Surat Al-Ikhlas

Surat Al-Ikhlas adalah surat favorit saya. Paling sering saya baca dalam salat. Inilah surat yang pertama kali saya hapal karena surat ini sering sekali saya dengar setiap kali ikut salat maghrib berjamaah di masjid semasa kecil dulu. Surat ini menjadi andalan saya kalau tiba-tiba disuruh membaca potongan surat pendek dalam acara Didikan Subuh yang diadakan Taman Pendidikan Al-Quran kompleks rumah kami setiap hari Minggu.

Saya tidak tahu nama surat itu Al-Ikhlas. Kebanyakan Al-Quran di zaman saya kecil tidak menyertakan nama surat dalam bahasa Indonesia, apa lagi Al-Quran yang saya punya saat itu cuma bagian juz 30 saja (Juz ‘Amma). Ketika saya punya Al-Quran dengan terjemahan, saya heran “kok nama suratnya Al-Ikhlas, ga ada satupun kata “ikhlas” dalam surat itu.”

Sebab surat ini turun (Asbabun nuzul) adalah jawaban dari pertanyaan berkenaan dengan sifat-sifat Allah yang disembah umat Islam. Ternyata, Allah itu Esa, tempat bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada yang menyetarai-Nya. Surat ini “memurnikan” keesaan Allah yang sempat diselewengkan oleh sejumlah golongan, bahwa Allah itu berbilang, bahwa Allah itu punya keluarga/bangsa, bahwa ada yang mewarisi ketuhanan Allah di Bumi, dan bahwa ada tuhan-tuhan lain yang setara dengan Allah.

Jadi, mana ikhlasnya?

Continue reading “Surat Al-Ikhlas”