Bom Atom di Hiroshima

Semalam saya menulis kisah tentang kota Hiroshima, Jepang vs. USA di perang Asia-Pasifik, fisi energi, keterlibatan Einstein, dan kisah pedih korban ledakan bom atom di microblog twitter. Tulisan ini memang bukan catatan sejarah, tetapi catatan perjalanan saya dan Ira ke museum perdamaian di Hiroshima pada 1 Desember 2013 yang lalu. Oleh sebab itu saya tidak mengklaim kalau tulisan saya tidak bebas nilai; sadar atau tidak terdapat sejumlah opini pribadi dalam tulisan ini. Tanpa bermaksud memelintir fakta, saya menyadari kemungkinan adanya kekeliruan fakta dalam tulisan ini.

Semalam saya menulis kisah tentang kota Hiroshima, Jepang vs. USA di perang Asia-Pasifik, fisi energi, keterlibatan Einstein, dan kisah pedih korban ledakan bom atom di microblog twitter. Tulisan ini memang bukan catatan sejarah, tetapi catatan perjalanan saya dan Ira ke museum perdamaian di Hiroshima pada 1 Desember 2013 yang lalu. Oleh sebab itu saya tidak mengklaim kalau tulisan saya tidak bebas nilai; sadar atau tidak terdapat sejumlah opini pribadi dalam tulisan ini. Tanpa bermaksud memelintir fakta, saya menyadari kemungkinan adanya kekeliruan fakta dalam tulisan ini.

hiroshima-1before
Hiroshima: sesaat sebelum bom atom meledak.
hiroshima-2after
Hiroshima: sesaat setelah bom atom meledak.

Continue reading “Bom Atom di Hiroshima”

“Antaratom”, Bukan “Antar Atom”

Seorang mahasiswa saya baru saja bertanya kepada saya, “Pak, yang benar itu ‘antaratom’ atau ‘antar atom’?”

“‘Antaratom’,” jawab saya. “Kenapa?” tanya saya penasaran.

Ternyata draf laporan tugas akhirnya dikritisi oleh seorang penguji karena dianggap salah menulis kata “antaratom”. Menurut sang penguji, yang benar adalah “antar atom” (dipisah).

Dalam kata “antaratom”, “antar” di sini adalah berperilaku seperti prefiks (awalan), artinya tidak sama dengan “antar” sebagai kata.

Continue reading ““Antaratom”, Bukan “Antar Atom””

Nobel Kimia 2012 untuk Reseptor Pintar

The Royal Swedish Academy of Science memutuskan untuk memberi Nobel Kimia 2012 kepada Robert J. Lefkowitz (kiri) dan Brian K. Kobilka (kanan)

atas usaha mereka mempelajari reseptor G-protein-terkopel.

Lefkowitz berafiliasi pada Howard Hughes medical Institute dan Duke University Medical Center di Durham, North Carolina, Amerika Serikat. Sedangkan afiliasi Kobilka adalah Stanford University School of Medicine, di negara bagian California, Amerika Serikat.

Saya ikuti secara langsung lewat Internet pengumuman tersebut seperti pada saat pengumuman Nobel Kedokteran dan Nobel Fisika. Tidak banyak yang bisa saya tulis karena topiknya terlalu di luar pengetahuan saya. Yang dapat saya pahami dari penjelasan saat konferensi pers tersebut, ditambah keterangan pers di situs nobel.se, adalah sebagai berikut.

Para ilmuwan sudah mengetahui bahwa sel-sel tubuh kita begitu mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Sel-sel dapat merasakan perubahan pada lingkungannya dan segera bereaksi untuk menyesuaikan diri terhadap situasi yang baru. Hanya saja, mekanisme bagaimana sel-sel tersebut merasakan perubahan pada lingkungan mereka tersebut masih misteri.

