Catatan Pendek Haji 2017

Ka’bah (dari akun instagram Wayan Lessy)

Kalau bukan karena Ka’bah, rasanya tidak mungkin orang datang ke kota Mekah ini. Bagaimana tidak, daerah ini daerah bukit-berbatuan, tandus, berdebu, sangat panas di musim panas dan sangat dingin di musim dingin. Musim haji ada 4 jutaan orang datang ke sini, di luar musim haji satu jutaan orang tiap bulan tetap datang untuk umrah dan ziarah.

Kalau bukan karena Ka’bah, rasanya tidak mungkin perekonomian Kerajaan Arab Saudi hebat. Bagaimana tidak, biasanya perekonomian melekat pada sumber teknologi. Semakin banyak sumber teknologi sebuah negara, semakin hebat ekonominya; bukan sumber daya alam yang menentukan, contohnya adalah Jepang. Saya tidak tahu ada teknologi modern berasal dari Arab Saudi, tapi perekonomian mereka tetap kuat.

Continue reading “Catatan Pendek Haji 2017”

Mahapengasih dan Mahapenyayang

Artikel sebelumnya telah menguraikan bagaimana alhamduli lillahi rabbil ‘aalamin adalah pilihan sikap seorang muslim di setiap kondisi. Bersyukur hendaknya menjadi respon pertama kita terhadap kondisi kita, apapun itu, terlepas dari kita paham atau tidak kenapa kondisi kita seperti itu.

Dari struktur bahasa, alhamduli lillahi rabbil ‘aalamin menunjukkan posisi siapa yang Tuhan dan siapa yang hamba. Tuhan adalah pemilik rasa syukur, sedangkan hamba adalah yang membutuhkan rasa syukur tersebut. Untuk menjadi hamba, kita terlebih dahulu harus bersyukur. Kita bersyukur kepada Allah, Tuhan semesta alam yang memiliki sifat yang disebut pada ayat kedua surat Al-Fatiha,

Al-Quran-1-2

Sebagai Tuhan di alam semesta ini, Allah mendeklarasikan dua sifat utamanya, yaitu arrahmaani dan arrahiimi. Keduanya menunjukkan sifat kasih-sayang Allah. Karena keistimewannya, dua sifat ini diperkenalkan di pembuka Al Quran… lebih jauh lagi, dua sifat ini juga ada dalam kalimat Basmallah, sebuah kalimat yang seharusnya menjadi awal dari segala sesuatu perbuatan kita.

Continue reading “Mahapengasih dan Mahapenyayang”

Kecewa dan Alhamdulillah

Saya sering merasa kecewa. Berbagai macam alasannya, entah itu karena mendapat nilai buruk (saat menjadi pelajar/mahasiswa), entah itu karena sulit memahami sebuah bacaan, atau ditinggal pesawat. Rasanya semua kekecawaan berasal dari harapan kita yang tidak sesuai dengan kenyataan. Terakhir saya mengalami tanda-tanda kekecewaan, saya ulangi, tanda-tanda kekecewaan — ini untuk menunjukkan saya belum sepenuhnya kecewa — adalah saat serangkaian kerja keras saya tidak dihargai berkali-kali oleh seseorang. Boleh jadi orang tersebut telah menghargai tapi saya tidak dapat melihat cara dia menghargai – itulah sebabnya saya belum sepenuhnya kecewa.

Namun, tak dapat saya pungkiri bahwa tanda-tanda kekecawaan ini telah mengusik emosi saya. Ada keinginan untuk marah, untuk protes, ada perasaan tidak terima keadaan ini. Saya berusaha menekan keinginan dan perasaan tersebut. Saya ingat dulu saya cenderung bersikap frontal, bicara lantang dan to the point. Gaya ini sering membuat saya nyaman, karena saya dapat langsung mengetahui apa masalahnya, apa kesalahan saya, dan apa yang harusnya saya lakukan. Tapi, gaya seperti ini dekat dengan egois, karena saya mudah melupakan bagaimana perasaan orang-orang sekitar, baik yang terlibat maupun tidak terlibat dalam konflik.

Begitulah, saya mencoba melihat dari sisi lain dari rangkaian kejadian yang mengantarkan pada perasaan kekecewaan ini. Agama selalu menjadi kacamata terbaik menguraikan sebuah masalah. Dari berbagai jenis kacamata, hanya agama yang memperlihatkan kita, tida kanya pengetahuan (knowledge) tentang masalah itu, tapi juga hikmah dan kebijakan (wisdom) dari masalah itu. “Petiklah hikmah dari kejadian ini,” demikian untaian kalimat yang sering kita dengar.

Dan kacamata kali ini bernama Alhamdu lillah…

Continue reading “Kecewa dan Alhamdulillah”

Lepas Ramadan: Sudahkah Saya Bertakwa?

AlQuran-02-045
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al Quran 02:183)

Taqwa, itulah tujuan berpuasa di hari-hari yang telah ditentukan (yaitu hari-hari di bulan Ramadan, Al-Baqarah ayat 185). Bukan sehat, bukan diet,  bukan berumur panjang, bukan rezeki lancar, bukan naik haji ke Mekkah, bukan pintar, bukan cari dapat jodoh, bukan apa-apa kecuali taqwa sebagai tujuan dari berpuasa di bulan Ramadan ini.

Apa taqwa itu? Kita sudah sering mendengar dari ceramah-ceramah, bahwa taqwa itu berarti takut, takut akan Allah, takut akan siksa neraka, takut meninggalkan perintah Allah dan mengerjakan laranganNya. Al Quran sendiri memberikan pengertian taqwa, setidak-tidaknya, pada permulaan surat Al Baqarah (ayat 2-5):

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa [2] (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka [3] dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. [4] Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. [5]

Berbicara tentang taqwa tentu akan panjang. Tapi, untuk saat ini cukup 4 ayat di atas menjadi acuan kita saat ini.

Sekarang Ramadan sudah dipenghujung. Sudahkah kita merasakan taqwa dalam diri kita? Saya sering bertanya pada diri saya tentang hal ini. Sedikitnya ada enam perkara, sesuatu Al Baqarah 2-5 tadi, yang membuat saya resah, yaitu sebagai berikut. Continue reading “Lepas Ramadan: Sudahkah Saya Bertakwa?”