Kecoa Jepang Menjajah Tanah Amerika

Majalah online National Geographic melaporkan keberadaan kecoa jenis Periplaneta japonica di taman High Line, New York. Kecoa ini, sesuai namanya, adalah kecoa yang umum terdapat di Jepang. Kecoa ini mirip dengan saudaranya yang umu ditemukan di Amerika, Periplaneta americana, hanya saja ukuran badannya lebih kecil. Periplaneta japonica memiliki daya tahan yang tinggi terhadap cuaca dingin dan bahkan dapat hidup dalam lingkungan es. Kemampuan ini jelas menambah kesaktiannya. Kecoa disinyalir dapat bertahan hidup dalam perang nuklir. Belum diketahui bagaimana Kecoa Jepang ini masuk ke tanah Amerika. Dugaan sementara adalah telur-telur kecoa ini terbawa bersama tanaman impor.

Majalah online National Geographic melaporkan keberadaan kecoa jenis Periplaneta japonica di taman High Line, New York. Kecoa ini, sesuai namanya, adalah kecoa yang umum terdapat di Jepang. Kecoa ini mirip dengan saudaranya yang umu ditemukan di Amerika, Periplaneta americana, hanya saja ukuran badannya lebih kecil. Periplaneta japonica memiliki daya tahan yang tinggi terhadap cuaca dingin dan bahkan dapat hidup dalam lingkungan es. Kemampuan ini jelas menambah kesaktiannya. Kecoa disinyalir dapat bertahan hidup dalam perang nuklir. Belum diketahui bagaimana Kecoa Jepang ini masuk ke tanah Amerika. Dugaan sementara adalah telur-telur kecoa ini terbawa bersama tanaman impor.

Dua jenis kecoa (kiri: kecoa dari timur tengah; kanan: kecoa dari Jepang) baru-baru ini ditemukan di tanah Amerika. (Difoto oleh Entomological Society of America.)

Continue reading “Kecoa Jepang Menjajah Tanah Amerika”

Bom Atom di Hiroshima

Semalam saya menulis kisah tentang kota Hiroshima, Jepang vs. USA di perang Asia-Pasifik, fisi energi, keterlibatan Einstein, dan kisah pedih korban ledakan bom atom di microblog twitter. Tulisan ini memang bukan catatan sejarah, tetapi catatan perjalanan saya dan Ira ke museum perdamaian di Hiroshima pada 1 Desember 2013 yang lalu. Oleh sebab itu saya tidak mengklaim kalau tulisan saya tidak bebas nilai; sadar atau tidak terdapat sejumlah opini pribadi dalam tulisan ini. Tanpa bermaksud memelintir fakta, saya menyadari kemungkinan adanya kekeliruan fakta dalam tulisan ini.

Semalam saya menulis kisah tentang kota Hiroshima, Jepang vs. USA di perang Asia-Pasifik, fisi energi, keterlibatan Einstein, dan kisah pedih korban ledakan bom atom di microblog twitter. Tulisan ini memang bukan catatan sejarah, tetapi catatan perjalanan saya dan Ira ke museum perdamaian di Hiroshima pada 1 Desember 2013 yang lalu. Oleh sebab itu saya tidak mengklaim kalau tulisan saya tidak bebas nilai; sadar atau tidak terdapat sejumlah opini pribadi dalam tulisan ini. Tanpa bermaksud memelintir fakta, saya menyadari kemungkinan adanya kekeliruan fakta dalam tulisan ini.

hiroshima-1before
Hiroshima: sesaat sebelum bom atom meledak.
hiroshima-2after
Hiroshima: sesaat setelah bom atom meledak.

Continue reading “Bom Atom di Hiroshima”

Detektor Sinar Kosmik AMS Diterbangkan ke Luar Angkasa

Berikut adalah terjemahan bebas dari artikel di physicsworld.com.

Sebuah piranti pendeteksi sinar kosmik – dan bahkan mungkin sekaligus melacak kehadiran Dark Matter – telah mengorbit pada wahana Endeavour. Detektor tersebut bernama Alpha Magnetic Spectrometer (AMS), hasil rancangan nobelis fisika Samuel Ting. AMS akan segera diinstal pada stasiun ruang angkasa internasional ISS (International Space Station). Ting merancang AMS pada tahun 90-an, tapi mengalami sejumlah kendala sehingga tertunda, salah satunya karena musibah yang menimpa ruang angkasa Columbia saat masuk ke atmosfer Bumi tahun 2003.

