Keinginan untuk memulai dengan lembaran baru

rusydi_please_forgive_us

Kecewa dan Alhamdulillah

Saya sering merasa kecewa. Berbagai macam alasannya, entah itu karena mendapat nilai buruk (saat menjadi pelajar/mahasiswa), entah itu karena sulit memahami sebuah bacaan, atau ditinggal pesawat. Rasanya semua kekecawaan berasal dari harapan kita yang tidak sesuai dengan kenyataan. Terakhir saya mengalami tanda-tanda kekecewaan, saya ulangi, tanda-tanda kekecewaan — ini untuk menunjukkan saya belum sepenuhnya kecewa — adalah saat serangkaian kerja keras saya tidak dihargai berkali-kali oleh seseorang. Boleh jadi orang tersebut telah menghargai tapi saya tidak dapat melihat cara dia menghargai – itulah sebabnya saya belum sepenuhnya kecewa.

Namun, tak dapat saya pungkiri bahwa tanda-tanda kekecawaan ini telah mengusik emosi saya. Ada keinginan untuk marah, untuk protes, ada perasaan tidak terima keadaan ini. Saya berusaha menekan keinginan dan perasaan tersebut. Saya ingat dulu saya cenderung bersikap frontal, bicara lantang dan to the point. Gaya ini sering membuat saya nyaman, karena saya dapat langsung mengetahui apa masalahnya, apa kesalahan saya, dan apa yang harusnya saya lakukan. Tapi, gaya seperti ini dekat dengan egois, karena saya mudah melupakan bagaimana perasaan orang-orang sekitar, baik yang terlibat maupun tidak terlibat dalam konflik.

Begitulah, saya mencoba melihat dari sisi lain dari rangkaian kejadian yang mengantarkan pada perasaan kekecewaan ini. Agama selalu menjadi kacamata terbaik menguraikan sebuah masalah. Dari berbagai jenis kacamata, hanya agama yang memperlihatkan kita, tida kanya pengetahuan (knowledge) tentang masalah itu, tapi juga hikmah dan kebijakan (wisdom) dari masalah itu. “Petiklah hikmah dari kejadian ini,” demikian untaian kalimat yang sering kita dengar.

Dan kacamata kali ini bernama Alhamdu lillah…

Continue reading “Kecewa dan Alhamdulillah”

Surat Al-Ikhlas

Surat Al-Ikhlas adalah surat favorit saya. Paling sering saya baca dalam salat. Inilah surat yang pertama kali saya hapal karena surat ini sering sekali saya dengar setiap kali ikut salat maghrib berjamaah di masjid semasa kecil dulu. Surat ini menjadi andalan saya kalau tiba-tiba disuruh membaca potongan surat pendek dalam acara Didikan Subuh yang diadakan Taman Pendidikan Al-Quran kompleks rumah kami setiap hari Minggu.

Saya tidak tahu nama surat itu Al-Ikhlas. Kebanyakan Al-Quran di zaman saya kecil tidak menyertakan nama surat dalam bahasa Indonesia, apa lagi Al-Quran yang saya punya saat itu cuma bagian juz 30 saja (Juz ‘Amma). Ketika saya punya Al-Quran dengan terjemahan, saya heran “kok nama suratnya Al-Ikhlas, ga ada satupun kata “ikhlas” dalam surat itu.”

Sebab surat ini turun (Asbabun nuzul) adalah jawaban dari pertanyaan berkenaan dengan sifat-sifat Allah yang disembah umat Islam. Ternyata, Allah itu Esa, tempat bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada yang menyetarai-Nya. Surat ini “memurnikan” keesaan Allah yang sempat diselewengkan oleh sejumlah golongan, bahwa Allah itu berbilang, bahwa Allah itu punya keluarga/bangsa, bahwa ada yang mewarisi ketuhanan Allah di Bumi, dan bahwa ada tuhan-tuhan lain yang setara dengan Allah.

Jadi, mana ikhlasnya?

Continue reading “Surat Al-Ikhlas”

Pahlawan

Pahlawan, secara literal, berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran (KBBI daring). Kebenaran mungkin bisa didebat sebagai sesuatu yang relatif, benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain. Ini membuat seseorang bisa menjadi pahlawan bagi satu golongan dan menjadi penjahat bagi golongan yang lain. Banyak sekali contohnya, sebut saja Usama Bin Ladin.

