Hadiah Nobel Fisika 2011: Observasi Aselerasi Ekspansi Alam Semesta

NobelPrize2011-Physics-1

Pekan ini memang pekan hadiah Nobel. Setelah bidang kesehatan, hari Selasa, 5 Oktober 2011, Kerajaan Swedia mengumumkan pemenang hadiah Nobel Fisika. The Royal Swedish Academy of Sciences, institut yang ditunjuk oleh Alfred Nobel sebagai juri dalam wasiatnya, memberikan setengah medali Nobel fisika untuk

  • Saul Perlmutter (The Supernova Cosmology Project, Lawrence Barkeley National Laboratory dan University of California, Barkeley, California, Amerika Serikat)

dan setengah lainnya dibagi untuk

  • Brian Schmidt (The High-z Supernova Search Team, Australian National University, Weston Creek, Australia) dan
  • Adam Riess (The High-z Supernova Search Team, Johns Hopkins University dan Space Telescope Science Institute, Baltimore, Maryland, Amerika Serikat),

untuk karya mereka membuktikan aselerasi ekspansi Alam Semesta dengan pengamatan supernova.

Ekspansi Alam Semesta berarti Alam Semesta kita ini mengalami pengembangan dalam dimensi jarak – dapat dibayangkan balon yang ukuran volumenya bertambah. Aselerasi ekspansi berarti kecepatan pengembangannya bertambah cepat dari waktu ke waktu (percepatan).  (Baca: Horizon si kaki langit).

Latar belakang

Bagi orang kosmologi, atau yang berkecimpung dalam relativitas umum, ini adalah cerita lama. Albert Einstein (saat itu masih di Swiss/Jerman) sudah memprediksi ini pada tahun 1917, bahwa Alam Semesta kita ini dinamis. Artinya, kondisi fisisnya1 mengalami perubahan dari waktu ke waktu, boleh bertambah besar atau berkurang. Einstein yang tidak ingin Alam Semesta dinamis, tiga tahun kemudian memperbaiki teorinya dengan memperkenalkan faktor ? (kapital Lambda) yang kemudian hari disebut konstanta kosmologi. Konstanta ini, lewat sebuah konsistensi matematis, memberikan sebuah konsekuensi: ekspansi alam semesta itu mengalami percepatan.

Continue reading “Hadiah Nobel Fisika 2011: Observasi Aselerasi Ekspansi Alam Semesta”

Takut

Menurut KBBI, takut adalah merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yg dianggap akan mendatangkan bencana. Takut juga memiliki asosiasi dengan takwa — tapi bukan takut jenis ini yang saya bahas.

“Kenapa kita merasa takut?”

Ada banyak sudut pandang yang dapat dipakai untuk menjawab pertanyaan tersebut. Salah satunya adalah kekhawatiran kalau-kalau sesuatu yang buruk terjadi hanya pada diri kita.

Jalan sendirian di malam yang sepi dan gelap, kita merasa takut. Kita khawatir jangan-jangan ada penjahat yang akan mencelakan kita.

Meloncati jurang membuat kita takut karena jika gagal sampai di seberang kita jatuh dan maut menunggu.

Continue reading “Takut”

Lintas Waktu dengan Aurora Borealis

Baru saja, Ira dan saya secara tidak sengaja menonton film Frequency di televisi kanal Transtv. Menarik, oleh karena itu saya menontonnya sampai habis — tidak lupa, di sela-sela iklan saya sempatkan mengintip sinopsisnya di internet… hehe, I sometimes love being a spoiler.

Cara sutradara menyampaikan cerita sangat menarik; beberapa kali adegan-adegan yang terkesan sepintas disorot dengan detil, seperti zoom-in kamera pada hal-hal kecil atau suara radio menyiarkan berita-berita anyar. Tentu kita segera curiga, lumrah dalam film hal-hal kecil yang disorot berarti informasi penting dalam plot cerita. Memang benar, tapi siapa yang menyangka kalau Aurora Borealis yang disorot di awal (baik visual maupun audio dari siaran berita radio) menjadi kunci dari cerita?

Aurora Borealis di langit Alaska, Amerika Serikat.
Aurora Borealis di langit Alaska, Amerika Serikat.

Aurora adalah fenomena cahaya warna-warni di malam hari yang dapat kita saksikan di langit utara atau selatan. Di langit utara dinamakan Aurora Borealis, untuk di langit selatan dinamakan Aurora Australis. Fenomena ini terjadi karena angin Matahari (solar wind) — kumpulan partikel-partikel bermuatan listrik, seperti elektron (muatan listrik negatif) dan proton (muatan listrik positif), yang berasal dari lapisan atmosfer Matahari — berinteraksi dengan medan magnet Bumi (geomagnetik). Continue reading “Lintas Waktu dengan Aurora Borealis”

Tunguska 1908: “The Truth is Out There”

Pada 30 Juni 1908, sekitar pukul 7 – 8 pagi, di langit hutan Tunguska (Siberia, Rusia) tiba-tiba terjadi ledakan dahsyat. Hutan Tunguska seluas 2000 kilometer persegi hangus terbakar, terjadi gelombang-kejut di atmosfir yang bergerak mengelilingi Bumi sebanyak dua kali, kilatan tersebut juga disaksikan oleh orang-orang di kota London yang terletak lebih dari 4.800 kilometer dari Tunguska. Dua hari kemudian debu-debu tipis bertebaran di atmosfir sehingga di Eropa orang bisa membaca koran malam hari tanpa lampu karena debu-debu tadi memantulkan cahaya Matahari dari bagian Asia. Berdasarkan hitungan teoretis, ledakan tersebut setara dengan 10 sampai 15 mega ton TNT, atau 1000 kali lebih kuat daripada bom atom yang meledak di kota Hiroshima (Jepang). Itulah kedahsyatan ledakan yang pernah terjadi dan tercatat dalam sejarah modern.

Tunguska dulu dan sekarang
Tunguska dulu (atas) dan tahun lalu (bawah).

Pada 30 Juni 1908, sekitar pukul 7 –  8 pagi, di langit hutan Tunguska (Siberia, Rusia) tiba-tiba terjadi ledakan dahsyat. Hutan Tunguska seluas 2000 kilometer persegi hangus terbakar, terjadi gelombang-kejut di atmosfir yang bergerak mengelilingi Bumi sebanyak dua kali, kilatan tersebut juga disaksikan oleh orang-orang di kota London yang terletak lebih dari 4.800  kilometer dari Tunguska. Dua hari kemudian debu-debu tipis bertebaran di atmosfir sehingga di Eropa orang bisa membaca koran malam hari tanpa  lampu karena debu-debu tadi memantulkan cahaya Matahari dari bagian Asia. Berdasarkan hitungan teoretis, ledakan tersebut setara dengan 10 sampai 15 mega ton TNT, atau 1000 kali lebih kuat daripada bom atom yang meledak di kota Hiroshima (Jepang). Itulah kedahsyatan ledakan yang pernah terjadi dan tercatat dalam sejarah modern. Continue reading “Tunguska 1908: “The Truth is Out There””