Catatan Pendek Haji 2017

Ka’bah (dari akun instagram Wayan Lessy)

Kalau bukan karena Ka’bah, rasanya tidak mungkin orang datang ke kota Mekah ini. Bagaimana tidak, daerah ini daerah bukit-berbatuan, tandus, berdebu, sangat panas di musim panas dan sangat dingin di musim dingin. Musim haji ada 4 jutaan orang datang ke sini, di luar musim haji satu jutaan orang tiap bulan tetap datang untuk umrah dan ziarah.

Kalau bukan karena Ka’bah, rasanya tidak mungkin perekonomian Kerajaan Arab Saudi hebat. Bagaimana tidak, biasanya perekonomian melekat pada sumber teknologi. Semakin banyak sumber teknologi sebuah negara, semakin hebat ekonominya; bukan sumber daya alam yang menentukan, contohnya adalah Jepang. Saya tidak tahu ada teknologi modern berasal dari Arab Saudi, tapi perekonomian mereka tetap kuat.

Kalau bukan karena Ka’bah, sudah pasti tidak akan ada ritual tawaf. Kalau bukan karena tawaf, saya tidak akan menyaksikan banyak di antara kita yang beribadah dan dalam waktu besamaan menyakiti sesama. Saya tidak yakin Allah menerima ibadah dan menjawab doa kita jika pada saat bersamaan kita menyakiti orang lain.

Kalau bukan karena Ka’bah, sudah pasti tidak akan ada haji. Kalau bukan karena haji, saya tidak akan pernah berada pada keadaan ihram selama 3 hari berturut-turut. Selama tiga hari itu sudah cukup bagi saya untuk menyadari bahwa tindak-tanduk saya lebih disiplin ketimbang di luar keadaan ihram. Saya memperhatikan cara berjalan, cara duduk, cara berbicara, cara mandi, cara buang air, cara batuk, cara bersin, cara makan, cara tidur…, pendek kata: semua cara untuk bergerak dan diam! Di Mina, tenda begitu rapi saat kami berihram, tapi seperti kapal pecah saat kami selesai berihram.

Kalau bukan karena Ka’bah, sudah pasti tidak akan ada haji. Kalau bukan karena haji, entahlah kapan saya akan sadar mana yang rukun dan mana yang wajib. Kalau saya tidak tahu yang rukun dan yang wajib, tidaklah mungkin saya paham rukun islam, apatah lagi rukun iman. Jika demikian, apakah saya masih layak mati sebagai seorang muslim?

Kalau bukan karena Ka’bah…

Author: febdian RUSYDI

a physicists, a faculty, a blogger.

Leave a Reply