Dec 17

Teori Kuantum (Masih) Belum Terpatahkan

Berikut adalah terjemahan lepas dari artikel Quantum theory survives latest challenge dari situs http://physicsworld.com .

Pengujian ketidaksamaan Leggett

Semenjak mekanika kuantum pertama kali diformulasikan, sejumlah fisikawan termasuk Albert Einstein tidak nyaman dengan ide entanglement (keter-belit-an) – yaitu sejumlah partikel yang memiliki sebuah hubungan yang tidak diizinkan oleh fisika klasik. Akibatnya, sejumlah fisikawan telah mengusulkan teori-teori alternatif yang mengizinkan hubungan tersebut hadir tanpa membutuhkan mekanika kuantum. Sungguh sulit untuk menguji teori-teori ini, namun sejumlah peneliti di Inggris Raya telah menggunakan cahaya yang terpuntir untuk membuat sebuah pengukuran penting yang menunjukkan kebenaran teori kuantum.

Apa itu keterbelitan kuantum? Akan saya jelaskan pada artikel berikutnya, tapi jika Anda tidak sabar, sila buka buku “Introduction to Quantum Mechanics” Griffiths (edisi kedua, 2005) Bab 1 halaman 4 (kualitatif) dan Bab 10 (kuantitatif).

( Read more )

comment?
Dec 11

Ukuran Molekul dengan Model Gas Ideal

Apa itu molekul?

Jawaban singkatnya adalah partikel yang dibentuk dari kombinasi dua buah atau lebih atom. Dalam kimia, molekul adalah unit terkecil dari sebuah senyawa yang masih mewarisi sifat-sifat kimia senyawa tersebut. Karena dibentuk oleh kombinasi atom-atom, molekul dapat dipecah kembali menjadi atom-atom pembentuknya. Tentu saja, setelah menjadi atom, sifat kimia dari molekul itu hilang. Misalnya saja molekul garam NaCl yang rasanya asin, namun atom-atom pembentuknya, Na dan Cl, tidak memiliki rasa asin.

Berapa ukuran molekul?

Memang banyak jenis molekul, pertanyaan ini umum untuk rata-rata ukuran semua molekul. Seperti halnya kita bertanya, berapa tinggi orang Indonesia? Tentu maksud kita adalah tinggi rerata orang-orang Indonesia. Nah, Ukuran molekul sudah tentu lebih besar daripada sebuah atom, tapi mungkin masih di orde yang sama yaitu armstrong (10-10 meter).

Dari mana kita tahu ukuran atom?

Banyak cara, pengukuran langsung (eksperimen) adalah cara terbaik. Namun kita juga dapat menaksir ukuran atom tanpa eksperimen, yaitu perhitungan dengan model atom. Kita dapat menggunakan model atom Bohr atau model atom mekanika kuantum, keduanya memberikan orde yang sama, yaitu armstrong.

Bagaimana mengetahui ukuran molekul?

( Read more )

comment?
Oct 20

Kuliah Listrik dan Magnet 2010

(Artikel ini pertama kali di posting pada hari Kamis, 30 September 2010 dan terus diperbarui setiap ada file unduhan baru)

[2 file baru: file ke-6 dan file ke-7]

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kuliah Listrik dan Magnet tahun ini saya mulai dari konsep “Teori Medan”. Ini saya berangkat dari pengalaman bahwa elektromagnetik lebih mudah dipahami ketika kita sudah mengerti teori medan.

Untuk memulai teori medan, saya pilih hukum Gravitasi Newton sebagai pintu masuk: bagaimana hukum Gravitasi Newton tidak mempertimbangkan waktu sehingga interaksi dapat terjadi secara instan. Ini yang membuat bingung Einstein: jika tiba-tiba Matahari hilang, maka seharusnya kita di Bumi baru sadar sekitar 8 menit kemudian karena cahaya butuh waktu merambat sampai ke Bumi. Pada akhirnya gaya harus dilihat dari perspektif baru: sebagai manifesto medan yang merambat dari sumbernya.

