Tag: bahasa

Sep 24

Takut

Menurut KBBI, takut adalah merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yg dianggap akan mendatangkan bencana. Takut juga memiliki asosiasi dengan takwa — tapi bukan takut jenis ini yang saya bahas.

“Kenapa kita merasa takut?”

Ada banyak sudut pandang yang dapat dipakai untuk menjawab pertanyaan tersebut. Salah satunya adalah kekhawatiran kalau-kalau sesuatu yang buruk terjadi hanya pada diri kita.

Jalan sendirian di malam yang sepi dan gelap, kita merasa takut. Kita khawatir jangan-jangan ada penjahat yang akan mencelakan kita.

Meloncati jurang membuat kita takut karena jika gagal sampai di seberang kita jatuh dan maut menunggu.

( Read more )

1 comment
Aug 19

Akhiran -if dalam Bahasa Indonesia

Hari ini saya diminta mengisi acara “Program Pembinaan Kebersamaan Mahasiswa Baru” tingkat universitas. Yah, semacam “OS-KM“-lah, kalau di zaman saya dulu. Materi yang disodorkan kepada saya berjudul “Perilaku Prestatif di Perguruan Tinggi di Universitas Airlangga”.

Prestatif? Apa itu? Saya cek di KBBI, baik dalam jaringan (KBBI daring) maupun buku edisi ketiga yang saya punya, tidak saya temukan kata ini. Cek lewat google, saya temukan sebuah artikel yang  juga membahas hal yang sama: Produktif Kreatif Prestatif Solutif oleh Bung Ikram Putra. Dari beliau saya paham maksud kata prestatif: niatnya hendak membentuk kata sifat (berprestasi) dari kata benda (prestasi). Pembentukkan katanya mirip dengan “kreatif” dari kata kerja “kreasi”, atau “produktif” dari kata kerja “produksi”, dan “inovatif” dari kata kerja “inovasi”.

Permasalahannya “prestasi” bukan kata kerja, tapi kata benda. Jika kata “prestatif” diganti dengan “berprestasi”, sepertinya tidak mengubah maksud kalimat: Perilaku berprestasi, yaitu tabiat-tabiat yang cenderung membuat kita memiliki prestasi.

Berbahasa Indonesia sepertinya mudah-mudah susah. Mudah karena kita merasa menggunakannya sehari-hari, susah karena begitu masuk ranah serius bahasa Indonesia kita terlihat belepotan. Padahal, “bahasa menunjukkan budaya” kata orang Melayu. Baik bahasanya, baik pula budayanya. Dan, “tiada kata seindah bahasa” kata P. Ramlee.

comment?
Aug 19

Bahasa, oh Bahasa…

It’s been a while, yes,  a month ago I wrote my latest article in this blog. Banyak yang terjadi sehingga saya tidak sempat menulis. Saya jadi merenung, siklus ini terjadi secara berulang. Ada masa di mana saya dapat menulis banyak, tapi kemudian idle dalam waktu yang cukup lama. Mungkin memang idealnya “biarlah sedikit tapi rutin” daripada “rezeki ular, sekali dapat banyak kemudian puasa berpekan-pekan.”

Saya ingat, setelah menulis tentang Harry Pottter, saya sibuk dengan persiapan empat mahasiswa saya yang hendak maju sidang skripsi. Alhamdulillah semua lulus dengan nilai yang sangat baik, tapi yang lebih penting daripada itu mereka mengaku mendapat banyak pengalaman berharga selama bekerja dengan saya. Tentu saja banyak kekurangan sana-sini yang saya nilai wajar, karena dari awal memang kami tidak berniat untuk mencapai hasil yang sempurna melainkan proses yang sempurna.

Ada satu catatan kecil saya tentang mahasiswa saya ini. Saya temukan keempat mahasiswa bimbingan saya tersebut terkendala dalam penulisan laporan mereka. Karena saya mengikuti dari awal perkembangan pekerjaan mereka, saya dapat menilai bahwa mereka tidak mampu menuangkan seutuhnya apa yang mereka kerjakan ke dalam laporan. Ini tentu mengurangi bobot “narsis”, hehe, karena bagaimana pun laporan selain berperan sebagai karya tulis ilmiah juga sebagai alat promosi seberapa bagus kita bekerja.
( Read more )

4 comments