Tag: komentar

Dec 29

Gundah-gulana

Gundah-gulana dibangun oleh dua kata yang sama-sama menjelaskan keadaan batin, yang pertama adalah kegelisahan dan yang terakhir adalah kelayuan. Setiap kali mendengar frase ini, yang pertama kali teringat oleh saya adalah saja Chairil Anwar “Senja di Pelabuhan Kecil” yang ada di buku Bahasa Indonesia sekolah dasar.

Ini kali tiada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mepercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung murang, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap berharap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Memang ini adalah sajak cinta Chairil untuk Sri Ajati, bukan sajak menunggu kematian karya Chairil Anwar yang lain “Derai-derai cemara”. Tapi, suasana yang digambarkan dan kata-kata yang dipilih oleh Chairil Anwar pada . Semasa kecil, saya tinggal dekat dari pantai. Susana menjelang senja, perubahan dari terang menjadi gelap. Sering saya amati matahari tenggelam di senja hari, warna merah di ufuk barat seperti darah lalu terang pelan-pelan ditelan gelap. Ada saat sunyi datang, bunyi ombak pecah terdengar sayup-sayup sebelum akhirnya dipecahkan oleh azan Maghrib. Ini semua memberi kesan yang mencekam nagi saya, Ada perasaan berkecamuk di dalam dada, seperti ketakukan pada neraka. Perasaan gundah-gulana.

( Read more )

2 comments
Jun 05

Menelaah Ranking Universitas Asia versi QS

Sejumlah kalangan akademis di Indonesia sedang heboh, sebagian senang sebagian menggerutu, terkait dirilisnya Asian University Ranking oleh QS lewat situsnya http://www.topuniversities.com. Untuk di dalam negeri, sampai tiga halaman pertama laman tersebut, ranking universitas diberikan oleh tabel berikut ini.

Ranking Universitas Klasifikasi Skor
50 Universitas Indonesia (UI) XL|FC 67.80
80 Universitas Gadjah Mada (UGM) XL|FC 54.40
86 Universitas Airlangga (UA) L|FC 52.10
98 Institut Teknologi Bandung (ITB) L|CO 47.60
128 Universitas Padjadjaran (Unpad) XL|FO 41.10
134 Institut Pertanian Bogor (IPB) L|FO 40.70

Tentu saja tabel di atas dirancang untuk dapat dipahami dengan mudah oleh para pembaca. Bahwasanya ranking menunjukkan kualitas, semakin kecil ranking berarti semakin berkualitas. Kualitas tersebut dikuantifikasi dalam bentuk skor. Artinya, di dalam negeri, QS meranking Universitas Indonesia sebagai universitas paling berkualitas dengan skor 67.80.

Namun, apakah ini berarti Universitas Indonesia lebih baik daripada Institut Teknologi Bandung? Jika kita lihat kolom klasifikasi, ternyata dua universitas ini berbeda jenis menurut QS. Klasifikasi pertama menunjukkan jumlah mahasiswa: L (large) berkisar antara 12.000 dan 30.000 orang: XL (extra large) berarti lebih dari 30.000 orang. Klasifikasi kedua menunjukkan jumlah fakultas: FC (fully comprehensive) menunjukkan jumlah fakultas yang lengkap, termasuk kedokteran; CO (comprehensive) melingkupi lima area fakultas, FO (focused) menunjukkan jumlah area fakultas lebih daripada dua. Jika kurang daripada dua fakultas, dikategorikan SP (Spesialis). Meskipun jumlah mahasiswa dan fakultas berkontribusi pada skor akhir, namun tidak layak membandingkan dua universitas atau lebih yang berbeda klasifikasinya.

( Read more )

4 comments
Dec 20

Kebijakan riset di Cina membuat tidak inovatif, kalau di kita?

Sambil menunggu akses Internet aktif kembali di kantor, saya membaca majalah Physics World edisi Desember 2010 (Volume 23 No. 12). Seperti biasa, Physics World menghadirkan banyak berita tentang perkembangan riset terkini dengan bahasa popular. Berita utama mereka tentang membaca DNA lebih cepat dengan bantuan lembaran dua dimensi graphene dan tentang apa saja yang kita ketahui bagaimana serangga dapat menempel di mana saja (kaki adesif). Namun bukan itu yang membuat saya termenung.

Ada dua artikel yang menarik perhatian saya, pertama adalah  Ministry defends ‘wasteful’ research, dalam kolom “News & Analysis”. Artikel ini mengulas tentang reaksi pemerintah Cina atas editorial di majalah Science, edisi 3 November 2010, yang melibatkan Yigong Shi dan Yi Rao, dekan fakultas Life Sciences dari Universitas Beijing dan Universitas Peking, berturut-turut. Shi dan Rao menyatakan bahwa riset di negara mereka membuang sumber daya, korupsi semangat, dan masih miskin inovasi. “Masalah-masalah yang merajalela dalam pembiayaan riset – beberapa di antaranya disebabkan oleh sistem dan sejumlah budaya lainnya – telah memperlambat laju potensi inovasi Cina,” tulis mereka . “Sudah menjadi rahasia umum bahwa melakukan riset yang bagus tidaklah sepenting merayu birokrat dan ahli favorit mereka.”

