Sang Ar-rahman: (2/3) Alasan untuk Bersyukur

Tuhan kita, Allah, adalah Tuhan yang luar biasa mengasihi kita. Tidak ada Tuhan dalam agama lain yang mengasihi manusia sehebat kasih-sayang Allah, Tuhan kaum muslimin. Saking sayangnya kepada kita, Dia tidak keberatan menghapus dosa kita sedalam samudra, setinggi gunung dan sepekat kegelapan. (Lihat bagian 1.)

Lantas, apa sikap kita kepada Allah yang mengurusi semua kebutuhan kita?

Jika ada orang yang membantu kita, meskipun bantuannya sedikit, bahkan mungkin saja dia membantu tidak ikhlas, maka apa yang kita lakukan kepada orang itu?

Setidak-tidaknya kita berterima kasih… Ucapan terima kasih adalah tindakan minimal yang harus kita lakukan kepada si penolong.

Kepada orang itu saja kita setidaknya mengucapkan terima kasih, bagaimana kepada Allah yang Ar-rahman?

Sebegitunya Ar-rahman mengurusi kita, bahkan eksistensi dan keberlangsungan eksistensi kita karena Ar-rahman, logikanya tentu tidaklah cukup sekedar ucapan terima kasih.

Tapi Allah yang Ar-rahman hanya menyarankan kita untuk senantiasa bersyukur, walau cuma sedikit.

Menyarankan, tidak memerintahkan.

Rasa syukur yang disarankan itu pun cukup sedikit saja.

Kalau tidak bersyukur, bagaimana? Ya tidak mengapa… Allah tetap sayang kepada kita.

Ah, masak sih?

Ini dijelaskan dalam surat Ibrahim (14) ayat ke-7. Ayat ini bagian dari pidato Nabi Musa as kepada bani Israel yang bersedih karena meninggalkan tanah kelahiran mereka di Mesir. Padahal Nabi Musa as membawa mereka keluar dari tanah Mesir untuk kebaikan mereka. Tapi itulah keanehan bani Israel, merindukan negri yang di sana mereka justru ditindas.

Untuk membangkitkan gairah dan semangat juang mereka, Allah mewahyukan seruan yang disampaikan Nabi Musa as kepada umatnya dan menjadi ayat 6,7 dan 8 surat Ibrahim.

Terjemahan literal per kata ayat ke-7 tersebut adalah sebagai berikut.

AlQuran-14-07-perkata

Pertama kita lihat kata (2)  ta-adz-dza-na , atau “berseru”. “Berseru” tidak sama dengan “berkata”,  qa-la . Orang berseru untuk menarik perhatian pendengar, karena penyeru tahu bahwa apa yang hendak dia sampaikan sesuatu yang penting tapi pendengarnya mungkin tidak menyadarinya.

Alih-alih “berkata”, Allah “berseru” untuk menarik perhatian kita tentang sesuatu yang penting tapi kita mungkin tidak menyadarinya.

Lalu kita lihat kata (4)  la-in . Kata (4) mirip dengan kata (7), kecuali kata (7) didahului oleh kata  wa  yang di sini berarti “dan”. Kata  la  berarti “jika” dan  in  menyatakan bahwa kalimat ini adalah kalimat kondisional, atau kalimat “jika-maka”, atau kalimat “sebab-akibat”.

Kalimat kondisional terdiri dari dua frase. Frase pertama diawali dengan  la  yang berarti “jika” (sebab). Frase kedua juga diawali dengan  la  yang kali ini berarti “maka” (akibat). Jadi, butuh dua  la  untuk membuat sebuah kalimat kondisional yang utuh.

