulisan ini, dan dua tulisan berikutnya (insyaallah), adalah elaborasi tertulis dari materi yang saya sampaikan pada hari itu. Ini adalah permintaan Ibunda saya. Semoga bermanfaat.

Allah memperkenalkan 99 atribut yang melekat pada-Nya dalam Al-quran. Sembilan puluh sembilan atribut ini dikenal dengan asmaul husna, atau nama-nama (al-asmã-u) yang baik (al-husnã).

Atribut pertama yang disebut dalam Al-quran adalah Ar-rahman dan kemudian Ar-rahim. Keduanya menjadi pembuka surat Al-fathiah,

AlQuran-01-01

Pun, jika ayat ini dianggap sebagai pembuka surat sehingga tidak termasuk bagian dari surat Al-fathiah, maka Ar-rahman tetaplah atribut pertama yang muncul dalam urutan mushaf Al-quran. Ar-rahman, juga Ar-rahim, menjadi penyusun ayat ke-3 (atau ke-2 jika Bismillah tidak dimasukkan) surat Al-fathiah,

AlQuran-01-03

Ar-rahman dan Ar-rahim berasal dari akar kata yang sama, yaitu   ra-ha-mim   (ra-ha-mim), yang berasosiasi dengan rahim ibu. Rahim ibu mengurusi segala sesuatu urusan janin di dalamnya, memberikan makan dan minum, melindungi dari berbagai bahaya, memberikan kehangatan dan kenyaman, dan ini semua tanpa diminta oleh sang janin.

Begitu pula Allah, Dia penuhi kebutuhan kita, Dia berikan kita perlindungan, Dia bereskan semua urusan kita, Dia yang mengayomi kita, dan semua Dia lakukan tanpa pernah sekalipun kita minta. Allah menyayangi kita tanpa batas, tanpa pamrih, tanpa kita minta. Allah seperti rahim dan kita adalah janin.

Itulah makna dari Ar-rahman dan Ar-rahim yang berasal dari kata    ra-ha-mim .

Jika Ar-rahman dan Ar-rahim memiliki makna sama, lantas apa bedanya?

Beda kedua atribut Allah ini terdapat pada kualitas kasih-sayang Ar-rahman dan Ar-rahim. Kasih-sayang dari Ar-rahman memiliki tiga kualitas, yaitu

  1. Yang terbesar: tidak ada kasih-sayang yang lebih besar daripada yang berasal dari Ar-rahman.
  2. Saat itu juga: kasih-sayang dari Ar-rahman dirasakan saat itu juga oleh kita, tidak ada penundaan sesaat pun.
  3. Sementara: kasih sayang dari Ar-rahman bersifat sementara. Jika kita menerima kasih-sayang dari Ar-rahman saat ini, maka tidak ada jaminan kita akan terima lagi satu menit kemudian.

Kasih-sayang dari Ar-rahim memiliki dua kualitas, yaitu

  1. Takharus terlihat: kasih-sayang dari Ar-rahim tidak harus terasa oleh pancaindra ataupun logika kita.
  2. Kekal: kasih-sayang dari Ar-rahim bersifat abadi. Jika sudah kita terima, maka kasih-sayang itu selalu kita terima untuk masa selanjutnya.

Catatan kaki:
Ibnu Abbas ra., ketika ditanya apa perbedaan Ar-rahman dan Ar-rahim, menjawab bahwa kasih-sayang Ar-rahman kita terima di dunia ini karena dunia ini bersifat sementara, sedangkan kasih-sayang dari Ar-rahim nanti kita terima di akhirat karena akhirat bersifat abadi.

Berangkat dari keterangan Ibnu Abbas ini, bersama hadist lain yang menyatakan hanya muslim yang berhak masuk sorga, serta hadist lain yang menyatakan muslim masuk sorga bukan karena amalnya melainkan karena kasih-sayang Allah, para ulama menyimpulkan bahwa kasih-sayang Ar-rahman diterima oleh semua makhluk Allah, sedangkan kasih-sayang dari Ar-rahim hanya diterima kaum muslim.

