Mahapengasih dan Mahapenyayang

Artikel sebelumnya telah menguraikan bagaimana alhamduli lillahi rabbil ‘aalamin adalah pilihan sikap seorang muslim di setiap kondisi. Bersyukur hendaknya menjadi respon pertama kita terhadap kondisi kita, apapun itu, terlepas dari kita paham atau tidak kenapa kondisi kita seperti itu.

Dari struktur bahasa, alhamduli lillahi rabbil ‘aalamin menunjukkan posisi siapa yang Tuhan dan siapa yang hamba. Tuhan adalah pemilik rasa syukur, sedangkan hamba adalah yang membutuhkan rasa syukur tersebut. Untuk menjadi hamba, kita terlebih dahulu harus bersyukur. Kita bersyukur kepada Allah, Tuhan semesta alam yang memiliki sifat yang disebut pada ayat kedua surat Al-Fatiha,

Al-Quran-1-2

Sebagai Tuhan di alam semesta ini, Allah mendeklarasikan dua sifat utamanya, yaitu arrahmaani dan arrahiimi. Keduanya menunjukkan sifat kasih-sayang Allah. Karena keistimewannya, dua sifat ini diperkenalkan di pembuka Al Quran… lebih jauh lagi, dua sifat ini juga ada dalam kalimat Basmallah, sebuah kalimat yang seharusnya menjadi awal dari segala sesuatu perbuatan kita.

Continue reading “Mahapengasih dan Mahapenyayang”

Kecewa dan Alhamdulillah

Saya sering merasa kecewa. Berbagai macam alasannya, entah itu karena mendapat nilai buruk (saat menjadi pelajar/mahasiswa), entah itu karena sulit memahami sebuah bacaan, atau ditinggal pesawat. Rasanya semua kekecawaan berasal dari harapan kita yang tidak sesuai dengan kenyataan. Terakhir saya mengalami tanda-tanda kekecewaan, saya ulangi, tanda-tanda kekecewaan — ini untuk menunjukkan saya belum sepenuhnya kecewa — adalah saat serangkaian kerja keras saya tidak dihargai berkali-kali oleh seseorang. Boleh jadi orang tersebut telah menghargai tapi saya tidak dapat melihat cara dia menghargai – itulah sebabnya saya belum sepenuhnya kecewa.

Namun, tak dapat saya pungkiri bahwa tanda-tanda kekecawaan ini telah mengusik emosi saya. Ada keinginan untuk marah, untuk protes, ada perasaan tidak terima keadaan ini. Saya berusaha menekan keinginan dan perasaan tersebut. Saya ingat dulu saya cenderung bersikap frontal, bicara lantang dan to the point. Gaya ini sering membuat saya nyaman, karena saya dapat langsung mengetahui apa masalahnya, apa kesalahan saya, dan apa yang harusnya saya lakukan. Tapi, gaya seperti ini dekat dengan egois, karena saya mudah melupakan bagaimana perasaan orang-orang sekitar, baik yang terlibat maupun tidak terlibat dalam konflik.

Begitulah, saya mencoba melihat dari sisi lain dari rangkaian kejadian yang mengantarkan pada perasaan kekecewaan ini. Agama selalu menjadi kacamata terbaik menguraikan sebuah masalah. Dari berbagai jenis kacamata, hanya agama yang memperlihatkan kita, tida kanya pengetahuan (knowledge) tentang masalah itu, tapi juga hikmah dan kebijakan (wisdom) dari masalah itu. “Petiklah hikmah dari kejadian ini,” demikian untaian kalimat yang sering kita dengar.

Dan kacamata kali ini bernama Alhamdu lillah…

Continue reading “Kecewa dan Alhamdulillah”