Kenapa Kita Dapat Mempelajari Sains

Khutbah Jumat tanggal 28 November 2014, di masjid Osaka University.

rusydi-khutbah-jumat-20141128-Slide1

Inti sari: Kali ini di ayat ke-41, masih surat Yasin, Allah menggunakan kapal sebagai tanda keberadaann-Nya. Dengan demikian, kita disuruh berpikir bagaimana cara berjalan di atas air. Dan kita memang diberi kemampuan untuk memikirkannya. Tapi, kenapa kita diberi kemampuan untuk memikirkan tentang kapal? Lebih umum lagi, kenapa kita mampu mempelajari sains?

Continue reading “Kenapa Kita Dapat Mempelajari Sains”

Sang Ar-rahman: (3/3) Nikmat Terbesar

Tuhan kita, Tuhan kaum muslimin, adalah Tuhan yang tetap menyayangi kita meskipun kita adalah makhluk yang taktahu diuntung. Meskipun kita takbersyukur kepada-Nya, rezeki kita tetap dijamin oleh Ar-rahman; oksigen tetap tersedia untuk kita hirup; jantung dan paru-paru kita tetap bekerja sebagaimana mestinya. Kasih-sayang-Nya takterbatas, mengalahkan segala logika dan akal sehat manusia. (Lihat Bagian 2)

Atribut Ar-rahman ini menjadi satu subjek sendiri dalam Al-quran, yaitu surat Ar-rahman, surat ke-55. Di pembuka surat Ar-rahman ini, Allah menjelaskan bahwa Dia, yang memiliki kasih-sayang takberbatas ini, yang mengajarkan kita Al-quran, menciptakan kita dan mengajarkan kita berkomunikasi dengan ilmu pengetahuan. Tiga poin ini menjadi pokok bahasan empat ayat pertama surat Ar-rahman.

Mari kita lihat empat ayat pertama dari surat Ar-rahman ini.

Ar-rahman, 55:1-4

Empat ayat ini dapat dilihat sebagai satu kalimat: Ar-rahman mengajarkan Al-quran, menciptakan manusia, dan mengajarkannya (-nya = manusia) pandai berbicara.

Kenapa satu kalimat dipenggal menjadi empat ayat?

Continue reading “Sang Ar-rahman: (3/3) Nikmat Terbesar”

Sang Ar-rahman: (2/3) Alasan untuk Bersyukur

Tuhan kita, Allah, adalah Tuhan yang luar biasa mengasihi kita. Tidak ada Tuhan dalam agama lain yang mengasihi manusia sehebat kasih-sayang Allah, Tuhan kaum muslimin. Saking sayangnya kepada kita, Dia tidak keberatan menghapus dosa kita sedalam samudra, setinggi gunung dan sepekat kegelapan. (Lihat bagian 1.)

Lantas, apa sikap kita kepada Allah yang mengurusi semua kebutuhan kita?

Jika ada orang yang membantu kita, meskipun bantuannya sedikit, bahkan mungkin saja dia membantu tidak ikhlas, maka apa yang kita lakukan kepada orang itu?

Setidak-tidaknya kita berterima kasih… Ucapan terima kasih adalah tindakan minimal yang harus kita lakukan kepada si penolong.

Kepada orang itu saja kita setidaknya mengucapkan terima kasih, bagaimana kepada Allah yang Ar-rahman?

Sebegitunya Ar-rahman mengurusi kita, bahkan eksistensi dan keberlangsungan eksistensi kita karena Ar-rahman, logikanya tentu tidaklah cukup sekedar ucapan terima kasih.

Tapi Allah yang Ar-rahman hanya menyarankan kita untuk senantiasa bersyukur, walau cuma sedikit.

Menyarankan, tidak memerintahkan.

Rasa syukur yang disarankan itu pun cukup sedikit saja.

Kalau tidak bersyukur, bagaimana? Ya tidak mengapa… Allah tetap sayang kepada kita.

Ah, masak sih?

Continue reading “Sang Ar-rahman: (2/3) Alasan untuk Bersyukur”

Sang Ar-rahman: (1/3) Intro

Hari Minggu, 19 September 2014 yang lalu, saya mendapat kehormatan menyampaikan tadarus Al-quran di majelis silaturahim Muslim Indonesia di Osaka. Saya mengkaji surat Ar-rahman ayat 1–4. Tulisan ini, dan dua tulisan berikutnya (insyaallah), adalah elaborasi tertulis dari materi yang saya sampaikan pada hari itu. Ini adalah permintaan Ibunda saya. Semoga bermanfaat.

Allah memperkenalkan 99 atribut yang melekat pada-Nya dalam Al-quran. Sembilan puluh sembilan atribut ini dikenal dengan asmaul husna, atau nama-nama (al-asmã-u) yang baik (al-husnã).

Atribut pertama yang disebut dalam Al-quran adalah Ar-rahman dan kemudian Ar-rahim. Keduanya menjadi pembuka surat Al-fathiah,

AlQuran-01-01

Pun, jika ayat ini dianggap sebagai pembuka surat sehingga tidak termasuk bagian dari surat Al-fathiah, maka Ar-rahman tetaplah atribut pertama yang muncul dalam urutan mushaf Al-quran. Ar-rahman, juga Ar-rahim, menjadi penyusun ayat ke-3 (atau ke-2 jika Bismillah tidak dimasukkan) surat Al-fathiah,

AlQuran-01-03

Ar-rahman dan Ar-rahim berasal dari akar kata yang sama, yaitu   ra-ha-mim   (ra-ha-mim), yang berasosiasi dengan rahim ibu. Rahim ibu mengurusi segala sesuatu urusan janin di dalamnya, memberikan makan dan minum, melindungi dari berbagai bahaya, memberikan kehangatan dan kenyaman, dan ini semua tanpa diminta oleh sang janin.

Begitu pula Allah, Dia penuhi kebutuhan kita, Dia berikan kita perlindungan, Dia bereskan semua urusan kita, Dia yang mengayomi kita, dan semua Dia lakukan tanpa pernah sekalipun kita minta. Allah menyayangi kita tanpa batas, tanpa pamrih, tanpa kita minta. Allah seperti rahim dan kita adalah janin.

Itulah makna dari Ar-rahman dan Ar-rahim yang berasal dari kata    ra-ha-mim .

Jika Ar-rahman dan Ar-rahim memiliki makna sama, lantas apa bedanya?
Continue reading “Sang Ar-rahman: (1/3) Intro”

Hikmah dari Ekuilibrium di Langit

Khutbah Jumat tanggal 29 Agustus 2014, di masjid Osaka University.

Inti sari: Selain presisi, ciri lain dari ciptaan Allah adalah ekuilibrium. Ayat 7, 8 dan 9 surah Ar-rahman mengajarkan kita hikmah dari ekuilibrium yang ada di langit.

Continue reading “Hikmah dari Ekuilibrium di Langit”