Kebenaran itu bisa distandardisasikan, misalkan dengan merujuk pada agama. Ini pun tidak akan lepas dari perdebatan, mau pakai agama yang mana? Sebagai seorang muslim, saya percaya kebenaran yang diajarkan Islam-lah yang betul. Tapi, Islam juga mengajarkan muslim untuk tidak pernah memaksakan kebenaran kepada orang lain. Menyampaikan iya, namanya dakwah, tapi tidak memaksakan. Misalnya, saya paham bahwa standardisasi kebenaran adalah nilai-nilai mulia yang diilhamkan Allah kepada jiwa setiap kita. Setelah bersumpah atas matahari dan bulan, siang dan malam, langit dan bumi, dan jiwa, Allah secara terus-menerus membisikkan nilai-nilai fasik dan takwa kepada jiwa manusia (Asy Syams 1-8). Jadi, nurani kita, tanpa tahu ajaran agama apapun, dapat mengetahui kemuliaan sebuah perbuatan. Contoh: “Meludahi ibu kandung” adalah perbuatan yang tidak mulia tanpa perlu perdebatan apun.

Jadi, seseorang menjadi pahlawan karena keberaniannya melakukan perbuatan-perbuatan yang mulia. Perbuatan itu tentu butuh perjuangan dan perjuangan adalah pengorbanan. Tidaklah berjuang kalau kita tidak mengorbankan sesuatu. Sekolah saja misalnya, seorang siswa yang belajar adalah sebuah perjuangan. Dia memilih untuk belajar, mengorbankan tidurnya, mengorbankan waktu mainnya, mengorbankan hal-hal lain yang dia suka demi belajar.

Tentu saja tidak semua pejuang adalah pahlawan. Karena pembedanya adalah motif perjuangannya, apakah mulia atau tidak.

Dalam konteks sosial masyarakat modern sekarang, standardisasi kebenaran yang diperjuangkan seorang pahlawan telah berubah. Kemuliaan dirasa terlalu abstrak untuk dijadikan standardisasi kebenaran, sehingga dicari sesuatu yang mudah dilihat dan dicerna, yaitu popularitas. Masyarakat cendrung untuk mem-pahlawan-kan orang yang populer, ini telah terjadi semenjak zaman Nabi Nuh dan akan terus terjadi sampai akhir dunia nanti. Sehingga popular menjadi jalan dengan garansi tertinggi bagi siapapun yang ingin menjadi pahlawan. Jadi, ini memang sudah menjadi fitrah bagi kita sebagai makhluk sosial.

Kenapa ingin jadi pahlawan?

Continue reading “Pahlawan”

Gundah-gulana

Gundah-gulana dibangun oleh dua kata yang sama-sama menjelaskan keadaan batin, yang pertama adalah kegelisahan dan yang terakhir adalah kelayuan. Setiap kali mendengar frase ini, yang pertama kali teringat oleh saya adalah saja Chairil Anwar “Senja di Pelabuhan Kecil” yang ada di buku Bahasa Indonesia sekolah dasar.

Ini kali tiada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mepercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung murang, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap berharap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

 

Memang ini adalah sajak cinta Chairil untuk Sri Ajati, bukan sajak menunggu kematian karya Chairil Anwar yang lain “Derai-derai cemara”. Tapi, suasana yang digambarkan dan kata-kata yang dipilih oleh Chairil Anwar pada . Semasa kecil, saya tinggal dekat dari pantai. Susana menjelang senja, perubahan dari terang menjadi gelap. Sering saya amati matahari tenggelam di senja hari, warna merah di ufuk barat seperti darah lalu terang pelan-pelan ditelan gelap. Ada saat sunyi datang, bunyi ombak pecah terdengar sayup-sayup sebelum akhirnya dipecahkan oleh azan Maghrib. Ini semua memberi kesan yang mencekam nagi saya, Ada perasaan berkecamuk di dalam dada, seperti ketakukan pada neraka. Perasaan gundah-gulana.

Continue reading “Gundah-gulana”