( Read more )

4 comments
Nov 14

Pembahasan Listerik oleh (Mantan) Reporter

JP_091114_DahlanIskan_a

Tapi, mengapa memperbaikinya perlu waktu lebih dari satu bulan? Membuat kehebohan di Jakarta tidak segera reda? Mengapa orang Jakarta tidak sesabar orang-orang di luar Jawa yang listriknya sudah bertahun-tahun mati terus? Mengapa di luar Jawa tidak heboh? (Yang luar Jawa ini sebenarnya heboh juga. Tapi, karena letaknya jauh dari Jakarta, maka hebohnya tidak sampai ke telinga pusat kekuasaan. Seperti menguap ditelan gelombang laut Jawa).

(Dahlan Iskan dalam “Perbaikan Gardu Listrik nan Lama”, Jawa Pos 14 November 2009) – tulisan lengkap dapat Anda unduh di akhir artikel ini.

Haha… Setelah sekian lama saya membaca tulisan beliau, hari ini saya tidak tahan untuk tidak berkomentar. Lugas, cerdas, dan jenaka. Tiga kata itu cara saya menggambarkan beliau.

Tulisan tentang petaka pemadaman listrik di Jakarta ini seharusnya keluar dari salah satu karyawan PLN, atau dari seorang yang kerjanya tidak jauh dari PLN. Saya tidak tahu apakah sudah ada orang yang saya maksud menulis di koran atau di blog. Tapi, apa yang ditulis Bung Dahlan sangat layak diacungkan jempol.

( Read more )

comment?
Oct 25

Mari Menggunakan Windows Live Writer

Windows Live Writer Whoa… hampir setahun yang lalu saya mendengar nama produk ini, Windows Live Writer (WLW), yang terpasang otomatis setelah saya mengizinkan Windows Update untuk menginstal “Windows Live”. Tidak pernah saya otak-atik karena memang tidak tertarik. Sampai akhirnya saya membaca artikel “Moderate Comments on your WordPress Blog with Windows Live Writer” di blog ditigal inspiration. Akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan Windows Live Writer. Program ini dapat diunduh di situs Windows LiveTM. Jangan khawatir, WLW gratis kok!

Blog almost anywhere: Writer lets you publish to almost any blog service, including Windows Live, WordPress, Blogger, LiveJournal, TypePad, SharePoint, Community Server, and many more. Don’t have a blog yet? Writer can help you set one up. (http://download.live.com/writer)

WLW menawarkan banyak kebolehan yang memanjakan para blogger, seperti diringkas oleh kuotasi di atas. Anda boleh tengok ulasan produk ini lebih banyak lewat google. Namun, jika Anda praktisi blogger kelas “biasa-saja’’ seperti saya, berikut sejumlah manfaat yang saya dapat dari WLW.

( Read more )

1 comment
Oct 08

Kejutan dari Telkomsel Flash

Kejutan pagi ini dari Telkomsel Flash… saat hendak online barusan, ada pesan singkat (sms) masuk dari operator Telkomsel Flash. Isinya:

Pelanggan Yth. Sbg wujud apresiasi kami terhadap pelanggan TELKOMSELFlash, mulai tgl 1 Okt 09 s/d masa kontrak anda berakhir, Fair Use Paket TELKOMSELFlash Unlimited anda kembali ke kuota semula yaitu 2 GB. Terimakasih
Time: 08/10/2009 11:45:28

Wow, terima kasih Telkomsel Flash. Terlepas dari carut-marut yang ada, saya tetap berterima kasih kepada Anda! Semoga Anda menjadi pebisnis yang lebih baik untuk masa sekarang dan akan datang.

Tambahan [9 Okt 09]: Harap dicermati kata-kata “mulai tgl 1 Okt 09 s/d masa kontrak anda berakhir”. Apakah ini berarti setelah kontrak berakhir akan diturunkan kembali menjadi 500 MB?

3 comments
Sep 24

Surat Terbuka Untuk Para Pelanggan Telkomsel Flash

Kepada Yth. kawan-kawan para pelanggan Telkomsel Flash

Kawan,

Anda tentu sudah mendapatkan sms dari pihak telkomsel yang berbunyi (saya salin-tempel tanpa mengubah apapun, termasuk tanda bacanya)

Pelanggan yth,sekarang Anda dapat melakukan pengecekan penggunaan Paket Unlimited TELKOMSELFlash dengan SMS, ketik : UL<spasi>INFO,kirim ke 3636 (bebas biaya)Stlh kecepatan diturunkan&ingin mendpt kecepatan normal kembali,Anda dpt membeli paket 50rb(125MB)/100rb(300MB) via SMS.Info lengkap www.telkomsel.com/flash

Saya sendiri menerima sms tersebut pada Time: 17/09/2009 10:09:46.

