Modal Terbaik Hasil Kuliah

Hari Minggu, 9-Januari yang lalu, saya berbicara di depan perwakilan mahasiswa fisika se-Jawa Timur yang tergabung dalam organisasi FORMASI. Acara ini diadakan di gedung Teater B, kompleks Jurusan Fisika, ITS, Surabaya.

Misi utama saya sebenarnya justru ingin mendengarkan paparan Prof. Andrivo Rusydi yang bersedia datang ke acara tersebut. Karena pembicara kedua tidak bersedia hadir, saya akhirnya berperan sebagai pembicara pengganti.

Tema yang mereka minta menarik, masalah klasik yang umum dicemaskan para mahasiswa: Bagaimana cara lulusan fisika menggunakan apa-apa yang mereka pelajari di bangku sekolah untuk hidup.

Prof. Andrivo memaparkan dengan sederhana tentang penerapan ilmu fisika dalam kehidupan sehari-hari. Pendengar terinspirasi sehingga pertanyaanpun bermunculan seputar peran guru dan mahasiswa untuk men-syiar-kan fisika kepada anak-anak SMA sehingga tersadarkan bahwa ilmu fisika itu justru dasar dari teknologi dan bahkan ilmu lainnya.

Karena sudah dipaparkan oleh fisikawan betulan, bukanlah makam saya untuk menceramahi mereka untuk hal yang sama. Saya memilih untuk memaparkan aspek lain yang saya harap dapat menjadi bahan pengayaan bagi mereka.

Saya katakan kepada mereka bahwa fisika, biologi, atau kimia itu cuma satu dari dua komponen dari edukasi. Ada komponen kedua, yang justru lebih penting, yaitu perangai. Edukasi itu untuk mengubah perangai kita secara permanen, tentu perubahan ke arah positif. Jika fisika, biologi, atau kimia itu seperti pakaian, badannya adalah perangai.

Kita belajar fisika adalah untuk membuat perangai kita berubah menjadi lebih baik. Jangan mengaku mengerti fisika kuantum, atau teori elektrodinamika, jika kita masih tidak mampu berbuat baik kepada ibu sendiri.

Tidak semua mahasiswa fisika berbakat fisika, tapi semua orang berbakat jadi orang baik!

Saya juga paparkan saya menghormati para aktivis dan menekankan pentingnya menjadi aktivis. Karena saat berorganisasi itulah komponen kedua tersebut terasah lebih efektif. Tapi tentu menjadi mahasiswa aktivis bukanlah sebuah pelarian, tapi pilihan.

Mahasiswa aktivis harus menjadi teladan bagi para mahasiswa tipe kutu buku. Mahasiswa aktivis harusnya mampu menghargai kejujuran lebih daripada para kutu buku karena mereka pasti mengalami ujian kejujuran lebih intens daripada para kutu buku. Sebutlah kasus titip presensi, jika memang kamu seorang aktivis dan harus memilih antara ikut rapat atau ikut kuliah, pilih salah satu. Jika memilih rapat, jangan titip presensi; sebaliknya jika memilih ikut kuliah, patuhi hasil rapat — ini sekaligus melatih kita untuk membuat prioritas. Sebuah dilema yang tidak akan pernah dialami para kutu buku.

Bagi saya, edukasi itu harus membuat saya memiliki perangai yang baik. Fisika membuat saya memiliki perangai ilmiah, perangai yang terbaik yang mungkin manusia miliki. Dan itu adalah modal yang termahal yang bisa kita dapatkan dari bangku kuliah.

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

Leave a Reply