Tag: perjalanan

Dec 29

Gundah-gulana

Gundah-gulana dibangun oleh dua kata yang sama-sama menjelaskan keadaan batin, yang pertama adalah kegelisahan dan yang terakhir adalah kelayuan. Setiap kali mendengar frase ini, yang pertama kali teringat oleh saya adalah saja Chairil Anwar “Senja di Pelabuhan Kecil” yang ada di buku Bahasa Indonesia sekolah dasar.

Ini kali tiada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mepercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung murang, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap berharap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Memang ini adalah sajak cinta Chairil untuk Sri Ajati, bukan sajak menunggu kematian karya Chairil Anwar yang lain “Derai-derai cemara”. Tapi, suasana yang digambarkan dan kata-kata yang dipilih oleh Chairil Anwar pada . Semasa kecil, saya tinggal dekat dari pantai. Susana menjelang senja, perubahan dari terang menjadi gelap. Sering saya amati matahari tenggelam di senja hari, warna merah di ufuk barat seperti darah lalu terang pelan-pelan ditelan gelap. Ada saat sunyi datang, bunyi ombak pecah terdengar sayup-sayup sebelum akhirnya dipecahkan oleh azan Maghrib. Ini semua memberi kesan yang mencekam nagi saya, Ada perasaan berkecamuk di dalam dada, seperti ketakukan pada neraka. Perasaan gundah-gulana.

( Read more )

2 comments
Dec 11

Sepuluh tahun yang lalu…

Sepuluh tahun yang lalu, di bulan Desember 2001, saya mengunjungi Fair Gunawan yang di tempatkan di Daytona, Florida. Saya berangkat dari Washington DC, bandara terdekat dari tempat tinggal saya, Columbia, Maryland. Transit di Atlanta, Georgia. Di Bandara Daytona itulahertemuan saya dengan Fair pertama kali.

Fair seorang insinyur dengan kepribadian yang kuat, keras tapi tidak kasar. Dari cara bicara, kucing pun tahu dia seorang yang pintar, namun jauh dari sombong. Fair lebih memilin dia ketimbang haurs menyakiti lawan bicaranya. Namun kesetiaannya pada idealismenya tak perlu diragukan. Mungkin dia ini tipe Soe Hoe Gie era 2000.

Kunjungan saya ke Daytona hanya untuk liburan. Tujuan utama apa lagi kalau bukan Universal Studios dan Disney Land si Orlando yang tersohor itu. Kami menghabiskan waktu 5 hari bolak-balik Daytona-Orlando, sehari di Universal Studios, tiga hari di Disney Land, dan sehari di pertokoan factory outlet.

( Read more )

4 comments
Jul 23

Selalu ada yang unik dalam setiap perjalanan

Bagi saya yang paling menarik dalam sebuah perjalanan jauh adalah fase awal. Klimaksnya mulai dari mengepak barang hingga sampai ke tempat tujuan. Setelah itu biasanya saya dihantui pikiran “waduh, sebentar lagi harus kembali nich.” Tidak jarang perasaan itu merusak liburan saya (jika itu adalah perjalanan liburan).

Setiap perjalanan jauh memiliki keunikannya sendiri. Kali ini saya berharap keunikan itu diberikan oleh iPad 2 saya. iPad ini telah memberikan saya banyak kemudahan baik dalam urusan pekerjaan ataupun hobi. Jadi harapan saya tersebut adalah sesuatu yang wajar. Apalagi kamera dan laptop saya rusak, dua item yang fungsinya dapat dilakukan oleh iPad untuk batas-batas tertentu. Untuk itu, saya beli kredit softbank sebanyak 100 Mb.

( Read more )

comment?
Aug 05

Rekreasi Grup Fisika Teoretik UA

100804_Malang_4

Atas (ki-ka): Ginanjar, Satriyahi, Nisa, Fatima, Nike, Rizky. Bawah (ki-ka): Fadol, Wahyu, Bian, saya, Isna, Qodnu, Masyru.

Setiap semester grup kami, PHOTON UA, mengadakan acara rekreasi ke luar kota – karena rekreasi di dalam kota dilakukan tiap hari haha. Satu kali diadakan selepas anak-anak sidang proposal, dan satu kali diadakan selepas anak-anak sidang tugas akhir.

Kali ini tujuannya adalah Jatim Park 1 dan BNS di kota Batu. Pesertanya adalah tiga orang mahasiswa angkatan 2006, lima orang angkatan 2007, dan tiga orang angkatan 2008.

Seru? sudah pasti… silakan nikmati sejumlah dokumentasi foto di akun facebook saya.

5 comments
Jun 06

Nenek Umi, we never stop loving and admiring you

nenek_umi

Hj. Ariah Sanin, taken from Wayan Lessy’s facebook album (click picture to enlarge).

Our family just lost our beloved grandma, Ariah Sanin. We call her, Nenek Umi (from ummi in Arabic, or ibu in bahasa Indonesia). She died on Wednesday, 2nd June 2010, at 3.55am. It was a peril to us, Ariah Sanin’s great family. I don’t remember exactly her birthday, but I know she was around 90.

It is a tradition in Minangkabau that a mother in her old days lives in her daughter’s place. Nenek Umi had two daughters, my mother in Padang, and Aunt At, my mother’s little sister, who lives in Dumai (Riau). There are three other children of our grandma, Mak Dang (great uncle, the older), Mak Uniang (middle uncle, the fourth), and Mak Uncu ( little uncle, the youngest). My mother is the second. And, we, Rusydi’s family, are lucky since Nenek Umi stayed in our place longer than others.

