Archive for the Category »Mimbar Bebas «

Print This Post Email This Post

JP_091114_DahlanIskan_a

Tapi, mengapa memperbaikinya perlu waktu lebih dari satu bulan? Membuat kehebohan di Jakarta tidak segera reda? Mengapa orang Jakarta tidak sesabar orang-orang di luar Jawa yang listriknya sudah bertahun-tahun mati terus? Mengapa di luar Jawa tidak heboh? (Yang luar Jawa ini sebenarnya heboh juga. Tapi, karena letaknya jauh dari Jakarta, maka hebohnya tidak sampai ke telinga pusat kekuasaan. Seperti menguap ditelan gelombang laut Jawa).

(Dahlan Iskan dalam “Perbaikan Gardu Listrik nan Lama”, Jawa Pos 14 November 2009) – tulisan lengkap dapat Anda unduh di akhir artikel ini.

Haha… Setelah sekian lama saya membaca tulisan beliau, hari ini saya tidak tahan untuk tidak berkomentar. Lugas, cerdas, dan jenaka. Tiga kata itu cara saya menggambarkan beliau.

Tulisan tentang petaka pemadaman listrik di Jakarta ini seharusnya keluar dari salah satu karyawan PLN, atau dari seorang yang kerjanya tidak jauh dari PLN. Saya tidak tahu apakah sudah ada orang yang saya maksud menulis di koran atau di blog. Tapi, apa yang ditulis Bung Dahlan sangat layak diacungkan jempol.

more…

Print This Post Email This Post

Jika belum, cobalah. Jika sudah, gunakanlah seterusnya!

MiKTeX, dibaca Mik-Teh, karya Chrstian Schenk, adalah implementasi TeX di sistem operasi Windows – saudaranya adalah LaTeX yang bekerja di sistem operasi Unix. MikTeX

TeX sendiri adalah sistem penulisan karya Donald Knuth yang diniatkan untuk menulis buku terutama buku yang mengandung banyak persamaan matematika. Jadi, jika Anda mahasiswa fisika atau matematika atau kimia tapi menulis tugas akhir tidak menggunakan TeX, maka jangan sebut diri Anda mahasiswa fisika atau matematika atau kimia, hee hee hee.

Versi terbaru adalah MiKTeX 2.8 yang dirilis 1 September 2009 kemarin, saat kita masih khusyuk berpuasa. MiKTeX 2.8 mendukung sistem operasi Windows Vista dan Seven. Saya tidak tahu apa maksudnya, karena MiKTeX versi 2.4 pun masih tetap dapat bekerja di Vista saya. Mungkin baru terasa berbeda jika kita terlibat dalam pengembangannya, seperti membuat paket dan sejenisnya.

more…

Print This Post Email This Post

“sebuah catatan renungan untuk diri sendiri”

Soempah Pemoeda,

Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe,
tanah Indonesia;

Kedoe:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe,
bangsa Indonesia.

Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean,
Bahasa Indonesia.

Itulah sumpah setia yang diikrarkan para pemuda-pemudi Indonesia pada 28 Oktober 1928 itu yang sekarang tentu sudah menjadi kakek-nenek kita. Nenek saya, dari pihak ibu, pernah menceritakan hingar-bingar di tahun itu. Beliau berusia kurang dari 10 tahun saat itu (kelahiran 1920-an). Jadi ini cerita dari seorang anak kecil di zamannya kepada anak kecil di zaman 1980-an (saya!). Kesimpulan cerita: Heroik! Apalagi cocok dengan apa yang saya dapatkan di bangku sekolah.

Sumpah setia itu ditilik dari ikrar yang tertulis tidak dapat dipungkiri lagi kedahsyatannya. Pengakuan persamaan tanah ibu pertiwi dan bangsa serta penghormatan pada bahasa persatuan. Apa lagi sich yang kita butuhkan untuk meciptakan masyarakat madani selain persatuan tanah, bangsa, dan bahasa?

Kedahsyatan sumpah ini tentu seharusnya melahirkan aksi-aksi yang dahsyat, dalam artian positif. Seperti dahsyatnya Sumpah Palapa yang diikuti aksi-aksi dahsyat Patih Gadjah Mada. Dengan demikain, harusnya tidak akan pernah itu terjadi kerusuhan Ambon, Poso, Dayak, atau pertikaian tanah antara mamak dan kemenakan, tawuran antarsekolah, dan lebih besar lagi represif pemerintah dan aparat kepada rakyatnya sendiri. Kan para pelaku ini semua adalah pemuda (atau setidaknya pernah melewati masa muda), yang sudah mengikatkan diri pada tiga persatuan tadi.

