Sang Ar-rahman: (3/3) Nikmat Terbesar

Tuhan kita, Tuhan kaum muslimin, adalah Tuhan yang tetap menyayangi kita meskipun kita adalah makhluk yang taktahu diuntung. Meskipun kita takbersyukur kepada-Nya, rezeki kita tetap dijamin oleh Ar-rahman; oksigen tetap tersedia untuk kita hirup; jantung dan paru-paru kita tetap bekerja sebagaimana mestinya. Kasih-sayang-Nya takterbatas, mengalahkan segala logika dan akal sehat manusia. (Lihat Bagian 2)

Atribut Ar-rahman ini menjadi satu subjek sendiri dalam Al-quran, yaitu surat Ar-rahman, surat ke-55. Di pembuka surat Ar-rahman ini, Allah menjelaskan bahwa Dia, yang memiliki kasih-sayang takberbatas ini, yang mengajarkan kita Al-quran, menciptakan kita dan mengajarkan kita berkomunikasi dengan ilmu pengetahuan. Tiga poin ini menjadi pokok bahasan empat ayat pertama surat Ar-rahman.

Mari kita lihat empat ayat pertama dari surat Ar-rahman ini.

Ar-rahman, 55:1-4

Empat ayat ini dapat dilihat sebagai satu kalimat: Ar-rahman mengajarkan Al-quran, menciptakan manusia, dan mengajarkannya (-nya = manusia) pandai berbicara.

Kenapa satu kalimat dipenggal menjadi empat ayat?

Karena Allah ingin kita berhenti setelah membaca subjek kalimat, Ar-rahman, untuk merenungi maknanya.

Ini seperti berpidato, untuk mengajak pendengar merenungi sebuah kata, sang orator akan menyuarakan kata tersebut dan kemudian diam. Teknik ini membuat pendengar mulai merenungi satu kata yang diucapkan sang orator.

Andai sang orator membacakan kata itu dalam satu kalimat utuh, pendengar tidak akan terpancing untuk merenungi satu kata tersebut.

Itulah salah satu cara memahami kenapa Allah memecah satu kalimat menjadi empat ayat.

Allah ingin kita untuk menghayati makna Ar-rahman sebelum meneruskan bacaan kita. Dan kita, alhamdulillah, sudah mengupas makna Ar-rahman pada bagian 1 dan bagian 2 dari seri tulisan ini. Ar-rahman itu menyayangi kita tanpa batas, tanpa cela, Dia melengkapi segala kebutuhan kita, membereskan segala masalah kita, dan Dia melakukan itu semua tanpa pamrih.

Tuhan yang seperti itulah yang mengajarkan kita Al-quran (ayat 2).

Dua ayat pertama ini setidaknya memiliki tiga konsekuensi.

Pertama adalah saat kita mempelajari Al-quran, Allah langsung yang menjadi guru kita. Terlepas kita belajar Al-quran di sekolah, di masjid, dari seorang guru, dari buku-buku, atau dari internet, pada prinsipnya Allah langsung membimbing kita untuk memahami Al-quran.

Siapa guru yang lebih hebat daripada Allah?

Kalau Allah adalah Guru yang Mahahebat, maka cara Dia mengajar tentu Mahahebat pula. Guru yang hebat mampu mengajarkan hal yang sulit kepada siapapun muridnya. Begitu juga Allah. Allah tentu dapat mengajarkan Al-quran dengan mudah kepada makhluk-makhluk-Nya. Padahal, Al-quran adalah adalah sesuatu yang rumit. Bagaimana tidak rumit, bukankah Al-quran adalah sebuah karya agung yang sempurna dari semua aspek? Namun, sesuatu yang rumit ini dapat dipelajari dengan mudah. Oleh sebab itu Allah berkali-kali berkata bahwa Al-quran itu dibuat untuk mudah dipelajari (misal: surat Al-qamar (54) ayat 17, 22, 32 dan 40).

Kedua adalah saat mengajarkan kita Al-quran, Allah menggunakan atribut Ar-rahman. Bukan atribut Ar-rahim, bukan Al-akbar (Mahabesar), bukan Al-‘alim (Mahatahu), bukan Al-aziz (Mahaperkasa), bukan pula 94 atribut Allah yang lain. Tapi, Ar-rahman yang mengajarkan kita Al-quran.

