Rendang

Here, I present you the half-end process of making rendang (1kg beef) on last 26 July 2016 . This was my exercise before making the real one for Idul Fitri 1435H.

Rendang, the world best food (according to CNN travel), is the next food from heaven after manna and salwa (Al-quran 2:57) according to me 🙂

The  CNN travel site says that the beauty of rendang comes not only from its taste, but also with simple recipe. The recipe might be simple, but I assure you the way of making it is more than meets the eyes.  I used to help my grand mother to cook rendang, she cooked with the traditional way: firewood and super huge frying pan.  When I say making the real rendang is more complicated than you think then I know what I am talking about.

Continue reading “Rendang”

Idul Fitri 1435

rusydi_please_forgive_us

Keinginan untuk memulai dengan lembaran baru

rusydi_please_forgive_us

Gundah-gulana

Gundah-gulana dibangun oleh dua kata yang sama-sama menjelaskan keadaan batin, yang pertama adalah kegelisahan dan yang terakhir adalah kelayuan. Setiap kali mendengar frase ini, yang pertama kali teringat oleh saya adalah saja Chairil Anwar “Senja di Pelabuhan Kecil” yang ada di buku Bahasa Indonesia sekolah dasar.

Ini kali tiada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mepercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung murang, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap berharap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

 

Memang ini adalah sajak cinta Chairil untuk Sri Ajati, bukan sajak menunggu kematian karya Chairil Anwar yang lain “Derai-derai cemara”. Tapi, suasana yang digambarkan dan kata-kata yang dipilih oleh Chairil Anwar pada . Semasa kecil, saya tinggal dekat dari pantai. Susana menjelang senja, perubahan dari terang menjadi gelap. Sering saya amati matahari tenggelam di senja hari, warna merah di ufuk barat seperti darah lalu terang pelan-pelan ditelan gelap. Ada saat sunyi datang, bunyi ombak pecah terdengar sayup-sayup sebelum akhirnya dipecahkan oleh azan Maghrib. Ini semua memberi kesan yang mencekam nagi saya, Ada perasaan berkecamuk di dalam dada, seperti ketakukan pada neraka. Perasaan gundah-gulana.

Continue reading “Gundah-gulana”

Sepuluh Tahun yang Lalu…

Sepuluh tahun yang lalu, di bulan Desember 2001, saya mengunjungi Fair Gunawan yang di tempatkan di Daytona, Florida. Saya berangkat dari Washington DC, bandara terdekat dari tempat tinggal saya, Columbia, Maryland. Transit di Atlanta, Georgia. Di Bandara Daytona itulahertemuan saya dengan Fair pertama kali.

Fair seorang insinyur dengan kepribadian yang kuat, keras tapi tidak kasar. Dari cara bicara, kucing pun tahu dia seorang yang pintar, namun jauh dari sombong. Fair lebih memilin dia ketimbang haurs menyakiti lawan bicaranya. Namun kesetiaannya pada idealismenya tak perlu diragukan. Mungkin dia ini tipe Soe Hoe Gie era 2000.

Kunjungan saya ke Daytona hanya untuk liburan. Tujuan utama apa lagi kalau bukan Universal Studios dan Disney Land si Orlando yang tersohor itu. Kami menghabiskan waktu 5 hari bolak-balik Daytona-Orlando, sehari di Universal Studios, tiga hari di Disney Land, dan sehari di pertokoan factory outlet.

Continue reading “Sepuluh Tahun yang Lalu…”