Soempah Pemoeda Ketjoa

“sebuah catatan renungan untuk diri sendiri”

Soempah Pemoeda,

Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe,
tanah Indonesia;

Kedoe:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe,
bangsa Indonesia.

Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean,
Bahasa Indonesia.

Itulah sumpah setia yang diikrarkan para pemuda-pemudi Indonesia pada 28 Oktober 1928 itu yang sekarang tentu sudah menjadi kakek-nenek kita. Nenek saya, dari pihak ibu, pernah menceritakan hingar-bingar di tahun itu. Beliau berusia kurang dari 10 tahun saat itu (kelahiran 1920-an). Jadi ini cerita dari seorang anak kecil di zamannya kepada anak kecil di zaman 1980-an (saya!). Kesimpulan cerita: Heroik! Apalagi cocok dengan apa yang saya dapatkan di bangku sekolah.

Sumpah setia itu ditilik dari ikrar yang tertulis tidak dapat dipungkiri lagi kedahsyatannya. Pengakuan persamaan tanah ibu pertiwi dan bangsa serta penghormatan pada bahasa persatuan. Apa lagi sich yang kita butuhkan untuk meciptakan masyarakat madani selain persatuan tanah, bangsa, dan bahasa?

Kedahsyatan sumpah ini tentu seharusnya melahirkan aksi-aksi yang dahsyat, dalam artian positif. Seperti dahsyatnya Sumpah Palapa yang diikuti aksi-aksi dahsyat Patih Gadjah Mada. Dengan demikain, harusnya tidak akan pernah itu terjadi kerusuhan Ambon, Poso, Dayak, atau pertikaian tanah antara mamak dan kemenakan, tawuran antarsekolah, dan lebih besar lagi represif pemerintah dan aparat kepada rakyatnya sendiri. Kan para pelaku ini semua adalah pemuda (atau setidaknya pernah melewati masa muda), yang sudah mengikatkan diri pada tiga persatuan tadi.

Kalau masih belum jadi pemuda (baca: anak-anak), biarlah tawuran siked, tak mengapalah, hitung-hitung belajar memukul dan lari.

Remaja sudah dianggap pemuda belum, ya? Hehe

Okey, back to the topic.

Aksi dahsyat pemuda memang banyak, tidak dapat kita sangkal. Misalnya saja, sejarah mencatat tumbangnya pengaruh PKI oleh aksi pemuda 66, peringatan dini bobroknya Orde Baru oleh aksi angkatan 78, dan terakhir tentu yang masih segar adalah tumbangnya rezim Orde Baru oleh aksi angkatan 98.

Namun aksi dahsyat ini masih tersaingi dengan aksi-aksi yang tak kalah dahsyat dalam artian negatif. Kerusuhan kerap terjadi, tawuran apa lagi, dan represif rezim berkuasa menjadi bagian dari sejarah bangsa ini. Organisasi pemuda banyak menjadi tempat latihan calon-calon penguasa yang kemudian setelah berkuasa melanjutkan aksi represif kepada rakyat. Rakyat juga tidak kalah berpenyakitnya: budaya konsumtif, maksiat, dan manja!

Tentu akan ada pembelaan: ini bukanlah salah rakyat atau penguasa, namun sistem yang membuat mereka demikian! Jangan khawatir, ini juga tidak salah. Masukkan saja sekalian: penguasa salah, rakyat salah, dan sistem salah. Kalau masih ada kambing hitam lainnya, tambahkan saja ke dalam daftar terdakwa tadi. Hehe

Tapi masak sih, terlalu banyak terdakwa dalam kesalahan ini? Kalau dalam dunia manufaktur, yang namanya akar masalah (root cause) harusnya satu dan itu dapat kita cari dari grafik Pareto. Salah satu sifat akar masalah adalah, jika dia diselesaikan maka berdampak paling signifikan (secara positif) terhadap masalah-masalah lain.

Kira-kira, apa sih akar masalah kepemudaan kita?

Continue reading “Soempah Pemoeda Ketjoa”