Khutbah Jumat

Untuk memenuhi permintaan sejumlah teman, saya unduh di sini teks ceramah saya. Teks-teks ceramah ini saya buat untuk dibaca keras (teks pidato), bukan seperti teks artikel. Sehingga, untuk menghayati teks ini, saya sangat anjurkan para pembaca untuk membaca teks ini seakan-akan sedang memberi pidato.

Institusi pendidikan tinggi di Jepang, meski tidak dinyatakan dengan tegas, secara prinsip menganut sistem sekular. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan kampus. Oleh sebab itu, mahasiswa muslim di Osaka University (OU) bersyukur karena kampus ini mengizinkan pelaksaan Salat Jumat di dalam kampus dan bahkan menggunakan fasiltias kampus.

Bahkan, di Kampus Suita (OU memiliki tiga kampus, yaitu di kota Toyonaka, di kota Suita, dan di kota Minoh), ada satu ruang berukuran k.l. 5×6 meter persegi yang diserahkan kepada organisasi mahasiswa muslim (OMA) untuk digunakan sebagai masjid.

Alhamdulillah.

Continue reading “Khutbah Jumat”

Bom Atom di Hiroshima

Semalam saya menulis kisah tentang kota Hiroshima, Jepang vs. USA di perang Asia-Pasifik, fisi energi, keterlibatan Einstein, dan kisah pedih korban ledakan bom atom di microblog twitter. Tulisan ini memang bukan catatan sejarah, tetapi catatan perjalanan saya dan Ira ke museum perdamaian di Hiroshima pada 1 Desember 2013 yang lalu. Oleh sebab itu saya tidak mengklaim kalau tulisan saya tidak bebas nilai; sadar atau tidak terdapat sejumlah opini pribadi dalam tulisan ini. Tanpa bermaksud memelintir fakta, saya menyadari kemungkinan adanya kekeliruan fakta dalam tulisan ini.

Semalam saya menulis kisah tentang kota Hiroshima, Jepang vs. USA di perang Asia-Pasifik, fisi energi, keterlibatan Einstein, dan kisah pedih korban ledakan bom atom di microblog twitter. Tulisan ini memang bukan catatan sejarah, tetapi catatan perjalanan saya dan Ira ke museum perdamaian di Hiroshima pada 1 Desember 2013 yang lalu. Oleh sebab itu saya tidak mengklaim kalau tulisan saya tidak bebas nilai; sadar atau tidak terdapat sejumlah opini pribadi dalam tulisan ini. Tanpa bermaksud memelintir fakta, saya menyadari kemungkinan adanya kekeliruan fakta dalam tulisan ini.

hiroshima-1before
Hiroshima: sesaat sebelum bom atom meledak.
hiroshima-2after
Hiroshima: sesaat setelah bom atom meledak.

Continue reading “Bom Atom di Hiroshima”

“Antaratom”, Bukan “Antar Atom”

Seorang mahasiswa saya baru saja bertanya kepada saya, “Pak, yang benar itu ‘antaratom’ atau ‘antar atom’?”

“‘Antaratom’,” jawab saya. “Kenapa?” tanya saya penasaran.

Ternyata draf laporan tugas akhirnya dikritisi oleh seorang penguji karena dianggap salah menulis kata “antaratom”. Menurut sang penguji, yang benar adalah “antar atom” (dipisah).

Dalam kata “antaratom”, “antar” di sini adalah berperilaku seperti prefiks (awalan), artinya tidak sama dengan “antar” sebagai kata.

Continue reading ““Antaratom”, Bukan “Antar Atom””

Press any key to continue…

Meskipun sedang repot menyelesaikan paper riset saya, saya tidak tahan untuk tidak menulis cerita ini.

Google sepertinya memang punya segala jawaban, meskipun cara kita bertanya ngawur sekalipun. Baru saja, saat sedang berusaha trouble-shooting untuk sebuah masalah, saya diantarkan google ke situs help!.

Ada yang bertanya,

“Saya tidak dapat menggerakkan objek dengan tut panah (pada papan ketik) di Visio 2003. Tut panah ini hanya menggerakan halaman ke atas dan ke bawah, tapi tidak dapat menggerakan objek. Bagaimana cara memperbaiki masalah ini? Terima kasih.”

Lalu dijawab oleh seseorang yang sepertinya berasal dari perusahaan Microsoft,

“Coba matikan Scroll Lock.”

Si penanya mungkin telah berhasil menyelesaikan masalahnya dari jawaban tersebut. Tapi, seorang pembaca yang lain bertanya,

“Di bagian Menu Bar mana letak Scroll Lock itu?”

Continue reading “Press any key to continue…”

Pahlawan

Pahlawan, secara literal, berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran (KBBI daring). Kebenaran mungkin bisa didebat sebagai sesuatu yang relatif, benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain. Ini membuat seseorang bisa menjadi pahlawan bagi satu golongan dan menjadi penjahat bagi golongan yang lain. Banyak sekali contohnya, sebut saja Usama Bin Ladin.

Kebenaran itu bisa distandardisasikan, misalkan dengan merujuk pada agama. Ini pun tidak akan lepas dari perdebatan, mau pakai agama yang mana? Sebagai seorang muslim, saya percaya kebenaran yang diajarkan Islam-lah yang betul. Tapi, Islam juga mengajarkan muslim untuk tidak pernah memaksakan kebenaran kepada orang lain. Menyampaikan iya, namanya dakwah, tapi tidak memaksakan. Misalnya, saya paham bahwa standardisasi kebenaran adalah nilai-nilai mulia yang diilhamkan Allah kepada jiwa setiap kita. Setelah bersumpah atas matahari dan bulan, siang dan malam, langit dan bumi, dan jiwa, Allah secara terus-menerus membisikkan nilai-nilai fasik dan takwa kepada jiwa manusia (Asy Syams 1-8). Jadi, nurani kita, tanpa tahu ajaran agama apapun, dapat mengetahui kemuliaan sebuah perbuatan. Contoh: “Meludahi ibu kandung” adalah perbuatan yang tidak mulia tanpa perlu perdebatan apun.

Jadi, seseorang menjadi pahlawan karena keberaniannya melakukan perbuatan-perbuatan yang mulia. Perbuatan itu tentu butuh perjuangan dan perjuangan adalah pengorbanan. Tidaklah berjuang kalau kita tidak mengorbankan sesuatu. Sekolah saja misalnya, seorang siswa yang belajar adalah sebuah perjuangan. Dia memilih untuk belajar, mengorbankan tidurnya, mengorbankan waktu mainnya, mengorbankan hal-hal lain yang dia suka demi belajar.

Tentu saja tidak semua pejuang adalah pahlawan. Karena pembedanya adalah motif perjuangannya, apakah mulia atau tidak.

Dalam konteks sosial masyarakat modern sekarang, standardisasi kebenaran yang diperjuangkan seorang pahlawan telah berubah. Kemuliaan dirasa terlalu abstrak untuk dijadikan standardisasi kebenaran, sehingga dicari sesuatu yang mudah dilihat dan dicerna, yaitu popularitas. Masyarakat cendrung untuk mem-pahlawan-kan orang yang populer, ini telah terjadi semenjak zaman Nabi Nuh dan akan terus terjadi sampai akhir dunia nanti. Sehingga popular menjadi jalan dengan garansi tertinggi bagi siapapun yang ingin menjadi pahlawan. Jadi, ini memang sudah menjadi fitrah bagi kita sebagai makhluk sosial.

Kenapa ingin jadi pahlawan?

Continue reading “Pahlawan”