Modal Terbaik Hasil Kuliah

Hari Minggu, 9-Januari yang lalu, saya berbicara di depan perwakilan mahasiswa fisika se-Jawa Timur yang tergabung dalam organisasi FORMASI. Acara ini diadakan di gedung Teater B, kompleks Jurusan Fisika, ITS, Surabaya.

Misi utama saya sebenarnya justru ingin mendengarkan paparan Prof. Andrivo Rusydi yang bersedia datang ke acara tersebut. Karena pembicara kedua tidak bersedia hadir, saya akhirnya berperan sebagai pembicara pengganti.

Tema yang mereka minta menarik, masalah klasik yang umum dicemaskan para mahasiswa: Bagaimana cara lulusan fisika menggunakan apa-apa yang mereka pelajari di bangku sekolah untuk hidup. Continue reading “Modal Terbaik Hasil Kuliah”

Memulai tahun 2016 dengan hari Jumat

Hari Jumat adalah hari besar, bukan karena pada hari itu dimulai dengan huruf J yang merupakan simbol momentum angular total (momentum angular orbital plus momentum angular spin, alias LS-coupling).

Kebesaran hari Jumat ditandai oleh kewajiban salat Jumat bagi kami kaum muslimin.

Kebesaran hari Jumat ditandai oleh hari kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan fisik oleh bangsa Belanda dan Jepang.

Mungkin masing-masing kita punya tambahan indikator kenapa hari Jumat adalah hari besar. Mungkin juga sebagian kita membantah.

“Ah, itu hanya kebetulan…” Tapi sayangnya dalam fisika tidak berlaku yang namanya kebetulan. Salah satu prinsip dasar sains (termasuk fisika), adalah prinsip sebab-akibat (causality principle) yang kalau dimatematiskan disebut sebagai hukum ketiga Newton.

Continue reading “Memulai tahun 2016 dengan hari Jumat”

“Dan rahim” pada ayat 1 surat An-nisa

Salah satu ayat yang sering dibacakan sebagai bagian dari al-khutbatul haajah adalah ayat 1 dari surat An Nisa berikut ini.

Apa maksud frase "dan rahim,"  pada ayat ini?
Apa maksud frase “dan rahim,” (garis biru) pada ayat ini?

Ayat ini memberikan garis besar isi surat An Nisa, yaitu tentang keluarga. Surat ini membahas detil perkara dan syariat keluarga seperti adab dan etika dalam keluarga, siapa saja yang berhak dinikahi, dan bagaimana membagi harta warisan.

Allah SWT memulai ayat ini dengan seruan untuk seluruh manusia, [ yaa-ayyuha-nnas ], bukan saja untuk kaum muslim. Rasanya jelas alasan kenapa himbuan ini untuk semua manusia kalau kita baca frase berikutnya.

Bahwa awalnya manusia itu cuma satu, yaitu merujuk kepada Nabi Adam (as), lalu Allah SWT ciptakan Ibu Hawa (ra) untuk menjadi istri beliau. Dari keduanya manusia berkembang-biak.

Meskipun sekarang manusia terdiri dari berbagai suku, ras, dan bangsa, kita semua adalah anak-anak Nabi Adam (as) dan Ibu Hawa (ra). Artinya, pada akhirnya kita sesama manusia ini memiliki hubungan darah, kita ini adalah sebuah keluarga besar…

Kalimat selanjutnya adalah suruhan bertakwa kepada Allah, yang nama-Nya kita gunakan saat kita membutuhkan sesuatu dari orang lain (garis merah pada gambar).

Dalam budaya Arab, bahkan sebelum Nabi Muhammad SAW mendakwahkan Islam, mengucapkan nama Allah adalah sebuah penekanan akhir bahwa si pembicara sungguh-sungguh, tidak mendramatisir keadaan, tidak pula berbohong.

“Demi Allah, saya butuh bantuanmu” artinya saya benar-benar butuh bantuanmu. Jika saya tidak dibantu, besar kemungkinan saya akan mendapat malapetaka. Oleh sebab itu, bantulah saya.

Dan orang yang dimintai bantuan akan membantu tanpa meragukan kondisi si pembicara.

Lalu, kalimat ini ditutup dengan [ wal ar-ham ],  “and the womb” kalau diartikan ke dalam bahasa Inggris, “dan rahim” kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia (garis biru pada gambar).

“Dan rahim”? Kalimat ini terasa ganjil. Apa maksud frase “dan Rahim” menjadi penutup kalimat ini?

Continue reading ““Dan rahim” pada ayat 1 surat An-nisa”

Rendang

Here, I present you the half-end process of making rendang (1kg beef) on last 26 July 2016 . This was my exercise before making the real one for Idul Fitri 1435H.

Rendang, the world best food (according to CNN travel), is the next food from heaven after manna and salwa (Al-quran 2:57) according to me 🙂

The  CNN travel site says that the beauty of rendang comes not only from its taste, but also with simple recipe. The recipe might be simple, but I assure you the way of making it is more than meets the eyes.  I used to help my grand mother to cook rendang, she cooked with the traditional way: firewood and super huge frying pan.  When I say making the real rendang is more complicated than you think then I know what I am talking about.

Continue reading “Rendang”

Idul Fitri 1435

rusydi_please_forgive_us