Idul Fitri 1435

rusydi_please_forgive_us

Khutbah Jumat

Untuk memenuhi permintaan sejumlah teman, saya unduh di sini teks ceramah saya. Teks-teks ceramah ini saya buat untuk dibaca keras (teks pidato), bukan seperti teks artikel. Sehingga, untuk menghayati teks ini, saya sangat anjurkan para pembaca untuk membaca teks ini seakan-akan sedang memberi pidato.

Institusi pendidikan tinggi di Jepang, meski tidak dinyatakan dengan tegas, secara prinsip menganut sistem sekular. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan kampus. Oleh sebab itu, mahasiswa muslim di Osaka University (OU) bersyukur karena kampus ini mengizinkan pelaksaan Salat Jumat di dalam kampus dan bahkan menggunakan fasiltias kampus.

Bahkan, di Kampus Suita (OU memiliki tiga kampus, yaitu di kota Toyonaka, di kota Suita, dan di kota Minoh), ada satu ruang berukuran k.l. 5×6 meter persegi yang diserahkan kepada organisasi mahasiswa muslim (OMA) untuk digunakan sebagai masjid.

Alhamdulillah.

Continue reading “Khutbah Jumat”

Free Palestine

My stand on this issue is clear:

For me, any argument is invalid when it concludes that Zionist has right to do what they are doing to Palestine.

This stand shall be passed on to all of my kids and their kids and their kid’s kids…

Keinginan untuk memulai dengan lembaran baru

rusydi_please_forgive_us

Kecewa dan Alhamdulillah

Saya sering merasa kecewa. Berbagai macam alasannya, entah itu karena mendapat nilai buruk (saat menjadi pelajar/mahasiswa), entah itu karena sulit memahami sebuah bacaan, atau ditinggal pesawat. Rasanya semua kekecawaan berasal dari harapan kita yang tidak sesuai dengan kenyataan. Terakhir saya mengalami tanda-tanda kekecewaan, saya ulangi, tanda-tanda kekecewaan — ini untuk menunjukkan saya belum sepenuhnya kecewa — adalah saat serangkaian kerja keras saya tidak dihargai berkali-kali oleh seseorang. Boleh jadi orang tersebut telah menghargai tapi saya tidak dapat melihat cara dia menghargai – itulah sebabnya saya belum sepenuhnya kecewa.

Namun, tak dapat saya pungkiri bahwa tanda-tanda kekecawaan ini telah mengusik emosi saya. Ada keinginan untuk marah, untuk protes, ada perasaan tidak terima keadaan ini. Saya berusaha menekan keinginan dan perasaan tersebut. Saya ingat dulu saya cenderung bersikap frontal, bicara lantang dan to the point. Gaya ini sering membuat saya nyaman, karena saya dapat langsung mengetahui apa masalahnya, apa kesalahan saya, dan apa yang harusnya saya lakukan. Tapi, gaya seperti ini dekat dengan egois, karena saya mudah melupakan bagaimana perasaan orang-orang sekitar, baik yang terlibat maupun tidak terlibat dalam konflik.

Begitulah, saya mencoba melihat dari sisi lain dari rangkaian kejadian yang mengantarkan pada perasaan kekecewaan ini. Agama selalu menjadi kacamata terbaik menguraikan sebuah masalah. Dari berbagai jenis kacamata, hanya agama yang memperlihatkan kita, tida kanya pengetahuan (knowledge) tentang masalah itu, tapi juga hikmah dan kebijakan (wisdom) dari masalah itu. “Petiklah hikmah dari kejadian ini,” demikian untaian kalimat yang sering kita dengar.

Dan kacamata kali ini bernama Alhamdu lillah…

Continue reading “Kecewa dan Alhamdulillah”