Selalu Ada yang Unik dalam Setiap Perjalanan

Bagi saya yang paling menarik dalam sebuah perjalanan jauh adalah fase awal. Klimaksnya mulai dari mengepak barang hingga sampai ke tempat tujuan. Setelah itu biasanya saya dihantui pikiran “waduh, sebentar lagi harus kembali nich.” Tidak jarang perasaan itu merusak liburan saya (jika itu adalah perjalanan liburan).

Setiap perjalanan jauh memiliki keunikannya sendiri. Kali ini saya berharap keunikan itu diberikan oleh iPad 2 saya. iPad ini telah memberikan saya banyak kemudahan baik dalam urusan pekerjaan ataupun hobi. Jadi harapan saya tersebut adalah sesuatu yang wajar. Apalagi kamera dan laptop saya rusak, dua item yang fungsinya dapat dilakukan oleh iPad untuk batas-batas tertentu. Untuk itu, saya beli kredit softbank sebanyak 100 Mb.

Continue reading “Selalu Ada yang Unik dalam Setiap Perjalanan”

Rekreasi Grup Fisika Teoretik UA

100804_Malang_4
Atas (ki-ka): Ginanjar, Satriyahi, Nisa, Fatima, Nike, Rizky. Bawah (ki-ka): Fadol, Wahyu, Bian, saya, Isna, Qodnu, Masyru.

Setiap semester grup kami, PHOTON UA, mengadakan acara rekreasi ke luar kota – karena rekreasi di dalam kota dilakukan tiap hari haha. Satu kali diadakan selepas anak-anak sidang proposal, dan satu kali diadakan selepas anak-anak sidang tugas akhir.

Kali ini tujuannya adalah Jatim Park 1 dan BNS di kota Batu. Pesertanya adalah tiga orang mahasiswa angkatan 2006, lima orang angkatan 2007, dan tiga orang angkatan 2008.

Seru? sudah pasti… silakan nikmati sejumlah dokumentasi foto di akun facebook saya.

Nenek Umi, we never stop loving and admiring you

nenek_umi
Hj. Ariah Sanin, taken from Wayan Lessy’s facebook album (click picture to enlarge).

Our family just lost our beloved grandma, Ariah Sanin. We call her, Nenek Umi (from ummi in Arabic, or ibu in bahasa Indonesia). She died on Wednesday, 2nd June 2010, at 3.55am. It was a peril to us, Ariah Sanin’s great family. I don’t remember exactly her birthday, but I know she was around 90.

It is a tradition in Minangkabau that a mother in her old days lives in her daughter’s place. Nenek Umi had two daughters, my mother in Padang, and Aunt At, my mother’s little sister, who lives in Dumai (Riau). There are three other children of our grandma, Mak Dang (great uncle, the older), Mak Uniang (middle uncle, the fourth), and Mak Uncu ( little uncle, the youngest). My mother is the second. And, we, Rusydi’s family, are lucky since Nenek Umi stayed in our place longer than others.

The long interaction with Nenek Umi had made her so important in our life. She was our guardian, our teacher, our friend, and lately she became our role model. It was she who taught us reading Al Quran (with tajwid) for the first time. She encouraged us, sometime by force, to attend to surau (a traditional muslim school for learning Islam in Minangkabau). She challenged us to memorize Al Quran, often by promising some gifts. She liked to cook and her cook, in our subjective tongues, was the best in the Universe. When she was in the kitchen, she was like a magician, can turn every single thing into a delicious meal. No one who eat her cooks can argue more than that! Apparently her cook’s skill descends to my mother, and hopefully to me 🙂

I heard she joined Indonesian’s army in her youth, made her as veteran and all rights for her special citizen (including pension). She told me once that she was around 10 or 11 when Soempah Pemoeda event. If this memory was correct, she should be born around 1917, or she died at around 93 years old. She witnessed colonist (Nederlander and Japanese) murdered local heroes, jet fighter flied above her land, involved at several combats, and also served meal for local combatant.

After independence day, she was back to her original nature: a farmer. Her parents were farmers, her grandparents were farmers, her great-great-great-great-grandfather (I don’t remember how many “greats” I should use) was one of the founder of the village called Sumanik, some where in Batu Sangkar town, in West Sumatera. It made her had some quite large and wide fields to farm. Every time we go to Sumanik, we love to walk on her sawah, swim and fish in her ponds, play around in her inherited great house with nine room and a rankiang in front (rumah gadang nan sambilan ruang dan rankiang di depannya).

Continue reading “Nenek Umi, we never stop loving and admiring you”

Padang: Pilu, Malu, dan Harapan

Saya baru saja kembali dari Padang. Ya, dalam rangka menjenguk orang tua dan keluarga yang baru saja mengalami gempa 7,9 SR. Misi utama tentu saja untuk membantu orang tua, tapi saya sempatkan juga berjalan-jalan dan berbincang-bincang dengan beberapa warga.

Tidak ada cerita yang saya ulas, karena sepertinya sudah banyak ulasan cerita bencana yang sudah beredar. Tidak ada pemandangan yang saya foto, karena sepertinya sudah banyak foto-foto bencana yang sudah beredar. Tidak ada juga video yang saya rekam, karena sudah banyak rekaman video bencana yang sudah beredar.

Yang ada hanya pilu, malu, dan harapan.

Pilu, kepada keluarga yang tertimpa bencana. Rumah hancur salah siapa? Salah sendiri yang tak patuhi aturan pembangunan atau salah pemerintah yang tak menegakkan peraturan? Berat mana penderitaan orang yang tewas atau yang hidup?

Malu, kepada diri sendiri. Orang dari luar datang menolong, orang yang ditolong suka lupa diri.

Harapan, harapan apa dan kepada siapa?

Jurnal Diklat Prajabatan di LPMP Jawa Timur

Bagi para PNS pasti pernah mengikuti diklat prajabatan — sering disingkat sebagai prajab atau LPJ. Itulah yang kami lakukan dua pekan terakhir hidup kami di LPMP Jawa Timur. Diklat tersebut kami ikuti sejak 2 Juni sampai 15 Juni kemarin dan merupakan gelombang kedua tahun ini. Gelombang pertama telah selesai sepekan sebelumnya.

Awalnya saya berniat untuk menulis dalam format diari selama diklat berlangsung. Karena jadwal diklat yang ketat dan miskinnya jadwal istirahat, saya hanya sanggup menulis diari pada 2 hari pertama. Karena itu tulisan saya ubah menjadi jurnal berita seperti yang Anda baca sekarang. Motivasi tulisan ini, selain memang menjaga semangat menulis saya, juga untuk berbagi informasi kepada siapa saja yang membutuhkan. Seperti biasa,tentu saja opini dalam tulisan ini adalah dari saya pribadi, narrow-opinion,  tidak mewakili sebagian atau sekelompok apa lagi seluruh peserta atau panitia diklat. Continue reading “Jurnal Diklat Prajabatan di LPMP Jawa Timur”