Medan memiliki geometri, oleh karena itu teorema Helmholtz harus diperkenalkan terlebih dahulu. Di sini hadir dilema. Teorema Helmholtz menggunakan bahasa kalkulus vektor, namun tidak semua kita yang penuh kesadaran belajar kalkulus vektor dengan sungguh-sungguh. Jadinya, teorema Helmholtz yang sederhana menjadi rumit karena kita tidak tahu apa itu operator div dan operator curl.

Oleh karena itu, saya selalu menyarankan peserta kuliah yang tidak tahu operator div/curl dan integral garis/permukaan/volume sebaiknya segera mengundurkan diri dan ambil tahun depan. Sebab saya khawatir, sisa hidup mereka di dalam kelas saya hanya menjadi neraka bagi mereka.

Berikut adalah slide presentasi kuliah saya.

( Read more )

7 comments
Oct 02

Congratulation, we are proud of you!

winner_citation_andrivo_rusydi

comment?
Sep 24

Gerak Relatif

Ketika di bulan Syaban, sering kita berujar “sebentar lagi kita masuk ke bulan Ramadhan.” Ketika Ramadhan usai, kita berujar “Ramadhan telah meninggalkan kita.” Yang menjadi pertanyaan: yang bergerak kita (Ramadhan diam), atau Ramadhan (kita yang diam).

motion_relativeGerak memang relatif. Pertimbangkan kasus berikut: Sebuah mobil bergerak dengan kecepatan 10 m/s, sebuah pesawat bergerak dengan kecepatan 100 m/s, dengan arah seperti yang ditunjukkan pada gambar di samping ini. Berapa kecepatan pesawat menurut mobil?

( Read more )

comment?
Aug 05

Rekreasi Grup Fisika Teoretik UA

100804_Malang_4

Atas (ki-ka): Ginanjar, Satriyahi, Nisa, Fatima, Nike, Rizky. Bawah (ki-ka): Fadol, Wahyu, Bian, saya, Isna, Qodnu, Masyru.

Setiap semester grup kami, PHOTON UA, mengadakan acara rekreasi ke luar kota – karena rekreasi di dalam kota dilakukan tiap hari haha. Satu kali diadakan selepas anak-anak sidang proposal, dan satu kali diadakan selepas anak-anak sidang tugas akhir.

Kali ini tujuannya adalah Jatim Park 1 dan BNS di kota Batu. Pesertanya adalah tiga orang mahasiswa angkatan 2006, lima orang angkatan 2007, dan tiga orang angkatan 2008.

Seru? sudah pasti… silakan nikmati sejumlah dokumentasi foto di akun facebook saya.

5 comments
Aug 02

Sensor dan Detektor

Beberapa hari yang lalu saya menonton salah satu sidang skripsi mahasiswa S1 di kampus saya. Topiknya terkait dengan sensor serat optik. Salah satu permasalahan yang menarik perhatian saya adalah “apakah serat optik itu sensor, atau detektor”.

Permasalahan itu dapat disederhanakan lagi menjadi: apa beda sensor dan detektor. Kata “sensor” dan “detektor” sering dipertukarpakaikan dalam bahasa sehari-hari. Karena keduanya terasa masuk akal, sering kali kita tidak mempermasalahkannya.

Namun, apakah keduanya adalah sama?

Permasalahan ini sudah saya dengar semenjak kuliah. Saya tulis artikel ini untuk menjelaskan hal ini, setidak-tidaknya menjadi acuan buat diri saya sendiri.

( Read more )

2 comments
Jul 10

Oi, Jangan Lupa Harga Bahan Makanan Naik Terus!

Akhirnya datang juga akhir dari kejuaraan dunia sepak bola itu… Sebuah tontonan yang paling banyak ditonton umat manusia seantero jagad raya.

Kejuaraan dunia sepak bola, atau biasa disebut Piala Dunia (world cup), memang memiliki dampak yang luar biasa pada segala aspek kehidupan manusia. Sebutlah ekonomi, sosial, budaya, komunikasi, teknologi, bahkan politik dan agama! Negara-negara yang tampil di Piala Dunia pasti terangkat harkat dan martabatnya, meskipun mungkin negeri mereka bukan termasuk negara maju. Piala Dunia juga mengindikasikan kondisi dalam negeri mereka: bahwa yang tampil biasanya dari negara yang teratur dan terorganisir.

