Padang: Pilu, Malu, dan Harapan

Saya baru saja kembali dari Padang. Ya, dalam rangka menjenguk orang tua dan keluarga yang baru saja mengalami gempa 7,9 SR. Misi utama tentu saja untuk membantu orang tua, tapi saya sempatkan juga berjalan-jalan dan berbincang-bincang dengan beberapa warga.

Tidak ada cerita yang saya ulas, karena sepertinya sudah banyak ulasan cerita bencana yang sudah beredar. Tidak ada pemandangan yang saya foto, karena sepertinya sudah banyak foto-foto bencana yang sudah beredar. Tidak ada juga video yang saya rekam, karena sudah banyak rekaman video bencana yang sudah beredar.

Yang ada hanya pilu, malu, dan harapan.

Pilu, kepada keluarga yang tertimpa bencana. Rumah hancur salah siapa? Salah sendiri yang tak patuhi aturan pembangunan atau salah pemerintah yang tak menegakkan peraturan? Berat mana penderitaan orang yang tewas atau yang hidup?

Malu, kepada diri sendiri. Orang dari luar datang menolong, orang yang ditolong suka lupa diri.

Harapan, harapan apa dan kepada siapa?

Kota Padang Tercinta, Sampai Kapan Engkau DiizinkanNya Bertahan?

Gempa di ranah kampung halaman 30 September 2009 sebesar 7,9 SR jelas merupakan berita duka bagi saya. Tidak perlu banyak alasan untuk menjelakan kenapa.

Lepas gempa, seperti biasa, bala bantuan datang. Terlepas dari kendala-kendala yang ada, saya sangat berterima kasih kepada tim relawan dan para donatur yang telah menyumbangkan apa saja yang bisa disumbangkan.

Gempa memang salah satu fenomena unik, dekat dengan kita tapi kita tidak pernah dapat memprediksinya. Saya pernah berujar, bisa saja kita tidak sempat menyaksikan matinya Matahari karena umat manusia sudah lebih dahulu musnah karena gempa. Ini terkait dengan pertanyaan: kalaulah dapat memilih, mana yang lebih suka, kiamat karena matinya Matahari atau kiamat karena guncangan Bumi?

Continue reading “Kota Padang Tercinta, Sampai Kapan Engkau DiizinkanNya Bertahan?”