The long interaction with Nenek Umi had made her so important in our life. She was our guardian, our teacher, our friend, and lately she became our role model. It was she who taught us reading Al Quran (with tajwid) for the first time. She encouraged us, sometime by force, to attend to surau (a traditional muslim school for learning Islam in Minangkabau). She challenged us to memorize Al Quran, often by promising some gifts. She liked to cook and her cook, in our subjective tongues, was the best in the Universe. When she was in the kitchen, she was like a magician, can turn every single thing into a delicious meal. No one who eat her cooks can argue more than that! Apparently her cook’s skill descends to my mother, and hopefully to me :-)

I heard she joined Indonesian’s army in her youth, made her as veteran and all rights for her special citizen (including pension). She told me once that she was around 10 or 11 when Soempah Pemoeda event. If this memory was correct, she should be born around 1917, or she died at around 93 years old. She witnessed colonist (Nederlander and Japanese) murdered local heroes, jet fighter flied above her land, involved at several combats, and also served meal for local combatant.

After independence day, she was back to her original nature: a farmer. Her parents were farmers, her grandparents were farmers, her great-great-great-great-grandfather (I don’t remember how many “greats” I should use) was one of the founder of the village called Sumanik, some where in Batu Sangkar town, in West Sumatera. It made her had some quite large and wide fields to farm. Every time we go to Sumanik, we love to walk on her sawah, swim and fish in her ponds, play around in her inherited great house with nine room and a rankiang in front (rumah gadang nan sambilan ruang dan rankiang di depannya).

( Read more )

7 comments
Oct 24

Padang: Pilu, Malu, dan Harapan

Saya baru saja kembali dari Padang. Ya, dalam rangka menjenguk orang tua dan keluarga yang baru saja mengalami gempa 7,9 SR. Misi utama tentu saja untuk membantu orang tua, tapi saya sempatkan juga berjalan-jalan dan berbincang-bincang dengan beberapa warga.

Tidak ada cerita yang saya ulas, karena sepertinya sudah banyak ulasan cerita bencana yang sudah beredar. Tidak ada pemandangan yang saya foto, karena sepertinya sudah banyak foto-foto bencana yang sudah beredar. Tidak ada juga video yang saya rekam, karena sudah banyak rekaman video bencana yang sudah beredar.

Yang ada hanya pilu, malu, dan harapan.

Pilu, kepada keluarga yang tertimpa bencana. Rumah hancur salah siapa? Salah sendiri yang tak patuhi aturan pembangunan atau salah pemerintah yang tak menegakkan peraturan? Berat mana penderitaan orang yang tewas atau yang hidup?

Malu, kepada diri sendiri. Orang dari luar datang menolong, orang yang ditolong suka lupa diri.

Harapan, harapan apa dan kepada siapa?

comment?
Jun 16

Jurnal Diklat Prajabatan di LPMP Jawa Timur

Bagi para PNS pasti pernah mengikuti diklat prajabatan — sering disingkat sebagai prajab atau LPJ. Itulah yang kami lakukan dua pekan terakhir hidup kami di LPMP Jawa Timur. Diklat tersebut kami ikuti sejak 2 Juni sampai 15 Juni kemarin dan merupakan gelombang kedua tahun ini. Gelombang pertama telah selesai sepekan sebelumnya.

Awalnya saya berniat untuk menulis dalam format diari selama diklat berlangsung. Karena jadwal diklat yang ketat dan miskinnya jadwal istirahat, saya hanya sanggup menulis diari pada 2 hari pertama. Karena itu tulisan saya ubah menjadi jurnal berita seperti yang Anda baca sekarang. Motivasi tulisan ini, selain memang menjaga semangat menulis saya, juga untuk berbagi informasi kepada siapa saja yang membutuhkan. Seperti biasa,tentu saja opini dalam tulisan ini adalah dari saya pribadi, narrow-opinion,  tidak mewakili sebagian atau sekelompok apa lagi seluruh peserta atau panitia diklat. ( Read more )

10 comments
Apr 21

Bali itu Bukan Denpasar Saja

Saya dan Lukman di ruang kerja Lukman

Saya dan Lukman di ruang kerja Lukman.

Inilah pengalaman terkini dari perjalanan hidupku yang sudah 30 tahun lebih sedikit ini. Adalah niat untuk bertemu sahabat lama, Lukman Nulhakim, membawaku ke Pulau Bali. Berdasarkan informasi seorang yang terpecaya, butuh sekitar 10 jam dari Surabaya sampai ke Bali. Jadi berangkat selepas Maghrib, maka kira-kira sampai sekitar subuh. Saya ajak sang informan tadi, yang tak lain adalah mantan mahasiswa saya yang baru saja diwisuda Sabtu 18 April yang lalu, untuk ke Bali bersama saya. Namanya Taufik Akbar, mantan finalis cak-ning 2007.

Kami beli tiket bis malam Gunung Harta yang berangkat Minggu malam (19 April). Lukman menawarkan diri untuk menjemput saya di pelabuhan penyebarangan. Wow, tentu saja ini menarik. Saya katakan ke Lukman, kemungkinan saya akan menyebarang sekitar pukul 5 pagi hari — tentu saja angka ini muncul sesuai dengan bisikan sang informan.

( Read more )

9 comments