Saya tidak punya data kuantitatif memang, tapi itu yang saya selidiki (lewat Internet tentunya) seperti Korea utara, Korea Selatan, dan sejumlah negara di Afrika  seperti Ghana dan Nigeria. Pemerintahan mereka, walau mungkin tidak bersih-bersih amat, tapi memiliki program ekonomi dan pendidikan yang jelas.

Jumlah penduduk juga tidak menentukan. Siapa yang mengatakan jumlah penduduk yang besar akan melahirkan pesebakbola yang tangguh? Brazil dan Indonesia dapat dijadikan perbandingan. Begitu juga sebaliknya, Uruguay dan Brunei Darussalam dapat dijadikan perbandingan.

( Read more )

comment?
Jun 19

I am using WordPress 3.0 “Thelonious”

It’s great like what you see here. I also give up my previous theme and switch to the new one: twentyten, the default theme of WordPress 3.0 that is used to be Kubric.

I expect this version make my blogging easier, lighter, friendlier, and more freedom.

Even though there are a lot of social networks out there, blog cannot be replaced since only blog gives you the true pleasure of writing. Plurk is cool, Facebook is cool, twitter is cool, but  who can deny that blog is designed to writing stuff?

Blog, the best way you can get to share knowledge…

1 comment
Jun 06

Nenek Umi, we never stop loving and admiring you

nenek_umi

Hj. Ariah Sanin, taken from Wayan Lessy’s facebook album (click picture to enlarge).

Our family just lost our beloved grandma, Ariah Sanin. We call her, Nenek Umi (from ummi in Arabic, or ibu in bahasa Indonesia). She died on Wednesday, 2nd June 2010, at 3.55am. It was a peril to us, Ariah Sanin’s great family. I don’t remember exactly her birthday, but I know she was around 90.

It is a tradition in Minangkabau that a mother in her old days lives in her daughter’s place. Nenek Umi had two daughters, my mother in Padang, and Aunt At, my mother’s little sister, who lives in Dumai (Riau). There are three other children of our grandma, Mak Dang (great uncle, the older), Mak Uniang (middle uncle, the fourth), and Mak Uncu ( little uncle, the youngest). My mother is the second. And, we, Rusydi’s family, are lucky since Nenek Umi stayed in our place longer than others.

The long interaction with Nenek Umi had made her so important in our life. She was our guardian, our teacher, our friend, and lately she became our role model. It was she who taught us reading Al Quran (with tajwid) for the first time. She encouraged us, sometime by force, to attend to surau (a traditional muslim school for learning Islam in Minangkabau). She challenged us to memorize Al Quran, often by promising some gifts. She liked to cook and her cook, in our subjective tongues, was the best in the Universe. When she was in the kitchen, she was like a magician, can turn every single thing into a delicious meal. No one who eat her cooks can argue more than that! Apparently her cook’s skill descends to my mother, and hopefully to me :-)

I heard she joined Indonesian’s army in her youth, made her as veteran and all rights for her special citizen (including pension). She told me once that she was around 10 or 11 when Soempah Pemoeda event. If this memory was correct, she should be born around 1917, or she died at around 93 years old. She witnessed colonist (Nederlander and Japanese) murdered local heroes, jet fighter flied above her land, involved at several combats, and also served meal for local combatant.

After independence day, she was back to her original nature: a farmer. Her parents were farmers, her grandparents were farmers, her great-great-great-great-grandfather (I don’t remember how many “greats” I should use) was one of the founder of the village called Sumanik, some where in Batu Sangkar town, in West Sumatera. It made her had some quite large and wide fields to farm. Every time we go to Sumanik, we love to walk on her sawah, swim and fish in her ponds, play around in her inherited great house with nine room and a rankiang in front (rumah gadang nan sambilan ruang dan rankiang di depannya).

( Read more )

7 comments