“Antaratom”, Bukan “Antar Atom”

Seorang mahasiswa saya baru saja bertanya kepada saya, “Pak, yang benar itu ‘antaratom’ atau ‘antar atom’?”

“‘Antaratom’,” jawab saya. “Kenapa?” tanya saya penasaran.

Ternyata draf laporan tugas akhirnya dikritisi oleh seorang penguji karena dianggap salah menulis kata “antaratom”. Menurut sang penguji, yang benar adalah “antar atom” (dipisah).

Dalam kata “antaratom”, “antar” di sini adalah berperilaku seperti prefiks (awalan), artinya tidak sama dengan “antar” sebagai kata.

Continue reading ““Antaratom”, Bukan “Antar Atom””

Press any key to continue…

Meskipun sedang repot menyelesaikan paper riset saya, saya tidak tahan untuk tidak menulis cerita ini.

Google sepertinya memang punya segala jawaban, meskipun cara kita bertanya ngawur sekalipun. Baru saja, saat sedang berusaha trouble-shooting untuk sebuah masalah, saya diantarkan google ke situs help!.

Ada yang bertanya,

“Saya tidak dapat menggerakkan objek dengan tut panah (pada papan ketik) di Visio 2003. Tut panah ini hanya menggerakan halaman ke atas dan ke bawah, tapi tidak dapat menggerakan objek. Bagaimana cara memperbaiki masalah ini? Terima kasih.”

Lalu dijawab oleh seseorang yang sepertinya berasal dari perusahaan Microsoft,

“Coba matikan Scroll Lock.”

Si penanya mungkin telah berhasil menyelesaikan masalahnya dari jawaban tersebut. Tapi, seorang pembaca yang lain bertanya,

“Di bagian Menu Bar mana letak Scroll Lock itu?”

Continue reading “Press any key to continue…”

Pahlawan

Pahlawan, secara literal, berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran (KBBI daring). Kebenaran mungkin bisa didebat sebagai sesuatu yang relatif, benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain. Ini membuat seseorang bisa menjadi pahlawan bagi satu golongan dan menjadi penjahat bagi golongan yang lain. Banyak sekali contohnya, sebut saja Usama Bin Ladin.

Kebenaran itu bisa distandardisasikan, misalkan dengan merujuk pada agama. Ini pun tidak akan lepas dari perdebatan, mau pakai agama yang mana? Sebagai seorang muslim, saya percaya kebenaran yang diajarkan Islam-lah yang betul. Tapi, Islam juga mengajarkan muslim untuk tidak pernah memaksakan kebenaran kepada orang lain. Menyampaikan iya, namanya dakwah, tapi tidak memaksakan. Misalnya, saya paham bahwa standardisasi kebenaran adalah nilai-nilai mulia yang diilhamkan Allah kepada jiwa setiap kita. Setelah bersumpah atas matahari dan bulan, siang dan malam, langit dan bumi, dan jiwa, Allah secara terus-menerus membisikkan nilai-nilai fasik dan takwa kepada jiwa manusia (Asy Syams 1-8). Jadi, nurani kita, tanpa tahu ajaran agama apapun, dapat mengetahui kemuliaan sebuah perbuatan. Contoh: “Meludahi ibu kandung” adalah perbuatan yang tidak mulia tanpa perlu perdebatan apun.

Jadi, seseorang menjadi pahlawan karena keberaniannya melakukan perbuatan-perbuatan yang mulia. Perbuatan itu tentu butuh perjuangan dan perjuangan adalah pengorbanan. Tidaklah berjuang kalau kita tidak mengorbankan sesuatu. Sekolah saja misalnya, seorang siswa yang belajar adalah sebuah perjuangan. Dia memilih untuk belajar, mengorbankan tidurnya, mengorbankan waktu mainnya, mengorbankan hal-hal lain yang dia suka demi belajar.

Tentu saja tidak semua pejuang adalah pahlawan. Karena pembedanya adalah motif perjuangannya, apakah mulia atau tidak.

Dalam konteks sosial masyarakat modern sekarang, standardisasi kebenaran yang diperjuangkan seorang pahlawan telah berubah. Kemuliaan dirasa terlalu abstrak untuk dijadikan standardisasi kebenaran, sehingga dicari sesuatu yang mudah dilihat dan dicerna, yaitu popularitas. Masyarakat cendrung untuk mem-pahlawan-kan orang yang populer, ini telah terjadi semenjak zaman Nabi Nuh dan akan terus terjadi sampai akhir dunia nanti. Sehingga popular menjadi jalan dengan garansi tertinggi bagi siapapun yang ingin menjadi pahlawan. Jadi, ini memang sudah menjadi fitrah bagi kita sebagai makhluk sosial.

Kenapa ingin jadi pahlawan?

Continue reading “Pahlawan”

Man-to-man Report

Semenjak awal April 2011 ini, tepatnya hari Sabtu tanggal 2 April, rutinitas “man-to-man report” dihidupkan kembali oleh Kasai-sensei. Dengar-dengar sih, rutinitas ini dulu menjadi momok (dalam artian positif DAN negatif) sehingga menjadi legenda. Dapat ditebak bagaimana perasaan di kalangan mahasiswa, yang oleh Kemal dapat diwakilkan dengan PhD Comics seri “meeting with advisor”. (Klik gambar untuk membuka situs PhD Comics, ada 5 strip kartun dalam seri ini.)

Hari Sabtu kemarin, saya berencana untuk minta izin untuk menunda memberikan laporan.Kenapa? Karena saya ingin menikmati minum kopi di Mister Donat bersama seorang sahabat sambil main iPad 2 yang baru saya beli, hehehe.

Saya datang pukul 7am, seperti biasa, sembari menunggu saya membaca-baca berita. Pukul 9am Kasai-sensei datang dan segera saya hampiri.

Saya: Ohayo gozaimasu, how are you, Sensei?

Sensei: Ohayo gozaimasu, good, how are you? Please come in.

Saya: I am good, thanks for asking. Anyway, I know today is man-to-man report. But do you mind if I make it on Tuesday? I almost don’t have anything to report today since I just enjoyed my Golden Week holidays.

Continue reading “Man-to-man Report”

Bagaimana mengecilkan masalah

Pagi ini Kasai-sensei datang ke meja saya, terkait dengan sejumlah rencana saya dan undangan seorang teman untuk berkontribusi dalam risetnya.

“We are doing something specific, we only know a small world. Then people come and bring another world. You must consider that, because it can make your world bigger and make your problem smaller.”

Begitulah salah satu cara membuat masalah kita menjadi kecil. 🙂

Arigato gozaimashita!