Kalau masih belum jadi pemuda (baca: anak-anak), biarlah tawuran siked, tak mengapalah, hitung-hitung belajar memukul dan lari.

Remaja sudah dianggap pemuda belum, ya? Hehe

Okey, back to the topic.

Aksi dahsyat pemuda memang banyak, tidak dapat kita sangkal. Misalnya saja, sejarah mencatat tumbangnya pengaruh PKI oleh aksi pemuda 66, peringatan dini bobroknya Orde Baru oleh aksi angkatan 78, dan terakhir tentu yang masih segar adalah tumbangnya rezim Orde Baru oleh aksi angkatan 98. 

Namun aksi dahsyat ini masih tersaingi dengan aksi-aksi yang tak kalah dahsyat dalam artian negatif. Kerusuhan kerap terjadi, tawuran apa lagi, dan represif rezim berkuasa menjadi bagian dari sejarah bangsa ini. Organisasi pemuda banyak menjadi tempat latihan calon-calon penguasa yang kemudian setelah berkuasa melanjutkan aksi represif kepada rakyat. Rakyat juga tidak kalah berpenyakitnya: budaya konsumtif, maksiat, dan manja!

Tentu akan ada pembelaan: ini bukanlah salah rakyat atau penguasa, namun sistem yang membuat mereka demikian! Jangan khawatir, ini juga tidak salah. Masukkan saja sekalian: penguasa salah, rakyat salah, dan sistem salah. Kalau masih ada kambing hitam lainnya, tambahkan saja ke dalam daftar terdakwa tadi. Hehe

Tapi masak sih, terlalu banyak terdakwa dalam kesalahan ini? Kalau dalam dunia manufaktur, yang namanya akar masalah (root cause) harusnya satu dan itu dapat kita cari dari grafik Pareto. Salah satu sifat akar masalah adalah, jika dia diselesaikan maka berdampak paling signifikan (secara positif) terhadap masalah-masalah lain.

Kira-kira, apa sih akar masalah kepemudaan kita?

more…

Print This Post Email This Post

Saya baru saja kembali dari Padang. Ya, dalam rangka menjenguk orang tua dan keluarga yang baru saja mengalami gempa 7,9 SR. Misi utama tentu saja untuk membantu orang tua, tapi saya sempatkan juga berjalan-jalan dan berbincang-bincang dengan beberapa warga.

Tidak ada cerita yang saya ulas, karena sepertinya sudah banyak ulasan cerita bencana yang sudah beredar. Tidak ada pemandangan yang saya foto, karena sepertinya sudah banyak foto-foto bencana yang sudah beredar. Tidak ada juga video yang saya rekam, karena sudah banyak rekaman video bencana yang sudah beredar.

Yang ada hanya pilu, malu, dan harapan.

Pilu, kepada keluarga yang tertimpa bencana. Rumah hancur salah siapa? Salah sendiri yang tak patuhi aturan pembangunan atau salah pemerintah yang tak menegakkan peraturan? Berat mana penderitaan orang yang tewas atau yang hidup?

Malu, kepada diri sendiri. Orang dari luar datang menolong, orang yang ditolong suka lupa diri.

Harapan, harapan apa dan kepada siapa?

Print This Post Email This Post

Kejutan pagi ini dari Telkomsel Flash… saat hendak online barusan, ada pesan singkat (sms) masuk dari operator Telkomsel Flash. Isinya:

Pelanggan Yth. Sbg wujud apresiasi kami terhadap pelanggan TELKOMSELFlash, mulai tgl 1 Okt 09 s/d masa kontrak anda berakhir, Fair Use Paket TELKOMSELFlash Unlimited anda kembali ke kuota semula yaitu 2 GB. Terimakasih
Time: 08/10/2009 11:45:28

Wow, terima kasih Telkomsel Flash. Terlepas dari carut-marut yang ada, saya tetap berterima kasih kepada Anda! Semoga Anda menjadi pebisnis yang lebih baik untuk masa sekarang dan akan datang.

Tambahan [9 Okt 09]: Harap dicermati kata-kata “mulai tgl 1 Okt 09 s/d masa kontrak anda berakhir”. Apakah ini berarti setelah kontrak berakhir akan diturunkan kembali menjadi 500 MB?