Continue reading “Nobel Kimia 2012 untuk Reseptor Pintar”

Nobel Kedokteran 2012 untuk Sel Stem

Hadian Nobel di bidang Fisiologi atau Pengobatan 2012 diberikan kepada Sir John B. Gurdon (kiri) dan Shinya Yamanaka (kanan)

“atas keberhasilan mereka menemukan sel-sel yang sudah dewasa dapat diprogram ulang kembali menjadi sel-sel muda”.

Saat Hadiah Nobel diumumkan, Gurdon bekerja untuk Gurdon Institute, sebuah institut riset penyakit kanker di Universitas Cambridge, Inggris. Sedangkan Yamanaka berafiliasi pada Universitas Kyoto (Jepang) dan Gladstone Institute, sebuah institut riset biomedis nirlaba di San Fransisco, Amerika Serikat. Mereka berdua masing-masing mendapat setengah dari delapan juta Kronor (Kronor adalah mata uang Swedia).

Sebelum membahas lebih jauh, saya ingin memberi catatan kecil tentang istilah “Nobel Kedokteran”. Nama aslinya adalah “Nobel Prize in Physiology or Medicine”, seperti yang saya terjemahkan pada kalimat pembuka paragraf di atas. Tapi sepertinya di tengah-tengah masyarakat nama “physiology or medicine” ini sering tertukar dengan satu nama, “kedokteran”. Saya tidak tahu apakah mereka sama atau tidak sama. Yang saya tahu, fisiologi adalah cabang ilmu biologi yang mengkaji fungsi-fungsi organisme hidup dan medicine adalah ilmu pengobatan.

Di dalam pelajaran biologi kita diajarkan bahwa satu sel telur akan berkembang biak menjadi ribuan sel-sel setelah dibuahi oleh sperma. Sel-sel baru yang terbentuk tidak sama dengan sel induknya, sebagian ada yang menjadi jantung, sebagian menjadi syaraf, sebagian menjadi tulang, dan lain-lain. Dengan kata lain, ada proses pemograman yang membuat satu sel telur menjadi sel-sel khusus. Sel yang sudah terprogram ini disebut sel terkhususkan (specialized cell, maaf saya tidak tahu istilah khususnya dalam Bahasa Indonesia.)

Continue reading “Nobel Kedokteran 2012 untuk Sel Stem”

Hadiah Nobel Kimia 2011: Kuasikristal

NobelPrize2011-Chemistry-2

Kenapa saya telat menuliskannya satu hari? Ya, dari tahun ke tahun saya selalu merasa kesulitan menuliskan Nobel Kimia. Sebagian karena saya tidak begitu mengerti materinya, tapi kontribusi terbesar adalah semangat menulis sudah tersedot satu hari sebelumnya untuk Nobel Fisika. Tapi kali ini saya paksa, apa lagi karena ada sisi lain yang menarik.

Nobel Kimia 2011 diberikan sepenuhnya untuk Dan Shechtman dari Israel Institute of Technology (Haifa, Israel).

Apa yang istimewa dari pekerjaan Shectman?

Kimia mungkin saat ini adalah ilmu yang sangat menikmati teori-teori ngejelimet yang dibangun dua pondasi dasar sains: matematika dan fisika. Ambil saja contoh mekanika kuantum, yang disusun berdasarkan runutan matematika yang konsisten, intuisi fisika, dan pemahaman statistik. Jika fisikawan sudah cukup puas dengan presisi teori mereka untuk atom hidrogen, kimiawan menjelajah lebih dalam dan detil sampai-sampai pada sejumlah hal tidak jelas lagi batasan antara fisika dan kimia. Kuasikristal salah satunya.

Konsep kuasi sering dipakai untuk meninjau sejumlah sistem-sistem (biasanya rumit) yang dianggap sebagai satu kesatuan. Seperti gas yang terdiri dari ribuan atom-atom di dalam sebuah balon ditinjau sebagai satu sistem, yaitu gas. Ribuan atom tersebut dianggap satu, yaitu kuasiatom. begitu juga dengan elektron-elektron yang bergerak dalam medium semikonduktor dapat dipandang sebagai kuasielektron.

Continue reading “Hadiah Nobel Kimia 2011: Kuasikristal”