“Dan rahim” pada ayat 1 surat An-nisa

Salah satu ayat yang sering dibacakan sebagai bagian dari al-khutbatul haajah adalah ayat 1 dari surat An Nisa berikut ini.

Apa maksud frase "dan rahim,"  pada ayat ini?
Apa maksud frase “dan rahim,” (garis biru) pada ayat ini?

Ayat ini memberikan garis besar isi surat An Nisa, yaitu tentang keluarga. Surat ini membahas detil perkara dan syariat keluarga seperti adab dan etika dalam keluarga, siapa saja yang berhak dinikahi, dan bagaimana membagi harta warisan.

Allah SWT memulai ayat ini dengan seruan untuk seluruh manusia, [ yaa-ayyuha-nnas ], bukan saja untuk kaum muslim. Rasanya jelas alasan kenapa himbuan ini untuk semua manusia kalau kita baca frase berikutnya.

Bahwa awalnya manusia itu cuma satu, yaitu merujuk kepada Nabi Adam (as), lalu Allah SWT ciptakan Ibu Hawa (ra) untuk menjadi istri beliau. Dari keduanya manusia berkembang-biak.

Meskipun sekarang manusia terdiri dari berbagai suku, ras, dan bangsa, kita semua adalah anak-anak Nabi Adam (as) dan Ibu Hawa (ra). Artinya, pada akhirnya kita sesama manusia ini memiliki hubungan darah, kita ini adalah sebuah keluarga besar…

Kalimat selanjutnya adalah suruhan bertakwa kepada Allah, yang nama-Nya kita gunakan saat kita membutuhkan sesuatu dari orang lain (garis merah pada gambar).

Dalam budaya Arab, bahkan sebelum Nabi Muhammad SAW mendakwahkan Islam, mengucapkan nama Allah adalah sebuah penekanan akhir bahwa si pembicara sungguh-sungguh, tidak mendramatisir keadaan, tidak pula berbohong.

“Demi Allah, saya butuh bantuanmu” artinya saya benar-benar butuh bantuanmu. Jika saya tidak dibantu, besar kemungkinan saya akan mendapat malapetaka. Oleh sebab itu, bantulah saya.

Dan orang yang dimintai bantuan akan membantu tanpa meragukan kondisi si pembicara.

Lalu, kalimat ini ditutup dengan [ wal ar-ham ],  “and the womb” kalau diartikan ke dalam bahasa Inggris, “dan rahim” kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia (garis biru pada gambar).

“Dan rahim”? Kalimat ini terasa ganjil. Apa maksud frase “dan Rahim” menjadi penutup kalimat ini?

Saat saya membuat draf khutbah Jumat, kalimat ini adalah bagian yang sulit saya terjemahkan ke dalam pidato saya.

Saya biasanya katakan “maintain your relationship” sebagaimana terjemahan dalam bahasa Indonesia “dan peliharalah hubungan silaturahim.”

Tapi tidak dapat dipungkiri, terjemahan kalimat ini jelas berbeda antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia (lihat gambar).

Terjemahan bahasa Inggris mendekati terjamahan per kata sebagai berikut ini.

Analisis kata per kata oleh Quranic Arabic Corpus ( http://corpus.quran.com/ ).
Analisis kata per kata oleh Quranic Arabic Corpus ( http://corpus.quran.com/ ).

Jadi, apa maksud “dan rahim” pada kalimat ini?

Mualim Yasir Qadhi menjelaskan pada Ramadan dua tahun silam bahwa untuk memahaminya, kita baca kalimat yang digarismerahi dua kali.

Pertama sebagai [ wa ttaqu llaha lladzi…] sebagaimana tertulis eksplisit pada ayat tersebut.

Kedua, ganti [ llaha ] dengan [ ar-ham ] sehingga kalimat ini menjadi [ wa ttaqu ar-hamu ll-ladzi… ]

Frase [ wal ar-ham ] ini diterjemahkan sebagai “demi kekeluargaan” (kinship) atau juga “demi keluarga” (family). Dalam bahasa Arab, kedua objek ini sama-sama berasal dari kata [ rahim ].

Sedangkan kata [ wa ] di sini sebagai sumpah, bukan kata sambung “dan”.

Inilah cara Allah menekankan pentingnya keluarga dan kekeluargaan. Allah menyamakan hak-Nya kepada manusia dengan hak keluarga terhadap manusia.

Contoh sederhana: Bukankah kita juga sering menggunakan nama ayah, ibu, kakak, atau adik kita ketika berurusan dengan orang lain?

Begitu juga ketika kita dapat masalah, orang yang pertama kali kita temui untuk dimintai bantuan adalah keluarga inti kita, ayah, ibu, kakak, atau adik.

Tentu saja ayat ini jauh lebih dalam daripada dua contoh sederhana tadi.

Ini bukan satu-satunya kasus Allah menyamakan hak-Nya dengan sesuatu dari ciptaan-Nya. Misalnya pada ayat ke-23 surat Al-Isra [17:23], Allah menyamakan hak-Nya dengan hak orang tua kita.

Kalau Allah sudah menyamakan hak-Nya dengan sesuatu yang lain, jelas maksudnya adalah sesuatu itu memiliki posisi yang sangat, teramat penting. Harkat, atau derajat kemuliaan, sesuatu itu tinggi sekali.

Artinya, keluarga dan kekeluargaan (silaturahim dalam keluarga) memiliki posisi sangat, teramat penting dalam Islam.

Hubungan darah selalu lebih kental daripada hubungan apapun. Teman dapat silih-berganti datang dan pergi, begitu juga dengan pasangan hidup, apa lagi bisnis. Tapi hubungan darah tidak pernah hilang. Ibu akan selalu menjadi ibu kita, begitu juga kakak dan adik meskipun apa pun yang terjadi.

Banyak keutamaan muslim yang memenuhi kewajiban menjaga silaturahim antarkeluarga dan antarsaudara umumnya.

Tapi, mirip dengan esai sebelumnya, fakta bahwa Allah menyamakan hak-Nya dengan hak keluarga adalah argumen yang sudah lebih dari cukup bagi kita untuk menjaga silaturahim dengan ibu, ayah, kakak, dan adik.

Tentu saja masalah antarsaudara adalah fakta sosial. Hanya saja, janganlah masalah tersebut menjadi alasan kita, dari sisi kita, untuk memutuskan silaturahim.

Saudara kita itu boleh jadi tidak ingin menyapa kita. Itu biarlah urusan dia. Tapi jangan sampai pemutusan silaturahim itu datang dari kita.

Ayo, jaga silaturahim dengan keluarga inti kita!

 

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

Leave a Reply