Tidak ada kasih-sayang yang lebih besar daripada Ar-rahman. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini semua karena kasih-sayang dari Ar-rahman. Mari kita lihat contoh-contoh berikut ini.

Ketika kita bepergian dengan kendaraan, tidak ada jaminan dari si pembuat kendaraan itu bahwa kendaraan yang kita tumpangi 100% aman. Kendaraan yang kita kendarai membawa kita selamat sampai tujuan karena kasih-sayang dari Ar-rahman.

Padahal, berbagai-macam kecelakaan dapat menimpa kita saat berkendara. Terutama jika kita tidak patuh pada peraturan lalu lintas. Berapa banyak orang yang tidak menggunakan helm dengan benar tetap selamat mengendarai sepeda motor, pun tidak ditangkap polisi.

Kita selamat sekarang karena kasih-sayang Ar-rahman, Dia lindungi kita meski kita bandel. Logika yang mengharuskan kita celaka karena melanggar aturan kalah oleh kasih-sayang Ar-rahman. Tapi ingat, tidak ada jaminan besok kita akan selamat jika tetap melanggar aturan.

Catatan kaki: Contoh ini diceritakan dalam surat Yasin ayat 41–44.

Teknologi kita, yang dipakai untuk membuat kendaraan dan alat alat canggih lainnya, bekerja berdasarkan prinsip kecendrungan: “bahwa konfigurasi mesin seperti ini cendrung memberikan hasil yang begini.” Cendrung itu bukanlah pasti, artinya teknologi memberi ruang untuk kegagalan. Para ilmuwan dan insinyur terus bekerja untuk mengontrol kecendrungan itu sedemikian rupa sehingga tingkat kecendrungan “berhasil” selalu lebih tinggi daripada tingkat kecendrungan “gagal”.

Cara kerja biologis tubuh makhluk hidup juga berdasarkan prinsip kecendrungan. Misalnya jantung kita cendrung berdetak lebih cepat ketika aktivitas tubuh meningkat. Namun selalu ada kemungkinan bahwa detak jantung tidak bertambah cepat ketika aktivitas tubuh bertambah… terjadi kelainan jantung.

Jika Allah mau, organ-organ tubuh kita bisa gagal berfungsi. Mata kita bisa buta seketika, begitu juga dengan tubuh kita bisa lumpuh mendadak seperti mereka yang mengalami stroke. Tapi tidak, organ-organ tubuh kita bekerja sebagaimana mestinya karena kasih-sayang dari Ar-rahman.

Mata kita memang akan buta, tubuh kita juga akan lumpuh, tapi Allah buat proses kebutaan dan kelumpuhan ini berjalan normal, yaitu dalam proses penuaan.

Catatan kaki: Contoh ini diceritakan dalam surat Yasin ayat 66–68.

Berapa banyak kasus orang-orang perokok berat, tapi tetap sehat dan berumur panjang. Berapa banyak kasus orang-orang pemabuk tetap sehat dan berumur panjang. Logika yang mengharuskan kita celaka karena tidak bergaya hidup sehat kalah oleh kasih-sayang Ar-rahman. Tapi ingat, tidak ada jaminan besok kita tetap sehat jika tetap bergaya hidup tidak sehat.

Inilah Tuhan kita, Tuhan umat Islam. Inilah Allah yang Ar-rahman. Tidak ada Tuhan dalam agama lain yang mengasihi manusia sehebat kasih-sayang Allah, Tuhan kaum muslimin. Saking sayangnya kepada kita, Dia tidak keberatan menghapus dosa kita sedalam samudra, setinggi gunung dan sepekat kegelapan.

(Bersambung ke Bagian 2.)

Mulai ditulis di Minoh-shi (Osaka-fu) pada 2014-09-26,
diselesaikan di Gifu-shi (Gifu-fu) pada 2014-09-29.

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

2 thoughts on “Sang Ar-rahman: (1/3) Intro”

Leave a Reply