Kata (5) adalah bagian “sebab” dari kalimat kondisional, yaitu  sya-kar-tum . Kata  sya-kar  berarti “bersyukur” (kata kerja) dan sifatnya umum. Bersyukur dalam hati termasuk  sya-kar , bersyukur dengan ucapan juga termasuk  sya-kar , bersyukur dengan tindakan juga termasuk  sya-kar . Bersyukur dengan kualitas tinggi termasuk  sya-kar , dengan kualitas rendah juga termasuk  sya-kar . Bersyukur dengan kuantitas banyak termasuk  sya-kar , begitu juga bersyukur meskipun dengan kuantitas sedikit. Bersyukur dalam hati, dengan kualitas sangat rendah dan kuantitas sangat sedikit, juga termasuk  sya-kar .

Kata (6) adalah bagian “akibat” dari kalimat kondisional — karena dimulai dengan kata  la  — yaitu  a-zii-dan-na-kum  .

Kata  a-zii-da berarti “tambahkan” (kata kerja). Apa yang ditambahkan? Apa saja, semua yang kita butuhkan dicukupi oleh Ar-rahman dan dilebihkan sehingga kita memiliki lebih daripada yang kita perlukan. Jika kita butuh uang, maka Ar-rahman berikan uang yang kita perlukan dan dilebihkan-Nya. Jika kita butuh ilmu, maka Ar-rahman cukupkan ilmu kita dan bahkan diberi bonus dengan ketrampilan lain.

Terjemahan frase dari ayat ini dalam Bahasa Indonesia menggunakan kalimat “maka Aku tambahkan nikmatKu”. Memang tidak ada kata ”nikmat” dalam ayat ini, tapi uang dan ilmu yang kita contohkan tadi adalah sejumlah nikmat Allah. Dan kata “nikmat” memungkinkan perluasan makna.

Kata (4), (5) dan (6) membentuk sebuah kalimat kondisional yang utuh. Sebab: kita bersyukur, meski cuma sedikit. Akibat: Allah berikan lebih dari apa yang kita butuhkan.

Berikutnya adalah kata (7) yang identik dengan kata (4). Artinya, ini adalah kalimat kondisional juga. Dengan demikian, kita mengharapkan ada dua la  pada kalimat ini.

Kata la  pertama diberikan oleh kata (7) yang menyatakan “sebab”, yaitu “tidak bersyukur”.

Namun tidak ada kata la  pada frase berikutnya.

Tidak ada sama sekali!

Kalimat kondisional ini tidak utuh. Kenapa Allah tidak menyelesaikan seruan-Nya apa akibat jika kita tidak bersyukur? Allah justru membuat kalimat baru, yaitu “Sesungguhnya azabKu teramat pedih”.

Logikanya, jika kita tidak bersyukur, maka kita layak untuk dihukum dengan azab yang pedih. Oleh sebab itu Dia ingatkan kita tentang azab-Nya yang teramat pedih.

Tapi Allah tidak ingin melakukannya, Allah tidak menghukum kita jika kita tidak bersyukur. Logika kondisional dibatalkan oleh kasih-sayang dari Ar-rahman.

Allah tidak menyelesaikan kalimat kondisional-Nya karena Dia sayang kepada kita.

Jika bukan karena kasih-sayang dari Ar-rahman, maka mungkin sebagian besar manusia sudah mendapat siksa Allah.

Tapi tidak, kita yang taktahu diuntung ini tetap diberi rezeki oleh Allah. Oksigen tetap tersedia untuk kita hirup. Jantung dan paru-paru kita tetap bekerja sebagaimana mestinya.

Inilah Allah yang Ar-rahman. Kasih-sayang-Nya takterbatas, mengalahkan segala logika dan akal sehat manusia.

Inilah Tuhan kita, Tuhan kaum muslimin.

(Bersambung ke Bagian 3.)

Mulai ditulis di Gifu-shi, 2014-10-29,
diselesaika di Gifu-Shi, 2014-09-30.

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

3 thoughts on “Sang Ar-rahman: (2/3) Alasan untuk Bersyukur”

  1. Alhamdu LILLAH, Cendikiawan spt anda telah memahami dengan sesungguhnya secara mendalam Firman-Firman ALLAH yang tercantum dalam Al Qur-an dan membaca/memahami ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran ALLAH) dalam Alam semesta.

Leave a Reply