Kita tahu, atribut Ar-rahman terkait dengan kasih-sayang yang teramat luar biasa. Artinya, Allah mengajarkan Al-quran kepada kita dengan landasan kasih sayang-Nya yang teramat luar biasa tersebut. Dengan kata lain, sang guru mengajarkan muridnya karena kasih-sayang sang guru kepada murid. Materi yang diajarkan pasti jualah materi yang mengandung kasih-sayang.

Tidak mungkin guru yang mengajar karena kasih sayang memberikan materi yang penuh benci dan ancaman. Kasih sayang tidak dapat bersatu dengan benci dan ancaman. Kasih sayang pastilah terkait dengan kedamaian. Itulah sebabnya Islam itu agama damai, selain memang salah satu makna kata “islam” itu adalah damai, Islam diajarkan oleh Sang Mahapenyayang.

Dengan demikian, saat kita belajar Al-quran, maka kita harus mampu melihat bahwa kata demi kata yang menyusun ayat, ayat demi ayat yang menyusun Al-quran, semua berlandaskan kasih sayang dari Ar-rahman untuk kita.

Tapi, bukankah ada ayat-ayat yang berupa larangan dan ancaman? Ada ayat-ayat yang bercerita tentang hukuman, azab dan neraka?

Betul, memang ada ayat-ayat yang berupa ancaman. Tapi apakah orang tua yang mengatakan “Jangan main api! Api itu panas dan dapat membakarmu” adalah sebuah ancaman kepada anak-anaknya?

Tidak, bukan?

Jelas orang tua kita melarang dan mengancam kita karena mereka tidak ingin kita celaka.

Begitu pula ayat-ayat tentang hukuman, azab dan neraka. Ayat-ayat itu memberikan gambaran kepada kita apa dampak kepada kita jika kita mengabaikan ajaran Al-quran.

Dan yang ketiga, terkait dengan tata bahasa Arab. Ayat 1 dan 2 membentuk kalimat “Ar-rahman mengajarkan Al-quran”. Kalimat ini mengandung siapa pelakunya (subjek, Ar-rahman), apa aksinya (kata kerja, mengajarkan), dan apa yang diajarkan (objek, Al-quran). Tapi, kalimat ini bukanlah kalimat utuh karena kalimat seperti ini menyaratkan satu bagian lagi, yaitu kepada siapa diajarkan. Kalimat yang takutuh ini memberi tafsir bahwa Allah mengajarkan Al-quran kepada siapa saja, kepada semua makhluk ciptaan-Nya.

Allah mengajarkan Al-quran kepada para malaikat, kepada jin, kepada gunung-gunung, kepada hewan dan tumbuhan, pun kepada manusia.

Karena yang mengajarkan ini Ar-rahman, sumber kasih sayang terbesar, dan diajarkan kepada semua mahkluk hidup, maka Al-quran menjadi bentuk kasih-sayang Allah, atau nikmat, terbesar untuk alam semesta.

Inilah salah satu keistimewaan Al-quran yang diturunkan di bulan istimewa dan di malam istimewa, kepada hamba-Nya yang istimewa, Muhammad SAW.

Oleh sebab itu, jika kita memegang Al-quran di tangan kita, maka hayatilah bahwa kita sedang menggenggam nikmat Allah yang terbesar untuk alam raya ini.

Tidakkah kita ingin membaca nikmat terbesar ini?

Tidakkah kita ingin mempelajarinya?

Tidakkah kita ingin diajarkan langsung oleh guru terbaik di jagad raya?

Tentu saja ingin. Caranya mudah. Mulai dengan bismillah, berniat, tekadkan niat, lalu buka Al-quran itu, halaman berapa saja, surat apa saja, mulai baca dan pelajari.

Ingat, setelah membaca, lalu pelajari!

“Pelajari” berarti memahami apa yang dibaca. Boleh mempelajari dari tata bahasa (linguistik), boleh dari sejarah seperti asbabun nuzul (sebab ayat diturunkan), boleh dari tafsir Ibnu Katsir yang telah banyak digunakan ulama, boleh pakai apa saja…

Insyaallah, pada saat itu, Sang Ar-rahman duduk di depan kita, mulai membimbing kita memahami Al-quran.

Mulai ditulis di atas Shinkansen Hikari 525 (Nagoya – Shin-Osaka), 2014-09-30-9.40pm,
diselesaikan di Minoh-shi (Osaka-fu), 2014-10-05-4pm.

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

One thought on “Sang Ar-rahman: (3/3) Nikmat Terbesar”

Leave a Reply