Kawan,

Itulah jawaban kenapa sejak awal September tahun ini akses internet kita melambat. Bayangkan, fair usage sebesar 2G (paket Basic) diturunkan menjadi 500M. Secara persentase penurunan ini adalah ( Read more )

comment?
Aug 19

Akhiran -if dalam Bahasa Indonesia

Hari ini saya diminta mengisi acara “Program Pembinaan Kebersamaan Mahasiswa Baru” tingkat universitas. Yah, semacam “OS-KM“-lah, kalau di zaman saya dulu. Materi yang disodorkan kepada saya berjudul “Perilaku Prestatif di Perguruan Tinggi di Universitas Airlangga”.

Prestatif? Apa itu? Saya cek di KBBI, baik dalam jaringan (KBBI daring) maupun buku edisi ketiga yang saya punya, tidak saya temukan kata ini. Cek lewat google, saya temukan sebuah artikel yang  juga membahas hal yang sama: Produktif Kreatif Prestatif Solutif oleh Bung Ikram Putra. Dari beliau saya paham maksud kata prestatif: niatnya hendak membentuk kata sifat (berprestasi) dari kata benda (prestasi). Pembentukkan katanya mirip dengan “kreatif” dari kata kerja “kreasi”, atau “produktif” dari kata kerja “produksi”, dan “inovatif” dari kata kerja “inovasi”.

Permasalahannya “prestasi” bukan kata kerja, tapi kata benda. Jika kata “prestatif” diganti dengan “berprestasi”, sepertinya tidak mengubah maksud kalimat: Perilaku berprestasi, yaitu tabiat-tabiat yang cenderung membuat kita memiliki prestasi.

Berbahasa Indonesia sepertinya mudah-mudah susah. Mudah karena kita merasa menggunakannya sehari-hari, susah karena begitu masuk ranah serius bahasa Indonesia kita terlihat belepotan. Padahal, “bahasa menunjukkan budaya” kata orang Melayu. Baik bahasanya, baik pula budayanya. Dan, “tiada kata seindah bahasa” kata P. Ramlee.

comment?
Aug 19

Bahasa, oh Bahasa…

It’s been a while, yes,  a month ago I wrote my latest article in this blog. Banyak yang terjadi sehingga saya tidak sempat menulis. Saya jadi merenung, siklus ini terjadi secara berulang. Ada masa di mana saya dapat menulis banyak, tapi kemudian idle dalam waktu yang cukup lama. Mungkin memang idealnya “biarlah sedikit tapi rutin” daripada “rezeki ular, sekali dapat banyak kemudian puasa berpekan-pekan.”

Saya ingat, setelah menulis tentang Harry Pottter, saya sibuk dengan persiapan empat mahasiswa saya yang hendak maju sidang skripsi. Alhamdulillah semua lulus dengan nilai yang sangat baik, tapi yang lebih penting daripada itu mereka mengaku mendapat banyak pengalaman berharga selama bekerja dengan saya. Tentu saja banyak kekurangan sana-sini yang saya nilai wajar, karena dari awal memang kami tidak berniat untuk mencapai hasil yang sempurna melainkan proses yang sempurna.

Ada satu catatan kecil saya tentang mahasiswa saya ini. Saya temukan keempat mahasiswa bimbingan saya tersebut terkendala dalam penulisan laporan mereka. Karena saya mengikuti dari awal perkembangan pekerjaan mereka, saya dapat menilai bahwa mereka tidak mampu menuangkan seutuhnya apa yang mereka kerjakan ke dalam laporan. Ini tentu mengurangi bobot “narsis”, hehe, karena bagaimana pun laporan selain berperan sebagai karya tulis ilmiah juga sebagai alat promosi seberapa bagus kita bekerja.
( Read more )

4 comments
Jul 18

Review Film Harry Potter 6

Semalam saya dan istri nonton film Harry Potter and The Half-Blood Prince di bioskop dekat rumah. Yah, terpaksa nonton karena sudah terlanjur menonton lima seri sebelumnya. Hitung-hitung menjadi kelompok penonton yang “duluan” nonton Harry Potter mengingat di Indonesia baru dirilis di bioskop per tanggal 17 Juli. Hehehe…

Durasi filmya sekitar 2 jam  30 menitan, lama waktu yang pantas untuk tiket seharga Rp 20.000,00; tapi belum sebanding dengan Lord of  The Ring: The Return of the King yang sampai 3 jam lebih, wuih! Artikel berikut ini adalah opini dan review pribadi saya tentang film ini. ( Read more )

5 comments