Apakah bulan masih di sana saat kita tidak melihatnya?

rusydi-course-2015-fit301-1-mind-mappingItulah pertanyaan Einstein kepada David Mermin yang kemudian dipublikasikan oleh Mermin di majalah Physics Today, April 1985, halaman 38–47.

Is the moon there when nobody looks?

Seperti pertanyaan mengada-ngada, tapi itulah ilustrasi paling tepat menggambarkan kondisi teori kuantum.

Teori kuantum dibangun berdasarkan hipotesis bahwa partikel memiliki identitas gelombang dan sebaliknya gelombang memiliki identitas partikel. Hipotesis ini bukannya tanpa argumen ilmiah, justru hanya dengan hipotesis ini sejumlah fenomena seperti radiasi benda hitam, efek fotolistrik, dan spektrum atom hidrogen dapat dijelaskan dengan utuh.

Tapi, dibalik kedahsyatannya, teori kuantum masih menyimpan banyak persoalan — terutama pada level filosofi. Teori kuantum tidak memberi kepastian, dia cuma menghitung kemungkinan.

Bahwa bulan itu mungkin ada di sana pada waktu t dan posisi x dengan tingkat kepastian sekian persen.

Continue reading “Apakah bulan masih di sana saat kita tidak melihatnya?”

Pengantar kuliah Fisika Kuantum 2015

 

rusydi-course-fit301-0-coverInilah mata kuliah pertama yang saya ajar setelah pulang dari Osaka.

Para kolega bercerita bahwa kondisi mahasiswa sekarang berbeda dengan lima tahun yang lalu, sebelum saya berangkat ke Osaka. Beda kuantitas, pun beda kualitas, kata mereka.

Mungkin observasi para kolega benar, tapi saya tetap asumsikan bahwa mereka manusia dewasa. Merekalah yang menentukan kuantitas dan kualitas mereka. Tugas saya hanya menabuh gendang, biarkan mereka yang memutuskan untuk menari atau tidak; biarkan pula mereka menentukan jenis tariannya.

Kepada para peserta kuliah, selamat datang di dunia kuantum. Dunia yang akal sehat kita tidak lagi dapat dipakai.

Slide presentasi saya hari ini dapat Anda unduh dari taut berikut ini.

Continue reading “Pengantar kuliah Fisika Kuantum 2015”

Penutup Seri Khutbah Jumat: Apa Itu Islam

Khutbah Jumat tanggal 27 Februari 2015, di masjid Osaka University, Jepang. Ini adalah khutbah terakhir saya yang terjadwal di masjid tercinta ini.

Prolog: Seri khutbah ini dimulai dengan pertanyaan kenapa kita memilih beragama Islam. Jawabannya terkait dengan konsep tauhid yang membuat Islam sebagai agama sempurna. Ada 12 ayat yang dibahas pada khutbah-khutbah berikutnya sebagai contoh bagaimana Allah mengajarkan tauhid kepada manusia dengan cara deduksi, cara yang menjadi dasar dari metode ilmiah. Jika kita asumsikan khutbah-khutbah tersebut telah meyakinkan kita tentang tauhid, maka sebagai penutup khutbah terakhir ini membahas tentang apa itu Islam.

rusydi-khutbah-jumat-20150227-Slide1

Inti sari: Kata Islam membawa lima arti secara simultan, yaitu

  1. penyerahan diri,
  2. ketundukan,
  3. kepatuhan,
  4. keikhlasan, dan
  5. kedamaian.

Ajaran Islam hanya dua, yaitu (1) menyembah Allah Yang Mahaesa dan (2) mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW. Mengakui kerasulan tidak hanya dengan kata-kata, tapi juga dengan aksi berupa mengikuti panduan yang beliau berikan. Panduan yang beliau berikan bersumber pada Al-quran. Dengan demikian, mempelajari Al-quran menjadi sebuah keniscayaan kita kaum muslim.

Continue reading “Penutup Seri Khutbah Jumat: Apa Itu Islam”

“Antaratom”, Bukan “Antar Atom”

Seorang mahasiswa saya baru saja bertanya kepada saya, “Pak, yang benar itu ‘antaratom’ atau ‘antar atom’?”

“‘Antaratom’,” jawab saya. “Kenapa?” tanya saya penasaran.

Ternyata draf laporan tugas akhirnya dikritisi oleh seorang penguji karena dianggap salah menulis kata “antaratom”. Menurut sang penguji, yang benar adalah “antar atom” (dipisah).

Dalam kata “antaratom”, “antar” di sini adalah berperilaku seperti prefiks (awalan), artinya tidak sama dengan “antar” sebagai kata.

Continue reading ““Antaratom”, Bukan “Antar Atom””

Root-Mean-Square (rms)

Seorang tweep meminta saya menulis konsep arus atau tegangan rms. Pertanyaan serupa juga pernah saya terima lewat email terkait tulisan “Arus bolak-balik, apa itu?”. Di samping itu, sudah lama saya tidak menulis blog, saya pikir baik juga memulai untuk saya menuliskan tentang rms.

Banyak cara memulai pembahasan tentang rms. Yang paling mudah mungkin dari bahasa. Root-mean-square artinya “dikuadratkan, lalu diambil rata-ratanya, kemudian diakarkuadratkan”. Jadi, kalau ada sebuah sekumpulan pengukuran {x_i} (dengan indeks i = 1, 2, \ldots , N menunjukkan nilai pengukuran ke-i), untuk mendapatkan nilai rms-nya:

  1. kuadratkan setiap nilai pengukuran: {x_1}^2, {x_2}^2, \ldots, {x_N}^2
  2. rata-ratakan, \frac{1}{N}\sum_i^N{(x_i)^2} = y
  3. dan akar kuadratkan, \sqrt{y} = x_\text{rms}

Langkah kedua menunjukkan bahwa sesungguhnya yang kita lakukan adalah mencari nilai rata-rata.

Pertanyaan penting sekarang adalah, “Kenapa mencari rata-rata harus pakai rms?”. Konsep rms berasal dari statistik, sebuah seni matematika untuk menganalisis angka-angka hasil pengukuran. Mari kita pelajari konsep ini dari contoh berikut.

Continue reading “Root-Mean-Square (rms)”