Oi, Jangan Lupa Harga Bahan Makanan Naik Terus!

Akhirnya datang juga akhir dari kejuaraan dunia sepak bola itu… Sebuah tontonan yang paling banyak ditonton umat manusia seantero jagad raya.

Kejuaraan dunia sepak bola, atau biasa disebut Piala Dunia (world cup), memang memiliki dampak yang luar biasa pada segala aspek kehidupan manusia. Sebutlah ekonomi, sosial, budaya, komunikasi, teknologi, bahkan politik dan agama! Negara-negara yang tampil di Piala Dunia pasti terangkat harkat dan martabatnya, meskipun mungkin negeri mereka bukan termasuk negara maju. Piala Dunia juga mengindikasikan kondisi dalam negeri mereka: bahwa yang tampil biasanya dari negara yang teratur dan terorganisir.

Saya tidak punya data kuantitatif memang, tapi itu yang saya selidiki (lewat Internet tentunya) seperti Korea utara, Korea Selatan, dan sejumlah negara di Afrika  seperti Ghana dan Nigeria. Pemerintahan mereka, walau mungkin tidak bersih-bersih amat, tapi memiliki program ekonomi dan pendidikan yang jelas.

Jumlah penduduk juga tidak menentukan. Siapa yang mengatakan jumlah penduduk yang besar akan melahirkan pesebakbola yang tangguh? Brazil dan Indonesia dapat dijadikan perbandingan. Begitu juga sebaliknya, Uruguay dan Brunei Darussalam dapat dijadikan perbandingan.

Continue reading “Oi, Jangan Lupa Harga Bahan Makanan Naik Terus!”

Nenek Umi, we never stop loving and admiring you

nenek_umi
Hj. Ariah Sanin, taken from Wayan Lessy’s facebook album (click picture to enlarge).

Our family just lost our beloved grandma, Ariah Sanin. We call her, Nenek Umi (from ummi in Arabic, or ibu in bahasa Indonesia). She died on Wednesday, 2nd June 2010, at 3.55am. It was a peril to us, Ariah Sanin’s great family. I don’t remember exactly her birthday, but I know she was around 90.

It is a tradition in Minangkabau that a mother in her old days lives in her daughter’s place. Nenek Umi had two daughters, my mother in Padang, and Aunt At, my mother’s little sister, who lives in Dumai (Riau). There are three other children of our grandma, Mak Dang (great uncle, the older), Mak Uniang (middle uncle, the fourth), and Mak Uncu ( little uncle, the youngest). My mother is the second. And, we, Rusydi’s family, are lucky since Nenek Umi stayed in our place longer than others.

The long interaction with Nenek Umi had made her so important in our life. She was our guardian, our teacher, our friend, and lately she became our role model. It was she who taught us reading Al Quran (with tajwid) for the first time. She encouraged us, sometime by force, to attend to surau (a traditional muslim school for learning Islam in Minangkabau). She challenged us to memorize Al Quran, often by promising some gifts. She liked to cook and her cook, in our subjective tongues, was the best in the Universe. When she was in the kitchen, she was like a magician, can turn every single thing into a delicious meal. No one who eat her cooks can argue more than that! Apparently her cook’s skill descends to my mother, and hopefully to me 🙂

I heard she joined Indonesian’s army in her youth, made her as veteran and all rights for her special citizen (including pension). She told me once that she was around 10 or 11 when Soempah Pemoeda event. If this memory was correct, she should be born around 1917, or she died at around 93 years old. She witnessed colonist (Nederlander and Japanese) murdered local heroes, jet fighter flied above her land, involved at several combats, and also served meal for local combatant.

After independence day, she was back to her original nature: a farmer. Her parents were farmers, her grandparents were farmers, her great-great-great-great-grandfather (I don’t remember how many “greats” I should use) was one of the founder of the village called Sumanik, some where in Batu Sangkar town, in West Sumatera. It made her had some quite large and wide fields to farm. Every time we go to Sumanik, we love to walk on her sawah, swim and fish in her ponds, play around in her inherited great house with nine room and a rankiang in front (rumah gadang nan sambilan ruang dan rankiang di depannya).

Continue reading “Nenek Umi, we never stop loving and admiring you”

Kilasan Peristiwa Sains 2009

Berikut adalah terjemahan bebas dari berita BBC News – Science news highlights of 2009. Sila dinikmati, atau dikoreksi jika ada terjemahan yang kurang tepat. Buat yang ulang tahun sekarang, anggaplah ini kado dongeng akhir tahun!

* * * * * *

Tahun inilah kita mempelajari proses tabrakan spektakuler di dimensi ruang, dan ilmuwan yang sedang bekerja di bidang eksperimen terbesar di dunia ini puas dengan proses tabrakan tersebut dengan berbagai macam alasan.

Ada gelombang kejut juga di Copenhagen ketika konferensi gagal mencapai kesepakatan atas isu perubahan iklm, pertemuan itu harus terganjal oleh kekuatan-kekuatan utama termasuk Amerika Serikat dan Cina.

Repoter sains BBC Paul Rincon mengulas apa-apa yang telah terjadi tahun ini di dunia sains dan lingkungan.

Continue reading “Kilasan Peristiwa Sains 2009”

Kesaktian Kecoa

Artikel ini saya tulis karena keheranan saya dengan makhluk ini. Susah dibunuh, mati satu tumbuh seribu. Bahkan ada orang yang mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari makhluk ini supaya dapat membasminya – pernah dulu disiarkan di Discovery Channel, saya lupa nama pakar ini. Yang jelas, si pakar mengakui bahwa pengetahuannya tentang makhluk ini yang dia dapat puluhan tahun tidak mampu benar-benar membasmi mereka. Mereka mungkin mati sekarang dalam jumlah ratusan dalam sebuah restoran, tapi yakinlah, mereka pasti akan kembali.

Ya, saya bicara tentang KECOA. Anda tahukan, makhluk apa ini? Kalau belum tahu, lihat gambar sebelah ini atau temukan berbagai macam dan pose kecoa di google!

Continue reading “Kesaktian Kecoa”

Nobel Fisika 2009

nobel_fisika_2009
Serat optik telah menjadi saluran utama komunikasi modern kita. Informasi dapat dikirim dan diterima dalam sekejap mata.

Telah diumumkan, ya… telah diumumkan. Setengah penghargaan paling bergengsi di sains ini diberikan kepada Charles Kuen Kao (Cina dan Inggris, kiri) dan setengahnya lagi dibagi dua antara Williard Sterling Boyle (Amerika Serikat, tengah) dan George Elwood Smith (Amerika Serikat, kanan). (Biografi singkat ketika Nobelis ini terlampir di akhir artikel)

Ketiga ilmuwan tersebut berperan sangat penting dalam perkembangan teknologi informasi modern.

Kao misalnya, membuat prediksi 40 tahun yang lalu bahwa serat optik mampu mengantarkan informasi dengan sangat cepat, nyaris mendekati kecepatan cahaya (kecepatan paling cepat sejagad raya). Komunikasi yang sangat cepat yang kita nikmati sekarang adalah akibat dari aplikasi serat optik. Gempa yang terjadi di Padang 30 September 2009 silam dapat langsung diketahui orang di seluruh dunia pada saat itu juga karena teknologi serat optik ini.

Continue reading “Nobel Fisika 2009”