Peluncuran AMS juga menandai akhir dari era eksplorasi ruang angkasa karena ini adalah misi terakhir program wahana ulang-alik NASA – pertama kali adalah misi Columbia pada April 1981. Peluncuran dilakukan dari Kennedy Space Center di Florida disaksikan oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama, yang memimpin perayaan peringatan 30 tahun program wahana ruang angkasa NASA.

Detektor AMS, yang bernilai USD 2 milyar dan dengan berat 7 ton, menggunakan magnet silinder 0,15 Tesla, diameter 1 meter, dan tinggi 1 meter. Magnet ini berfungsi untuk memisahkan partikel-partikel yang datang berdasarkan momentum dan muatan. Arah pembelokan gerak partikel di dalam medan magnet bergantung apakah partikel tersebut materi atau antimateri, sedangkan gradien pembelokkan ditentukan oleh kecepatan partikel tersebut. Dengan demikian, detektor dapat membedakan jenis-jenis partikel yang beraneka ragam dalam sinar kosmik.

Continue reading “Detektor Sinar Kosmik AMS Diterbangkan ke Luar Angkasa”

Terima Kasih CCD-nya, Williard Boyle (1924-2011)

Semalam, dari twitter yang saya akses dari pidgin, IOP memberi kabar bahwa Williard Boyle meninggal dunia dalam usia 86 tahun.

Williard Boyle adalah nobelis fisika tahun 2009. Beliau berbagi penghargaan bergengsi ini dengan fisikawan George Smith, masing-masing mendapat seperempat. Berdua mereka menghasilkan piranti charge-couple device (CCD) yang sekarang sering kita jumpai pada kamera. Setengah hadiah diberikan kepada Charles Kao yang karyanya menjadi piranti paling krusial dalam dunia informasi sekarang, serat optik.

Saya pernah menulis tentang CCD ini, atau disebut juga dengan “mata elektronik” dan berita Nobel Fisika 2009.

(Berikut adalah terjemahan lepas artikel dari IOP tentang biografi singkat Williard Boyle.)

Boyle dan Smith bekerja di Bell Laboratories, New Jersey, saat mereka membuat inovasi CCD pada tahun 1969. Boyle saat itu adalah direktur lab pengembangan (development lab) dan merupakan atasan Smith. Smith sendiri adalah kepala departemen.

Continue reading “Terima Kasih CCD-nya, Williard Boyle (1924-2011)”

Kebijakan Riset di Cina Membuat Tidak Inovatif, Kalau di Kita?

Sambil menunggu akses Internet aktif kembali di kantor, saya membaca majalah Physics World edisi Desember 2010 (Volume 23 No. 12). Seperti biasa, Physics World menghadirkan banyak berita tentang perkembangan riset terkini dengan bahasa popular. Berita utama mereka tentang membaca DNA lebih cepat dengan bantuan lembaran dua dimensi graphene dan tentang apa saja yang kita ketahui bagaimana serangga dapat menempel di mana saja (kaki adesif). Namun bukan itu yang membuat saya termenung.

Ada dua artikel yang menarik perhatian saya, pertama adalah  Ministry defends ‘wasteful’ research, dalam kolom “News & Analysis”. Artikel ini mengulas tentang reaksi pemerintah Cina atas editorial di majalah Science, edisi 3 November 2010, yang melibatkan Yigong Shi dan Yi Rao, dekan fakultas Life Sciences dari Universitas Beijing dan Universitas Peking, berturut-turut. Shi dan Rao menyatakan bahwa riset di negara mereka membuang sumber daya, korupsi semangat, dan masih miskin inovasi. “Masalah-masalah yang merajalela dalam pembiayaan riset – beberapa di antaranya disebabkan oleh sistem dan sejumlah budaya lainnya – telah memperlambat laju potensi inovasi Cina,” tulis mereka . “Sudah menjadi rahasia umum bahwa melakukan riset yang bagus tidaklah sepenting merayu birokrat dan ahli favorit mereka.”

Continue reading “Kebijakan Riset di Cina Membuat Tidak Inovatif, Kalau di Kita?”