Ke Universitas Jember lagi

Continue reading “Ke Universitas Jember lagi”

Oleh-oleh dari Jember

Bersama Kaprodi Pendidikan Fisika Unej, Bambang Supriadi, M.Sc. Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya representatif Prof. Andrivo juga hadir di sana, yaitu berbentuk baju semangka yang saya pakai saat itu haha.

Mahasiswa Pendidikan Fisika Universitas Jember mengagumkan. Tidak hanya pandai mereka secara konsisten membuat seminar nasional yang mendatangkan nara sumber andal, antusias mereka untuk terlibat dalam diskusi juga tinggi. Tidak hanya itu, himpunan mahasiswa fisika mereka terlihat sangat akrab, cair, dengan para dosen mereka. Ini yang saya saksikan saat menjadi salah satu nara sumber pada acara mereka hari Ahad, 4 Muharam kemarin.

Continue reading “Oleh-oleh dari Jember”

Kami Mohon Maaf dan Doa

Bom Atom di Hiroshima

Semalam saya menulis kisah tentang kota Hiroshima, Jepang vs. USA di perang Asia-Pasifik, fisi energi, keterlibatan Einstein, dan kisah pedih korban ledakan bom atom di microblog twitter. Tulisan ini memang bukan catatan sejarah, tetapi catatan perjalanan saya dan Ira ke museum perdamaian di Hiroshima pada 1 Desember 2013 yang lalu. Oleh sebab itu saya tidak mengklaim kalau tulisan saya tidak bebas nilai; sadar atau tidak terdapat sejumlah opini pribadi dalam tulisan ini. Tanpa bermaksud memelintir fakta, saya menyadari kemungkinan adanya kekeliruan fakta dalam tulisan ini.

Semalam saya menulis kisah tentang kota Hiroshima, Jepang vs. USA di perang Asia-Pasifik, fisi energi, keterlibatan Einstein, dan kisah pedih korban ledakan bom atom di microblog twitter. Tulisan ini memang bukan catatan sejarah, tetapi catatan perjalanan saya dan Ira ke museum perdamaian di Hiroshima pada 1 Desember 2013 yang lalu. Oleh sebab itu saya tidak mengklaim kalau tulisan saya tidak bebas nilai; sadar atau tidak terdapat sejumlah opini pribadi dalam tulisan ini. Tanpa bermaksud memelintir fakta, saya menyadari kemungkinan adanya kekeliruan fakta dalam tulisan ini.

hiroshima-1before
Hiroshima: sesaat sebelum bom atom meledak.
hiroshima-2after
Hiroshima: sesaat setelah bom atom meledak.

Continue reading “Bom Atom di Hiroshima”

Gundah-gulana

Gundah-gulana dibangun oleh dua kata yang sama-sama menjelaskan keadaan batin, yang pertama adalah kegelisahan dan yang terakhir adalah kelayuan. Setiap kali mendengar frase ini, yang pertama kali teringat oleh saya adalah saja Chairil Anwar “Senja di Pelabuhan Kecil” yang ada di buku Bahasa Indonesia sekolah dasar.

Ini kali tiada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mepercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung murang, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap berharap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

 

Memang ini adalah sajak cinta Chairil untuk Sri Ajati, bukan sajak menunggu kematian karya Chairil Anwar yang lain “Derai-derai cemara”. Tapi, suasana yang digambarkan dan kata-kata yang dipilih oleh Chairil Anwar pada . Semasa kecil, saya tinggal dekat dari pantai. Susana menjelang senja, perubahan dari terang menjadi gelap. Sering saya amati matahari tenggelam di senja hari, warna merah di ufuk barat seperti darah lalu terang pelan-pelan ditelan gelap. Ada saat sunyi datang, bunyi ombak pecah terdengar sayup-sayup sebelum akhirnya dipecahkan oleh azan Maghrib. Ini semua memberi kesan yang mencekam nagi saya, Ada perasaan berkecamuk di dalam dada, seperti ketakukan pada neraka. Perasaan gundah-gulana.

Continue reading “Gundah-gulana”